Arsip Blog

Jumat, 12 Desember 2008

Syi’ah Menurut Pandangan Ahlussunnah



Jika kita kecualikan sebagian ulama Ahlussunnah yang moderat yang belaku jujur dalam penulisannya tentang Syi’ah lantaran keterikatan mereka dengan akhlak Islam, maka kebanyakan selain mereka ini, baik dimasa dulu atau dimasa sekarang mereka tetap selalu menulis tentang Syi’ah dengan pola pikiran Umawiyin si pendengki itu. Anda dapat melihat di setiap lembah mereka di setiap lembah mereka tersesat pandangan, mengucapkan apa-apa yang tidak mereka pahami, mencaci dan mencela serta mengeluarkan kata-kata dusta dan tuduhan terhadap Syi’ah Ahlulbait yang mana mereka itu bersih dari segala tuduhan tersebut, dan mengkafirkan dan menghinanya dengan bermacam-macam julukan, dengan membebek pada pendahulu mereka yang dianggap saleh, yakni Muawiyah dan kawan-kawannya yang telah menguasai kekhalifahan Islam dengan kekuatan dan penindasan, dengan tipu daya dan kelicikan, dengan pengkhianatan dan kemunafikan.

Di satu saat mereka menulis bahwa Syi’ah itu adalah firqah yang dibina oleh Abdullah bin Saba’ si Yahudi, dan di saat lain mereka menulis bahwa Syi’ah itu dari aliran Majusi dan mereka itu adalah para pembangkang yang telah dihinakan Allah, mereka adalah golongan orang yang paling membahayakan terhadap Islam dari pada Yahudi dan Nashrani. Dan di buku lain, mereka menulis bahwa Syi’ah itu adalah orang-orang munafik karena mereka melakukan taqiyah dan mereka orang-orang yang membolehkan nikah mahram dan menghalalkan mut’ah padahal itu adalah zina. Sebagian lagi menulis bahwa mereka mempunyai Al-Qur’an yang lain dari Al-Qur’an kita dan mereka menyembah ‘Ali dan para imam dari anak keturunannya dan membenci Muhammad dan Jibril dan... dan... dan...

Tidaklah berlalu satu masa kecuali muncul pada kita suatu kitab atau kumpulan kitab-kitab dari para ulama semacam itu yang mendakwahkan diri Ahlussunnah wal Jama’ah, dan semuanya mengkafirkan dan menghina terhadap Syi’ah. Merka tidak mempunyai motif dan tujuan selaian hanyalah untuk menyenangkan tokoh-tokoh mereka yang memiliki kepentingan menghancurkan umat dan memecah belah kemudian bertindak untuk menindasnya. Sebagaimana dalam penulisannya, mereka tidak mempunyai hujah dan dalil selain kefanatikan buta dankedengian dan kejahilan tercela serta taqlid terhadap para pendahulu tanpa penelitian, pembahsan dan keterangan. Mereka itu bagaikan burung beo, meniru apa saja yang mereka dengar dan mencatat yang telah ditulis oleh golongan Nawashib (yakni kelompok musuh Ahlulbait) yang merupakan ekor Umawiyin, dan orang-orang yang hidup dengan mengagungkan dan memuliakan Yazid dan Muawiyah. Maka kita tidak perlu heran terhadap mereka itu, yakni para pengagung Yazid bin Muawiyah jika mereka mencaci dan mengkafirkan musuh Yazid itu.

Dan bila mendahului mereka yang saleh yakni Yazid dan Muawiyah melimpahkan emas dan perak kepada para pengikutnya dan pencintanya, dan membeli jiwa mereka dengannya di masa yang telah lalu, maka milyaaaaran dolar, istana-istana besar di London dan Paris dan yang dipenuhi dengan karunia harta yang menarik dari barang-barang yang bagus bentuknya dan khamar, sungguh telah mampu membeli jiwa, agama, dan negeri mereka di masa sekarang ini.

Seandainya mereka itu benar-benar mengikuti sunah Nabi saww, sebagaimana yang mereka dakwahkan niscaya mereka mau memperhatikan akhlak beliau saww yang mulia, dan penghormatan terhadap orang lain betapa pun berbeda akidah. Bukankah sunah Nabi saww telah menyatakan, “Seorang Muslim terhadap Muslim yang lainnya bagaikan badan yang satu, bila satu bagian anggota badan sakit maka seluruh badan merasakan penderitaannya.”

Bukankah Nabi saww telah menjelaskan bahwa, “Cacian terhadap orang-orang Muslim adalah kefasikan dan pembunuhannya adalah kefakiran?.” Seandainya para penulsi itu, yang mendakwahkan diri bahwa merek dari golongan Ahlussunnah wal Jama’ah benar-benar mengetahui sunah Nabi saww, niscaya tidak akan mereka memperkenankan diri mereka untuk mengkafirkan orang yang telah bersyahadat, “Tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah Swt, dan yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan da berhajji ke Baitullah al-Harram, serta menganjurkan yang makruf dan mencegah yang mungkar.” Dikarenakan mereka itu adalah pengikut sunah Umayah, dan Quraisy maka mereka berbicara dan menulis dengan akal jahiliyah dan pemikiran kesukuan, serta permusuhan yang telah berakar. Maka segala sesuatu datang dari asalnya,tak perlu diherankan dansetiap wadah sesuai dengan isinya.

Bukankah Rasulullah saww, telah bersabda, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an al-Karim:

teks arab

Katakanlah wahai ahli kitab,marilah menuju kepada kata sepakat antara kami dan kalian.... (QS. Ali ‘Imran:64)

Jika mereka Ahlussunnah yang sesungguhnya, hendaklah menyeru saudara-saudaranya dari Syi’ah menuju kata sepakat antara mereka. Kalau Islam telah menyeru musuh-musuhnya dari Yahudi dan Nashrani menuju kata sepakat untuk saling memahami dan menjalin persaudaraan, bagaimana terhadap orang-orang yang menyembah Tuhan yang satu, Nabinya satu, kitabnya satu, Qiblatnya satu dan tempat kembalinya pun satu... Mengapa ulama Ahlussunnah tidak mau menyeru saudara mereka dari ulama Syi’ah dan tidak mau duduk bersama mereka untuk mengadakan penelitian dan mendebat mereka dengan jalan yang sebaik-baiknya serta memperbaiki akidah mereka, jika memang rusak seperti yang telah mereka dakwahkan...

Mengapa mereka tidak mau menyelenggarakan satu muktamar Islam yang mengumpulkan ulama kedua kelompok, di mana seluruh permasalahan khilafiah dapat dikemukakan dan dapat didengar dan disaksikan oleh seluruh kaum Muslimin, sehingga mereka dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang palsu serta dusta. Terutama Ahlussunnah wal Jama’ah yang merupakan tiga perempat bagian dari seluruh umat Islam di dunia, dan bagi mereka kemampuan secara materi dan pengaturan yang berada di tangan para pemegang pemerintahan, yang mana hal itu mamudahkan bagi mereka, karena mereka memiliki hasil perindustrian.

Karena Ahlussunnah wal Jama’ah selamanya tidak mau melakukan hal serupa itu, dan tidak mau berhadapan secara ilmiah, sebagaimana yang telah diserukan oleh kitab allah dalam firmannya, “Katakanlah, tunjukkan bukti kalian jika kalian orang-orang yang bena.” (QS. al Baqarah:111) Dan firmannya, “Katakanlah, adalah kalian memiliki ilmu , lalu kalian tunjukkan pada kami, sungguh kalian tidaklah mengikuti selain hanyalah perkiraaan dan kalian hanyalah berdusta.” (QS. al-An’am: 148)

Oleh sebab itu, Anda lihat mereka selamanya hanyalah bersandar padacacian, celaan, pengkafiran, pendustaan dan pemalsuan, padahal mereka mengetahui bahwa hujah dan dalil berada pada lawan mereka yakni Syi’ah. Saya yakin bahwa mereka itu mengkhawatirkan kebanyakan kaum Muslimin akan menjadi Syi’ah bila kebenaran itu terungkapkan, sebagimana yang telah terjadi di kalangan sebagian ulama al-Azhar di Mesir yang telah berkenan untuk mengadakan penelitian terhadap kebenaran, lalu mereka menyadari dan mengetahuinya, kemudian mereka membuang apa yang ada pada mereka dari akidah para pendahulu yang saleh.

Kiranya para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah telah menyadri bahwa itu, yang akan dapat mengancam mereka dengan kemusnahan. Ketika mereka sadar akan akibat tersebut, maka dibuatlah ketetapan sesama mereka agar melarang para pengikut mereka dan orang-orang yang bertaqlid pada mereka dari duduk bersama orang-orang Syi’ah atau berdiskusi dengan mereka atau mengadakan ikatan pernikahan dengan mereka atau memakan sembelihan mereka. Dari itu dapat dipahami kedudukan mereka yang sebenarnya, yakni bahwa mereka itu sangat jauh dari sunah Nabi Saww, dan lebih dekat dengan sunah Bani Umayah yang telah berusaha dengan gigih untuk menghancurkan umat Muhammad saww dengan tebusan yang sangat berharga sekalipun. Sebab hari mereka tidak pernah merasa takut mengingat Allah dan tidak pula terhadap kebenaran yang telah diturunkan, mereka telah masuk Islam tetapi mereka tidak menyukainya.

Dan inilah yang telah dinyatakan oleh pemimpin mereka yakni Muawiyah, yang telah membunuh para sahabat pilihan demi memperoleh kekuasaan, dia telah berkata di awal pemerintahannya, “Aku tidak membunuh kalian lantaran kalian mengerjakan shalat, berpuasa, dan menunaikan hajji. Aku membunuh kalian hanyalah agar aku dapat memerintah kalian, dan sungguh Allah telah mengabulkan aku sedang kalian tidak menyukai.”

Sungguh benarlah firman Allah yang menyatakan, “Sesungguhnya para raja itu apabila memasuki suatu negeri maka mereka membuat kerusakan padanya, dan menjadikan pemuka pendudukan terhinakan, demikian yang mereka perbuat.”(QS. an-Naml:34)

Tidak ada komentar: