Arsip Blog

Kamis, 11 Desember 2008

Fenomena Sufisme di Tengah Masyarakat Posmodern: Sebuah Tantangan Bagi Wacana Spiritualitas







Salah satu fenomena menarik yang mewarnai perkembangan masyarakat kontemporer ---khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta--- adalah marak tumbuhnya berbagai bentuk wacana spiritual berupa kelas-kelas pengikut tasawuf. atau .sufi.. Kelas-kelas ini ---yang dominan diikuti masyarakat golongan menengah atas, dengan bayaran cukup tinggi--- menawarkan berbagai bentuk dan metode .pencerahan jiwa., di tengah-tengah deru kehidupan perkotaan, yang sarat dengan berbagai patologi kejiwaan.

Kehadiran kelas-kelas sufi ini merupakan sesuatu yang menjanjikan. sekaligus .mengkhawatirkan., bila dikaitkan dengan keberadaannya dalam lingkungan masyarakat ---seperti metropolitan Jakarta--- yang kian dipengaruhi kuat oleh .budaya posmodern. (postmodern culture). Kekhawatiran itu muncul, disebabkan budaya posmodern sering dituduh sebagai budaya yang sarat paradoks dan kontradiksi diri (self contradiction), yang dapat menggiring pada .paradoks sufisme. itu sendiri. Di satu pihak, wacana sufisme dapat menjadi semacam penjaga gawang .kesucian jiwa. di tengah masyarakat yang disarati gejolak pelepasan hasrat tak berbatas (unlimited desire); di pihak lain, sufisme sendiri dikhawatirkan dapat terperangkap dalam mekanisme mesin-mesin hasrat. masyarakat posmodern, bila rayuannya tidak dapat dibendung. Memperbincangkan sufisme dalam kancah masyarakat posmodern pada dasarnya memperbincangkan dua arah .perjalanan spiritual yang bertentangan satu sama lain. Perbedaan arah .spiritual. tersebut, disebabkan perbedaan mendasar antara sufisme dan posmodernisme dalam melihat peranan .hasrat. dalam masyarakat. Hakikat sufisme adalah pengendalian hasrat.; sebaliknya hakikat posmodernisme adalah pembebasan hasrat (desiring liberation). Yang satu mengekang .hasrat., yang lain membebaskannya; yang satu membentengi .libido., yang lain melepaskannya; yang satu mengutamakan .perenungan., yang lain merayakan .kepanikan. (hysteria); yang satu menjunjung tinggi kedalaman, yang lain memuja permukaan. (surface); yang satu mengutamakan kesederhanaan, yang lain memuja .ekstremitas. (hyper); yang satu menjauhkan diri dari materi, yang lain memuja pemilikan materi (consumerism).

Membicarakan sufisme dalam masyarakat posmodern layaknya membicarakan sebuah .cahaya. di tengah lorong gelap kehidupan hasrat manusia; sebuah .mutiara. di tengah padang tandus imoralitas; sebuah .senyuman. di tengah hiruk-pikuk ketidakacuhan, individualisme, dan hedonisme yang melanda masyarakat posmodern. Keberadaan sufisme di tengah masyarakat posmodern, dengan demikian, meninggalkan berbagai pertanyaan untuk dijawab: masih adakah tempat bagi kezuhudan, kefakiran, serta kesederhanaan di tengah-tengah zaman yang disarati hutan rimba materialisme, pelepasan hasrat, kelimpahruahan, dan ekstremitas? Masih tersisakah ruang untuk merenung dan melakukan kontemplasi di tengah-tengah .dunia yang berlari. dengan kecepatan tinggi? Masih adakah tempat bagi spiritualitas di tengah-tengah dunia yang sangat bergantung pada materi (teknologi, fungsi, citra)? Dapatkah sufisme menjadi motor pencerahan dalam zaman yang disarati ketidakacuhan, pengingkaran, dan patologi sosial? Dapatkah sufisme memancarkan cahaya-nya dalam era yang apapun boleh dilakukan, dipertontonkan, diumbar ---anything goes!

Sufisme: Wacana Pengendalian Mesin Hasrat

Meskipun banyak konsep yang membangun sufisme, akan tetapi bila dikaitkan dengan keberadaannya dalam masyarakat posmodern, maka konsep hasrat (hawa) merupakan konsep yang sentral, yang berkaitan dengan konsep desire dalam wacana posmodernisme. Baik dalam tradisi sufisme maupun dalam wacana posmodernisme, .hasrat. dianggap sebagai .penggerak. utama kehidupan manusia (sosial, kultural, spiritual), yang menentukan .realitas sosial.. Akan tetapi, ada perbedaan sikap yang sangat mendasar soal kedudukan hasrat ---dan realitas sosial yang dibentuknya--- antara tradisi sufisme dan wacana posmodernisme.

Para sufi dengan tegas menganggap bahwa hakikat .Realitas. bersifat spiritual, karena segala sesuatu berasal dari Tuhan, yang berwujud spiritual.(1)Artinya, .realitas. merupakan perwujudan .hasrat lebih tinggi., yang diarahkan kepada sifat-sifat ketuhanan. Sebaliknya, realitas yang terbentuk sebagai perwujudan .hasrat-hasrat rendah. (nafs), dianggap sebagai .ilusi. atau realitas palsu.

Meskipun istilah .nafs. mempunyai banyak makna ---esensi, jiwa yang menghidupkan, psikis, ruh, pikiran, kehidupan, hasrat, akan tetapi dalam terminologi sufi, istilah nafs secara implisit merujuk pada al-nafs al-amara, yaitu .jiwa rendah. yang dikendalikan sifat-sifat jahat.(2) Dalam hal ini, perwujudan nafs yang paling rendah adalah pada dunia materi. Ketika seseorang dikuasai nafs-nya, maka kehidupannya akan dikuasai oleh sifat-sifat alam materi tersebut. Kehidupannya akan terpusat pada dunia benda, dengan segala irama perubahan dan pergantiannya, serta dengan segala sistem yang membentuknya (system of objects).

Kecenderungan nafs adalah memaksakan hasrat-hasratnya dalam upaya pemuasan diri sendiri, meskipun kepuasan tersebut tak akan pernah terpenuhi.(3) Salah satu alasan mengapa hasrat tak pernah terpuaskan dan selalu mencari pelepasan-pelepasan baru, adalah disebabkan ia ingin selalu dipuja. Hasrat selalu menggiring manusia ke dalam apa yang dikatakan dalam terminologi psikoanalisis sebagai .the culture of narcissism. ---manusia yang selalu mencari ketenaran, popularitas, publisitas dirinya sendiri. Kaum sufi, sebaliknya, tidak mencari-cari ketenaran tersebut. Mereka .menyembunyikan diri dalam jubah kerendah-hatian untuk mencapai kemuliaan. Mereka tidak ingin dimuliakan atau dikenal..(4)

Nafs merupakan sumber dari segala tindakan jahat dan tercela; sumber dari pelanggaran etika. Berbagai bentuk kejahatan berkembang, ketika nafs mengikuti semua hasrat-hasratnya tanpa dapat dihalangi apapun: hukum, etika, adat, atau agama. Nafs justru menginginkan semua yang dilarang tersebut. Di sinilah letak sifat amoral dari nafs. Nafs tanpa henti-hentinya mendorong pemuasan nafsunya, melebihi batas yang diperbolehkan. Akan tetapi, karena tidak pernah terpuaskan dan cepat merasa bosan, ia selalu berpindah dari satu kepuasan ke kepuasan lainnya tanpa akhir. Ia menjadi sebuah mesin hasrat (desiring machine) yang secara terus-menerus mencari .obyek kepuasan. (desiring objects) yang baru.(5) Keinginan nafs untuk selalu mencari saluran-saluran hasrat yang tak berhingga, dalam wacana kapitalisme justru disalurkan lewat mekanisme .kebosanan terencana. (planned obsolescence).

Di samping bersifat amoral, nafs juga bersifat .anti sosial., oleh karena dalam rangka memuaskan dorongan hasratnya, nafs mengabaikan semua aturan dan kebiasaan sosial. Sifat anti-sosial inilah yang mendorong hasrat untuk mencari fantasi-fantasi pemenuhan hasrat yang menyimpang dari norma sosial, atau dalam terminologi psikoanalisis disebut sebagai kecenderungan ke arah .abnormalitas. (abnormality). Ia ingin selalu .melampaui. normalitas.

Dilihat dari kacamata spiritualitas, maka jelas, hasrat menjadi penghalang perkembangan jalan thariqat dan proses kesempurnaan nafs. Jalan spiritualitas ini akan makin tertutup, bila hasrat dibiarkan berkembang ke arah titik ekstrem ---sebuah titik di mana dorongan hasrat melebihi batas-batas yang dibolehkan, yang mendorong tindakan-tindakan buruk. Sebagaimana yang akan dijelaskan, justru sifat-sifat esktrem inilah ---hypes, extreme, obesity, promiscuity--- yang jadi ciri khas masyarakat posmodern.

Meskipun cenderung membawa sifat-sifat rendah, namun dalam terminologi sufisme, hasrat rendah nafs tersebut bukan untuk dilenyapkan. Ia hanya perlu .dikendalikan., .dimurnikan. atau .dibersihkan. dari sifat rendah materi, sehingga mencapai tingkat nafs yang lebih tinggi, yaitu .nafs yang tenang. (an-nafs al-muthma.innah), yang dapat membawa hasrat menjauh dari kesenangan materi dan hewani, menuju kedekatan dengan tempat Yang Maha Kuasa.(6) Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa inti ajaran-ajaran sufisme adalah pengendalian mesin-mesin hasrat yang memproduksi berbagai bentuk hasrat tak terbatas pada diri setiap orang yang dikuasainya. Akan tetapi, sebagaimana yang dapat dijelaskan nanti, apa yang ingin .dikendalikan. oleh wacana sufisme, justru itulah yang ingin .dibebaskan. oleh wacana posmodernisme. Posmodernisme merupakan sebuah wacana .pembebasan hasrat. dari berbagai belenggu, benteng, atau tembok tinggi yang selama ini menghalangi, termasuk .belenggu. Tuhan ---the liberation of desire.

Posmodernisme Sebagai Wacana Pembebasan Mesin Hasrat

Posmodernisme adalah sebuah wacana, yang di dalamnya diciptakan ruang-ruang bagi .pembebasan hasrat. manusia dari berbagai katupnya: pembebasan energi .libido seksual. dari kungkungan Freud; pembebasan energi .kehendak berkuasa. dari kungkungan Marx; pembebasan tanda dari kungkungan semiotika Saussure; pembebasan energi .kedangkalan. dari kungkungan Modernisme; pembebasan tubuh dari kungkungan moralitas.

Posmodernisme merupakan sebuah wacana yang di dalamnya terbentuk .saluran bebas hasrat., di mana berbagai bentuk hasrat dengan bebas menemukan kanal-kanal pelepasannya: lewat kanal ekonomi, yang menciptkan .ekonomi libido. (libidonomics); lewat kanal politik, yang menciptakan .politik hasrat.; lewat kanal komunikasi, yang menciptakan .ekstasi komunikasi.; lewat kanal media, yang menciptakan .ketelanjangan media..

Posmodernisme adalah sebuah wacana yang digerakkan berbagai bentuk hasrat. Dalam Lacan, Discourse and Social Change, Jacques Lacan mengemukakan bahwa hasrat merupakan sebuah mekanisme utama pengubah sosial, sebuah mekanisme utama penggerak kebudayaan, yang energi utamanya adalah .libido.. Hasratlah yang membuat sebuah kebudayaan tak pernah diam, yang membuat setiap orang merasa tak puas dengan apa yang telah dimiliki, yang mendorong orang untuk mencari hal-hal baru. Oleh sebab itu, hasrat dapat bersifat positif (membangun) maupun negatif (merusak). Meskipun bentuk-bentuk hasrat sangat kompleks, berdasarkan pandangan Lacan, setidak-tidaknya ada dua bentuk utama hasrat, yang juga beroperasi dalam masyarakat posmodern. Pertama, hasrat .menjadi. (to be), yaitu hasrat menjadi obyek cinta ---kekaguman, idealisasi, pemujaan, penghargaan--- .sang lain. (the others).(7) Orang merasa menjadi obyek cinta sang lain (penonton, fans, rakyat), oleh sebab itu ia akan bertingkah-laku dan menciptakan citra (image) dirinya sedemikian rupa agar ia tetap dicintai ---narcissistic desire. Inilah, misalnya, orang-orang yang memperlihatkan eksistensi dirinya lewat tanda-tanda dan gaya hidup: mobil mewah, rumah megah, fashion eksklusif, parfum mahal, dsb.

Kedua, .hasrat memiliki. (to have), yaitu hasrat memiliki sang lain (materi, benda, orang, kekuasaan, posisi) sebagai sebuah cara untuk memenuhi kepuasan diri ---anaclictic desire. .Hasrat memiliki. merupakan fondasi masyarakat posmodern, yang dilembagakan lewat sistem kapitalisme global. Di dalamnya, orang dikonstruksi secara sosial untuk .mengingingkan. iringan-iringan benda yang sebetulnya secara hakiki tidak mereka butuhkan. Di sini kapitalisme global merubah .keinginan. (want) menjadi .kebutuhan. (need). Artinya, kebutuhan tersebut .diciptakan.. Kapitalisme tidak hanya memproduksi barang-barang, tapi juga .memproduksi kebutuhan. dan dorongan .hasrat. di baliknya, untuk keberlanjutan produksi ---inilah wacana libidonomics.

Dilema hasrat adalah, bahwa ia dapat menggerakkan kebudayaan menuju kondisi yang lebih baik (positive desire) ---kemajuan, kesejahteraan, kenyamanan, akan tetapi dapat juga menuju kondisi yang lebih buruk dan merusak (negative desire) ---kerakusan, hedonisme, ketidakpedulian. Dalam masyarakat posmodern, kedua energi hasrat ini ---energi negatif maupun positif--- diberi ruang yang sama untuk hidup. Sehingga, berbagai dualisme konsep hasrat di dalamnya (negatif/positif, baik/buruk, moral/amoral) yang selama ini dipertentangkan, kini dibuat .mengambang., setelah berbagai batasnya didekonstruksi atau dicairkan. Ketiadaan batas yang jelas inilah yang menyebabkan wacana posmodern penuh dengan perangkap-perangkap ketidakpastian (indeterminasi), ketidakjelasan, dan kemenduaan hasrat ---paradoks hasrat--- yang semuanya jadi tantangan besar bagi wacana sufisme.

Sufisme dan Tantangan Skizofrenia

Salah satu tantangan sufisme dalam masyarakat posmodern adalah .skizofrenia. (schizophrenia). .Skizofrenia. merupakan terminologi khas psikoanalisis, yang di dalam wacana posmodernisme ---khususnya oleh Deleuze, Guattari, Lacan, dan Jameson--- digunakan untuk menjelaskan fenomena sosial dan kebudayaan yang lebih luas, khususnya fenomena pembebasan hasrat dari berbagai aturan, kekangan, dan batasannya, serta pembebasan tanda (signifier) dari berbagai kode-kode semiotik yang mapan.

Gilles Deleuze & Felix Guattari, dalam Anti Oedipus: Capitalism and Schizophrenia, menggunakan istilah .skizofrenia. bukan dalam pengertian .penyakit jiwa. ---sebagaimana dijelaskan Freud. Tapi sebagai sebuah gerakan pembebasan diri dari berbagai aturan keluarga, masyarakat, negara, bahkan agama (Oedipus complex, tabu, mitos, adab, adat, aturan), dalam rangka mengakui dan melepaskan segala sesuatu yang bersifat non-human pada diri manusia: keinginan dan kekuatannya, transformasi dan mutasinya, dalam . pembebasan, multiplisitas hasrat dari perangkap Oedipus..(8) Pembebasan hasrat dari berbagai kekangan merupakan satu bentuk revolusi posmodernisme, yaitu .revolusi hasrat. (desiring revolution). Sebagaimana dikatakan Felix Guattari, .revolusi hasrat. berarti .... Menghancurkan segala bentuk penekanan dan setiap model normalitas (normality). yang ada dalam masyarakat..(9) Juga, .. Melawan penindasan Oedipus dan efek-efek kekuasaannya, dengan menggalang sebuah politik hasrat radikal, yang dibebaskan dari segala bentuk sistem kepercayaan (beliefs)..(10) Politik hasrat mencairkan setiap bentuk mistifikasi kekuasaan dengan cara menggalang kekuatan-kekuatan anti kemapanan, dengan membiarkan mengalir secara bebas .aliran hasrat. ke segala arah, dan dengan menghancurkan kode-kode sosial yang merintangi. Revolusi hasrat telah menggiring dan mengarahkan manusia posmodern menuju tiga posisi psikis: orphans (tidak dibatasi aturan keluarga atau sosial), atheis (tidak dikendalikan kepercayaan), and nomads (tidak pernah berada pada keyakinan atau teritorial yang sama).(11)

Posmodernisme melihat pembebasan hasrat sebagai sesuatu yang tak perlu ditakutkan. Ketakutan lembaga-lembaga sosial (negara, agama) akan pembebasan hasrat, menurut Guattari, semata disebabkan mereka melihat hasrat hanya sebagai sesuatu yang berbahaya, destruktif, atau anarkis.(12) Padahal, menurutnya lagi, hasrat tidak selalu bersifat demikian . . (H)asrat, sekali dibebaskan dari kendali otoritas, dapat dipandang sebagai sesuatu yang lebih nyata dan realistis, menjadi pengatur dan pembangun yang lebih baik. Ilmu pengetahuan, inovasi, kreasi ---semuanya ini berkembang biak dari hasrat...(13) Hasratlah yang memungkinkan ditemukannya pesawat terbang, telepon, mobil, komputer, dan internet!

Apa yang kemudian dijunjung tinggi oleh skizofrenia dan masyarakat posmodern ---adalah .kecairan. (fluidity) hasrat, yaitu kebebasannya mengalir ke segala arah tanpa kendali. Hasrat mengalir dari satu kode sosial ke kode lainnya, .. Ia mengaduk-aduk semua kode, dengan cara beralih secara cepat dari satu kode ke kode lainnya. (Ia) tidak pernah memberikan penjelasan yang sama dari hari ke hari...(14) Dengan demikian, apa yang dirayakan skizofrenia dan masyarakat posmodern bukanlah kedalaman dan intensitas psikis dari apa yang dicapainya, tapi .produktivitas hasrat., berupa .rasa mengalir terus-menerus dan bebas., sesuai dengan dorongan energinya. Dalam ruang masyarakat posmodern, narasi kehidupan manusia diarahkan untuk .mengalir. dari satu bentuk pelepasan hasrat ke bentuk pelepasan hasrat berikutnya, dari satu kegairahan ke kegairahan berikutnya, dari satu kepuasan ke kepuasan berikutnya, dari satu citra ke citra berikutnya, tanpa henti (ini-itu-ini-itu-ini..).(15) .Rasa mengalir. ini tentunya sangat bertentangan arah dengan wacana sufisme, yang di dalamnya, narasi historis kehidupan manusia diarahkan menuju .pengendalian. dan .penyucian. hasrat, dari hasrat rendah menuju hasrat yang lebih tinggi, yang akhirnya bermuara pada hasrat yang bersifat ilahiah (an-nafs al-muthma.innah). Masyarakat posmodern, bahkan, menjadikan hasrat sebagai satu-satunya mesin penggerak sosial, yang menentukan arah perkembangan sosial, yang .. Produksi sosial adalah semata produksi hasrat itu sendiri.. Masyarakat posmodern memuati setiap aspek kehidupan sosialnya dengan investasi hasrat, tanpa memerlukan mediasi lain (aturan adat, aturan negara, aturan agama), dalam rangka menginvasi dan menginvestasi kekuatan produksi dan relasi produksi dalam masyarakat kapitalisme lanjut (late capitalism). Dalam terminologi skizofrenia, .. Hanya ada hasrat dan sosial, tidak ada yang lainnya..(16)

Kecenderungan untuk mengalirnya hasrat tanpa interupsi, telah menceburkan masyarakat posmodern ke dalam apa yang disebut Deleuze & Guattari sebagai medan .deteritorialisasi. (deteritorialization), yaitu medan kehidupan sosial, yang di dalamnya seseorang tak pernah berhenti pada sebuah kedudukan (sosial, spiritual, politik) yang tetap dan konsisten.(17) Konsep .deteritorialisasi. ini, dalam terminologi sufi dapat dianalogikan sebagai kehidupan yang tanpa kedudukan atau maqam yang tetap dan mengarah. Hidup .mengalir. mengikuti energinya sendiri. Hidup dikondisikan dalam keadaan .keseketikaan. dan .kesesaatan. (temporality) yang terus-menerus, tanpa ada konsistensi menuju pada sebuah tujuan yang pasti, misalnya maqam Tuhan.

Pada masyarakat posmodern, hidup dan hasrat dibiarkan mengalir secara bebas pada .permukaan. (immanent), tanpa terlalu peduli dengan fondasi-fondasi yang bersifat transenden atau ketuhanan. Masyarakat posmodern, dengan demikian bersifat afirmatif (affirmative) dan .inklusif. (inclusive) ---ia tidak menolak, membatasi, atau melarang apapun (termasuk agama atau sufisme), selama semuanya dapat dimanfaatkan nilai kulit permukannya dalam permainan citra dan komoditi masyarakat kapitalisme lanjut. Dengan kecenderungan hasrat yang mengalir di dalamnya tanpa interupsi dan dengan sifat temporalitas, maka salah satu ciri lain masyarakat posmodern adalah pada terjadinya kematian .identitas. (identity). Skizofrenia menerima segala bentuk identitas, meskipun bertentangan satu-sama lain. Mereka ingin melihat diri mereka .. Sebagai makhluk dengan beragam identitas, yang dapat mengekspresikan hasrat, kesenangan, ekstasi, dan kehalusan perasaan mereka, tanpa bergantung pada sistem added value mana pun, sistem kekuasaan mana pun, kecuali hanya dalam semangat bermain (play)..(18) Tidak jadi persoalan bagi skizofrenia, misalnya, diam dalam kezuhudan di satu waktu, dan hanyut dalam ekstasi gaya hidup di waktu yang lain. Masyarakat posmodern tidak melihat kedua hal yang kontradiktif tersebut sebagai sesuatu yang perlu dipertentangkan. Ia melihat kontradiksi dengan pandangan acuh-tak acuh ---the cultural contradiction of posmodernism.

Sufisme dan Tantangan Hipermoralitas

Pembicaraan mengenai hasrat tentu tidak dapat dipisahkan dari pembicaraan soal moralitas. Masyarakat posmodern sendiri melandasi asumsi-asumsi moralnya secara filosofis dari tradisi Nietzsche. Dalam berbagai karyanya, Nietzsche melakukan semacam .redefinisi moralitas., yaitu membongkar kategori-kategori baik/buruk, benar/salah, untuk kemudian membiarkan terjadinya perpindahan (transmutation) di antara keduanya. Dalam wacana posmodernisme, konsepsi Nietzsche tentang .genealogi moral. dibawa ke dalam konteks yang baru, berupa penciptaan semacam wacana .permainan di antara amoralitas. ---sebuah permainan yang dimungkinkan lewat pembongkaran kategori-kategori moral. George Bataille, dalam Literature and Evil, menyebut permainan moral tersebut sebagai hiper-moralitas (hyper-morality) ---suatu kondisi di mana ukuran-ukuran moralitas yang ada tidak dapat dipegang lagi, oleh karena situasi yang berkembang telah melampaui batas-batas benar/salah, baik/buruk, berguna/tak berguna.(19) Hipermoralitas merupakan wacana .moralitas. yang mengambangkan semua kategori dan batas-batas moral yang ada. Batas-batas tersebut ditarik kesana-kemari, sehingga menciptakan berbagai keadaan tumpang tindih dan kontradiksi-kontradiksi. Sebagaimana yang dikemukakan Baudrillard dalam Baudrillard Live, .Anda bermain-main dengan amoralitas itu sendiri: anda tidak membuang moralitas ---anda memakainya, akan tetapi dengan cara-cara yang menyimpang..(20)

Salah satu bentuk permainan moral masyarakat posmodern, sebagaimana yang tersirat dari pemikiran Baudrillard, adalah dengan cara menarik setiap wacana ke arah .titik ekstrem. (extreme) atau ke arah .keadaan yang melampaui. (hyper): bentuk-bentuk seksual berkembang ke arah yang melampui batas-batas seks itu sendiri (hypersexuality); komoditi berkembang ke arah yang melampaui batas-batas komoditi (hypercommodity); kekerasan berkembang ke arah yang melampui batas-batas kekerasan (hyperviolence); kejahatan berkembang ke arah yang melampaui batas-batas kejahatan (hypercriminality).(21)

Kecenderungan berkembangnya berbagai wacana menuju titik ekstrem, tak lain sebagai akibat terperangkapnya wacana-wacana tersebut dalam gejolak hasrat total (total desir/) masyarakat posmodern. Di dalamnya, logika sosial-ekonomi telah bergeser dari logika kebutuhan (logic of need) ke arah logika hasrat (logic of desire). Artinya, wacana sosial-ekonomi tidak lagi dikendalikan oleh aturan-aturan sosial, moral, dan keagamaan, akan tetapi oleh gejolak hasrat semata-mata.(22) Padahal, hasrat itu sendiri ---dalam pemahaman sufistik--- mempunyai kecenderungan ke arah bentuk-bentuk amoral, ke arah penolakan setiap bentuk penilaian moral (moral judgement).

Wacana politik, ekonomi, sosial, budaya, dan media dalam masyarakat posmodern telah kehilangan peran sebagai pembawa nilai-nilai moral. Yang justru dibawa adalah semangat .dekonstruksi moral., yang menghasilkan .antagonisme moral., .kontradiksi moral., dan .kerancuan moral. (moral perversion). Televisi, umpamanya, membiarkan kontradiksi moral beroperasi di dalam dirinya sendiri --- mengajarkan ibadah khusyuk di pagi hari, lalu menyuguhkan ekstasi pornografi di sore hari; menanamkan rasa kasih sayang di siang hari, lalu menularkan kebrutalan di malam hari. Televisi, dengan demikian, mengkonstruksi secara sosial, figur skizofrenia dalam tubuh dan urat-urat kejiwaan masyarakat ---figur-figur tanpa identitas, tanpa konsistensi.

Perbincangan mengenai moralitas, menurut pandangan Michel Foucault dalam The History of Sexuality, tidak dapat dipisahkan dari pembicaraan mengenai hubungan antara hasrat, tubuh, dan kekuasaan (power). Menurut Foucault, ada dua kategori .kekuasaan. dalam kaitannya dengan wacana .tubuh.. Pertama, kekuasaan atas tubuh, yang mengatur tindak-tanduk, sikap, dan perbuatan-perbuatannya secara represif. Kedua, kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh itu sendiri, yaitu berupa kehendak (will) dan hasrat (desire). Kekuasaan dari dalam tubuh ini menentang dan melawan kekuasaan atas tubuh, sehingga gerakan pembebasannya dapat menjadi sebuah revolusi.(23) Dengan membebaskan tubuh dari .kekuasaan atas tubuh., yaitu dengan membiarkan mengalir .kekuasaan hasrat tubuh., maka apa yang terbentuk adalah heterogenitas, multiplisitas, keragaman bentuk (polymorphous), ketidakberhinggaan dan ketidakberbatasaan dalam discourse seksual, kesenangan, dan penggunaan tubuh, tanpa perlu diikat oleh asumsi moral tertentu. Di sini, hasrat diarahkan untuk menentang segala bentuk kekuatan represif terhadap tubuh, termasuk .represi. Tuhan ---scientia sexualis.

Sufisme dan Tantangan Konsumerisme

Kapitalisme global menawarkan sebuah ruang, yang di dalamnya hasrat dapat mengalir dengan bebas, bersamaan dengan mengalirnya kapital dan komoditi. Kapitalisme adalah sebuah bentuk skizofrenia, yaitu sebuah arus perputaran hasrat yang tanpa henti dan tanpa interupsi. Akan tetapi, ia bukanlah tempat pelepasan yang sempurna, oleh karena sifat-sifat totalitarianisme (pengaturan massa oleh elite kapitalis) masih melekat pada dirinya.

Sebagai sebuah wacana skizofrenia, kapitalisme hidup dari gejolak hasrat tak bertepi itu. Lewat mesin hasratnya yang berputar tanpa henti, kapitalisme merasuk ke dalam jagat raya mental kolektif, dan di sana ia menegakkan norma, menciptakan jaringan semiotik, dan mencetak karakter manusia konsumer. Teror halus (soft terror) yang dilakukan kapitalisme terhadap diri (self) lewat jaringan semiotisasi kehidupan (gaya hidup, makna status, penampilan) tidak tertanggungkan oleh masyarakat sebagai konsumer, yang menjadikan mereka asing terhadap hasratnya yang lebih mulia (an-nafs al-muthma.innah).

Mereka akhirnya menjadi pelayan dari jaringan semiotik kapitalisme; terperangkap dalam irama pergantian citra dan gaya hidup; hanyut oleh badai hasrat yang tidak pernah berhenti, sehingga tidak memiliki lagi ruang bagi peningkatan kualitas nafs yang otentik. Dunia konsumerisme menjadi sebuah ruang sosial, di mana para konsumer dikonstruksi kehidupan sosialnya, sehingga ia mengikuti begitu saja arus hasrat yang mengalir tanpa henti. Dalam hal ini, Jean Francois Lyotard mengemukakan dalam bukunya Libidinal Economy, bahwa dalam wacana kapitalisme, tidak saja tercipta pluralitas ekonomi-politik tubuh (political-economy of body), tapi juga pluralitas discourse pelepasan hasrat. Dalam ruang sosial ini, setiap orang dikonstruksi untuk dapat mengambil keuntungan maksimal dari kekuatan hasratnya. Setiap orang harus dapat memasarkan setiap rangsangan libido, untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang maksimal.(24)

Dunia konsumerisme menjadi sebuah dunia permainan (gaya, image, citra, gaya hidup) yang bersifat material, imanen, dan sekuler, yang tidak menyediakan ruang bagi .pencerahan nafs.. Disebabkan permainan tersebut dikendalikan oleh motivasi pemenuhan hasrat, maka ia dengan mudah menjadi tempat bagi dekonstruksi moral. Dengan melenyapkan batas-batas moral, dunia komoditi menjelma menjadi sebuah .dunia ketelanjangan. (transparency), sebuah dunia .tanpa rahasia. (obscene), sebuah dunia tempat merajalelanya kecabulan, erotisasi, pornografi (iklan, tontonan, video, filem, internet) ---dunia posmodern. Dalam jagat komoditi kapitalisme, terjadi .obyektivikasi. tubuh, yang kini eksistensinya disejajarkan dengan .obyek.. Komodifikasi tubuh, dengan segala potensi hasrat dan libidonya menjadi bagian dari .budaya materi. (material culture) kapitalisme global. Sehingga, .. Seolah-olah tidak ada lagi yang membatasi sebatang tubuh dengan dunia di luarnya (dunia obyek) ---inilah ketelanjangan..(25) Komodifikasi tubuh menjadi sebuah wacana .perendahan derajat tubuh., yang kini hanya dilihat sebagai materi, yang menjadi bagian dari dunia an-nafs al-ammarah.

Pada jagat komoditi kapitalisme, tak ada lagi batas mengenai apa yang boleh/tidak boleh ditampilkan, dipampangkan, dipamerkan, dipertontonkan, disuguhkan, dipasarkan, dijual ---inilah ketelanjangan. Terjadi semiotisasi tubuh yang berlebihan ---over-signified. Terjadi ekspose dan tontonan tubuh yang tanpa akhir ---over-exposed; terjadi pencitraan dan narasi tubuh yang melewati batas ---over-narrated. Dunia konsumerisme menggelar setiap citra, memamerkan setiap tanda, akan tetapi menetralisir maknanya yang lebih tinggi, yang berkaitan dengan nafs ketuhanan.

Dunia konsumerisme menjadi semacam .promiskuitas jaringan. (promiscuity of networks), sebuah prinsip yang membolehkan hubungan apa saja, tanpa ada pembatas. Promiskuitas adalah ciri etis masyarakat posmodern. Masyarakat posmodern membentuk jaringan seksual tanpa batas, larangan, tabu --- promiskuitas seksual. Ia menciptakan jaringan komunikasi yang dapat diakses siapapun ---promiskuitas komunikasi. Ia menciptakan jaringan tubuh yang dapat digunakan untuk kepentingan apapun (kepentingan oleh raga ---ingat cheer girl, kepentingan ekonomi ---sales girl, kepentingan politik ---campaign girl, kepentingan tontonan ---bar girl, kepentingan komunikasi ---model girl), yang kesemuanya merupakan ciri-ciri khas promiskuitas tubuh.

Dunia konsumerisme merupakan dunia yang dibentuk oleh nilai-nilai .keterpesonaan. (fascination) dan .ekstasi.. Apa yang didambakan manusia posmodern adalah .pesona. citra dan penampakan (commodity fetishism), tanpa ambil pusing dengan nilai-nilai transendennya, khususnya nilai-nilai spiritual sebagaimana yang diajarkan sufisme. Masyarakat posmodern adalah sebuah .masyarakat tontonan., yang tidak ambil pusing dengan jagat spiritual ---society of the spectacle.

Disebabkan pemujaannya terhadap .rasa mengalir. yang tiada henti, dunia konsumerisme menjelma menjadi sebuah dunia yang memuja .kecepatan. (speed) ---kecepatan pergantian image, gaya, gaya hidup, tontonan, identitas. Dalam dunia konsumerisme, hidup dihabiskan untuk durasi-durasi citraan dan gaya yang datang dan pergi silih berganti dalam kecepatan tinggi, yang memerangkap manusia dalam irama percepatannya, dan yang sebaliknya, makin mempersempit ruang bagi wacana .pencerahan nafs.. Ekstasi kecepatan telah meningkatkan durasi kesenangan, keterpesonaan dan kegairahan; dan sebaliknya pada saat yang bersamaan, semakin mempersempit durasi .penyucian hati., sebagaimana yang ditawarkan sufisme.

Tempo tinggi kehidupan yang dikonstruksi mesin kapitalisme, menciptakan ciri lain masyarakat posmodern, yaitu sifat .kesementaraan. (temporality), yaitu .kesementaraan materi. yang bersifat horisontal.(26) Manusia dikondisikan untuk melihat masa kini sebagai temporalitas, dengan harapan besok ada .perbedaan. (difference).: Citra, gaya, tampilan, gaya hidup. Sifat temporalitas ini tentunya berbeda dengan konsep .temporalitas. yang bersifat vertikal dalam terminologi sufisme, yang dalam perjalanannya menuju maqam yang lebih tinggi, nafs berada dalam kesementaraan posisi. Dalam wacana konsumerisme, hidup dikondisikan untuk selalu berpindah dari satu hasrat ke hasrat berikutnya, dari satu kejutan ke kejutan berikutnya. Paul Virilio, dalam karyanya tekstualnya, The Aesthetics of Disappearance, menyebut durasi waktu kehidupan sebagai semacam gejala epilepsi.(27) Rangkaian hasrat dan kejutan yang berpacu dengan kecepatan tinggi, merepresentasikan umat manusia yang bertamasya dalam fragmen-fragmen ruang yang bersifat temporer, yang menyedot setiap energi manusia hanya untuk .tamasya materi., dan tidak menyisakannya untuk .tamasya spiritualitas.. Sebab, dalam ekstasi kecepatan, tak ada waktu lagi untuk memikirkan nafs: untuk perenungan, kezuhudan, kefakiran, kepasrahan, pencerahan, kefanaan.

Kecepatan telah membentuk panorama lain masyarakat posmodern, yaitu panorama yang dilukiskan Arthur kroker & David Cook dalam The Postmodern Scene: Excremental Culture and Hyper-Aesthetics, sebagai panorama .panik. (panics): panik kapital, komoditi, media, uang, seks, tontonan.(28) Inilah .panik komoditi. yang datang dan pergi dalam kecepatan tinggi dalam super-mall, yang tidak meninggalkan jejak-jejak spiritual; inilah .panik citra dan tontonan. yang muncul dan menghilang dalam kecepatan tinggi dalam televisi, yang tidak meninggalkan bekas hikmah; inilah .panik seksualitas. dalam video atau internet, yang tidak menawarkan intensitas-intensitas psikis. Dalam dunia kepanikan, tak ada ruang untuk interupsi, untuk kekhusyukan, untuk konsistensi.

Sufisme dan Perangkap Gaya Hidup

Gaya hidup merupakan pola (durasi, intensitas, kuantitas) penggunaan waktu, ruang, uang, dan barang dalam kehidupan sosial. Gaya hidup dibentuk dalam sebuah ruang sosial (social space), yang di dalamnya terjadi sintesis antara .aktivitas belanja dan kesenangan.. Dalam wujudnya yang mutakhir, ruang sosial itu menjadi sebuah .pertunjukan citra. dan .tontonan teater. masyarakat posmodern.(29)

Dalam masyarakat posmodern, masyarakat dikonstruksi secara sosial ke dalam berbagai .ruang gaya hidup., yang menjadikan mereka sangat bergantung pada irama pergantian gaya, citra, serta status yang ditawarkan di dalamnya. Gaya hidup adalah cara manusia posmodern mengaktualisasikan dirinya lewat .semiotisasi kehidupan.. Gaya hidup adalah aspek .permukaan. atau .wajah luar. (imanensi) dari kebudayaan. Dalam masyarakat posmodern, apapun dapat dikonstruksi sebagai bagian dari gaya hidup, selama ia dapat dirubah menjadi, citra, tanda, dan gaya: politik, pendidikan, seksualitas, jabatan, agama, ibadah, bahkan sufisme.

.Rasa mengalir. yang dikonstruksi dunia konsumerisme disekspresikan lewat .rasa mengalir. gaya hidup, yang selalu berubah, berganti, dan berkembang. Gaya hidup yang .mengalir. menciptakan apa yang disebut Jean Baudrillard, sebagai .mayoritas yang diam., yaitu mereka (massa) yang tidak menolak dan menampik apapun, selama apa yang disuguhkan pada mereka adalah permainan gaya, citra, dan tontonan. Mereka tidak terlalu peduli dengan kedalaman makna, atau spirit di balik tontonan dan citra tersebut. .. Mereka hanya menginginkan tanda, mereka memuja permainan tanda-tanda..(30) Sikap .diam. (tidak menolak, menampik, memprotes) membawa pada satu ciri lain masyarakat posmodern, yaitu .kontradiksi.. Dengan .diam., manusia posmodern menerima secara tidak kritis, setiap makna yang ditawarkan, menerima segala bentuk kontradiksi dalam diri mereka: mencampuraduk benar/salah, asli/palsu, baik/buruk, halal/haram, moral/amoral. Mereka dapat melakukan dua hal yang bertentangan sekaligus tanpa beban ---rajin pergi ke tempat ibadah, akan tetapi rajin pula pergi ke tempat maksiat; khusyuk dalam sebuah perenungan, akan tetapi hanyut pula dalam ekstasi konsumerisme.

Kondisi sosial masyarakat posmodern, dengan demikian, merupakan sebuah tantangan yang berat bagi pencerahan spiritual ---khususnya wacana sufisme--- disebabkan ia adalah sebuah kondisi, di mana manusia diperangkap dalam jagad materi dan gaya hidup yang bersifat permukaan. Bahkan hal-hal yang bersifat .spiritual., kini dikhawatirkan menjadi bagian dari dunia permukaan itu: yoga, tenaga dalam, puasa, shalat, zakat, do.a, tobat, salawat, zikir, dan mungkin sufisme. Dalam masyarakat posmodern, segala sesuatu yang bersifat sekuler (gaya, gaya hidup, status) bercampur-aduk dengan hal-hal yang bersifat spiritual.

Sufisme Materialistik?

Telah banyak hikmah yang diajarkan oleh orang-orang suci dan kalangan sufi, bahwa pelepasan gejolak hasrat nafs yang rendah hanya akan menciptakan berbagai sisi buruk kehidupan manusia, dan menjauhkan mereka dari dunia spiritual. Akan tetapi, dalam masyarakat posmodern, hikmah-hikmah sufistik tersebut akan berbenturan dengan berbagai logika masyarakat posmodern itu sendiri, yang justru melandaskan setiap wacananya (ekonomi, sosial, komunikasi, politik, budaya, media) pada logika-logika .hasrat rendah. itu sendiri. Apa yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakat posmodern adalah .tarik-menarik. antara an-nafs al-ammarah dengan an-nafs al-muthma.innah.

Masyarakat posmodern adalah sebuah masyarakat yang di dalamnya hasrat dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu dikekang, bahkan sebaliknya harus diumbar. Gelora hasrat itu telah menghanyutkan manusia posmodern dalam lorong .ekstasi kebendaan., dalam lembah .kepanikan., dalam lumpur .kontradiksi.. Masyarakat posmodern adalah sebuah masyarakat, yang di dalamnya tidak ada yang mengendalikan hasrat selain dari energi hasrat itu sendiri ---libidinal machine.

Masyarakat posmodern penuh paradoks. Di satu pihak, ia telah membuka sebuah cakrawala dunia yang serba plural ---yang kaya warna, kaya nuansa, kaya citra; di pihak lain, ia menjelma menjadi sebuah dunia yang seakan-akan berkembang tanpa kendali, yang berjalan menurut logika hasratnya sendiri. Ia menjadi sebuah dunia, yang di dalamnya manusia kehilangan arah tujuan. Di tengah badai krisis moral yang menghantam dengan dahsyat, di tengah turbulensi moral yang menyelimuti manusia, di tengah-tengah hutan rimba hasrat yang mengelilingi manusia, di tengah kepanikan materi yang menghantui manusia, ke manakah umat manusia ini sesungguhnya akan dibawa? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab oleh masyarakat posmodern.

Gelombang hasrat yang melanda masyarakat posmodern harus ada yang mengendalikan. Akan tetapi, apa yang dapat mengendalikan? Alvin Toffler, misalnya, menawarkan sebuah prediksi, bahwa dalam Milenium Ketiga, peran agama dan spiritualitas akan makin menonjol, sebagai pengendali moralitas masyarakat. Hanya saja, tak banyak manusia yang mau mendengarkan suara-suara moral dan spiritual itu ---suara sejuk orang suci, suara kritis sang filsuf, suara lembut sang pujangga. Suara-suara mereka hilang ditelan deru mesin kapitalisme global yang berputar tanpa henti; tenggelam diseret keterpesonaan dan kegairahan yang ditawarkan mesin-mesin tontonan dan hiburan; lenyap dihisap jutaan bit informasi dan kecabulan dalam cyberspace.

Sufisme diharapkan dapat menjadi mesin .pencerahan. di tengah deru mesin hasrat kapitalisme dan masyarakat posmodern yang berputar tanpa henti. Akan tetapi, derasnya perputaran mesin hasrat tersebut ---yang mewujud dalam berbagai bentuk komoditi, citra, gaya hidup, dan tontonan--- telah menimbulkan kekhawatiran, jangan-jangan para sufi itu sendiri dapat terperangkap dalam kontradiksi posmodern. Sehingga, yang tercipta adalah semacam .sufi materialistik., yaitu para sufi yang terperangkap dalam pengaruh jagad materi dan gaya hidup masyarakat posmodern, sambil menekuni jalan spiritualitas. Inilah, misalnya, seorang wanita .sufi., yang berkunjung ke sebuah mall mewah, mengendarai sendiri mobil build-up yang terbaru, mengenakan stelan fashion mutakhir rancangan Versace, memakai kacamata sunglass warna gelap, membawa handphone mutakhirnya yang trendy, sambil menenteng ke mana-mana .sertifikat sufi., sebagai sebuah .citra. dan .legitimasi. diri di tengah belantara citra budaya posmodern yang bersifat paradoks.

Pencerahan Spiritual dalam Paradoks Posmodernisme

Memalingkan masyarakat dari segala bentuk materi, di tengah dunia yang justru sangat bergantung pada materi (teknologi transportasi, komunikasi, pendidikan, kesehatan) adalah sesuatu yang amat sulit, kalau tidak boleh dikatakan mustahil. Dan, itu bukan tugas sufisme di era posmodern ini. Tugas sufisme dalam era posmodern adalah setidak-tidaknya meminimalisasi berbagai paradoks masyarakat posmodern itu sendiri, melalui upaya .penyucian. berbagai wacananya dari sifat-sifat dualistik, ketidakpastian, kekaburan, dan ekstremitas.

Sejarah mengajarkan, apapun yang tumbuh ke arah titik ekstrem, pada akhirnya akan berkembang ke arah .penghancuran dirinya sendiri. (self destruction). Ancaman lubang ozon adalah sebuah contoh dari sebuah pertumbuhan (ekonomi, industri, dan teknologi) yang melampaui titik yang tidak seharusnya ia lalui, sehingga ketimbang memberi kesejahteraan pada umat manusia, ia sebaliknya jadi ancaman serius bagi masa depan mereka. Inilah yang disebut dalam terminologi ekologi dan ekonomi sebagai overshoot ---melampui batas. Dan, satu-satunya jalan untuk mencegah kehancuran umat manusia yang diakibatkan oleh hasratnya yang tak berbatas, adalah dengan mengendalikan pertumbuhan hasrat itu sendiri ---desiring overshoot.

Kini, dalam masyarakat posmodern, selain lubang ozon yang menganga di lapisan atmosfir dan stratosfir bumi ---yang mengancam masa depan kehidupan umat manusia--- ada .lubang ozon. lain yang menganga dalam nafs kita ---inilah .lubang ozon spiritual.. Lubang ozon spiritual itu menganga disebabkan mesin hasrat posmodern yang berkembang menuju titik ekstrem. Lubang ozon ini tidak mengancam manusia lewat penyakit fisik, melainkan lewat .penyakit. yang tak kalah ganasnya, yaitu penyakit ketidakacuhan, ketidakpedulian, dan lenyapnya rasa malu.

Sufisme ---dan wacana spiritualitas pada umumnya--- merupakan wacana yang mekanisme utamanya adalah pengendalian hasrat. Sufisme diharapkan dapat menjadi sebuah .mesin pengendali hasrat. masyarakat posmodern yang tak berbatas dan liar. Tantangan yang dihadapi wacana sufisme memang berat, disebabkan telah meresapnya arus-arus hasrat tersebut ke dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat posmodern. Dalam kondisi yang demikian, yang tampaknya sangat diperlukan adalah konsistensi (tawakal) wacana sufisme itu sendiri, dalam proses .penyucian. yang tak kenal lelah. Dalam bahasa sufi, .Hasrat tidak dapat dilawan dengan hasrat, melainkan dengan (konsistensi) akal!.

1 Dr. Javad Nurbakhsy, Psikologi Sufi, (terj.), Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, 1998, hal. vii.

2 Ibid., hal. xix.

3 Al-Hujwiri, Kasyful Mahjub: Risalah Persia Tertua Tentang Tasawuf, (terj.) Penerbit Mizan, Bandung, 1994, hal. 17

4 H. Wilerforce Clarke, .Pendahuluan. dalam Syaikh Syihabuddin Umar Suhrawardi, Awarif al-Ma.arif, Pusataka Hidayah, Bandung, 1998, hal. 22.

5 Dr. Javad Nurbakhsy, Psikologi Sufi, hal. 20.

6 Ibid., hal. 4.

7 Istilah hawa (hasrat) di dalam terminologi sufisme barangkali dapat dicarikan padanannya dengan istilah desire di dalam terminologi psikoanalisis. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai mekanisme dan bentuk-bentuk .hasrat. (desire) di dalam terminologi psikoanalisis, Lihat Mark Bracher, Lacan, Discourse and Social Change, Cornell University Press, 1993.

8 Mark Seem, .Pendahuluan. dalam Gilles Deleuze & Felix Guattari, Anti Oedipus: Capitalism and Schizophrenia, Viking Press, New York, 1982, hal. xx).

9 Felix Guattari, Soft Subvertions, Semiotext(e), New York, 1996, hal. 35.

10 Gilles Deleuze &Felix Guattari, Capitalism and Schizophrenia, hal. xxi.

11 Ibid., hal. xxi.

12 Felix Guattari, Molecular Revolution: Psychiatry and Politics, Peregrine Books, 1984, hal. 86

13 Ibid., hal. 86.

14 Gilles Deleuze & Felix Guattari, Anti-Oedipus, hal. 15.

15 Untuk melihat keterkaitan antara skizofrenia dengan wacana posmodernisme, Lihat Fredric Jameson, .Posmodernism and Consumer Society., dalam Hal Foster, Postmodern Culture, Pluto Press, London, 1990.

16 Gilles Deleuze & Felix Guattari, Capitalism and Scizophrenia, hal. 29.

17 Ibid., hal. 35.

18 Felix Guattari, Soft Subversion, hal. 35.

19 George Bataille, Literature and Evil, Marion Boyars, 1993, hal.22.

20 Jean Baudrillard, Baudrillard Live, Routledge, 1995, hal. 136.

21 Baudrillard, Fatal Strategies, Pluto Press, 1990, hal. 7

22 Ibid, hal. 8.

23 Lihat Richard Harland, Superstructuralism: The Philosophy of Structuralism and Poststructuralism, Methuen, 1987, hal. 156). Lihat juga Michel Foucault, The History of Sexuality: an Introduction, Penguin Books, 1978.

24 J.F. Lyotard, Libidinal Economy, Athlone Press, 1993.

25 Jean Baudrillard, Fatal Strategies, hal. 165.

26 Pandangan dunia (world view) manusia modern dan posmodern sangat berbeda. Manusia modern melihat masa depan sebagai masa yang menjanjikan sebuah hidup yang lebih baik dan lebih sempurna lewat kemajuan sains dan teknologi (sebuah utopia materialisme). Manusia posmodern tidak melihat utopia semacam itu, selain dari kegandrungan mereka menantikan citra, pemuasan hasrat, kesenangan, dan tontonan yang .berbeda.. Untuk melihat perbedaan ini, lihat Jurgen Habermas, The Philosophical Discourse of Modernity, Polity Press, 1990.

27 Paul Virilio, The Aesthetics of Disappearance, Semiotext(e), 1991, hal. 113.

28 Lihat Arthur kroker & David Cook, dalam The Postmodern Scene: Excremental Culture and Hyper-Aesthetics, MacMillan, London, 1988.

29 Untuk melihat definisi .gaya hidup. (life style) dan peranan pentingnya di dalam arena konsumerisme dan masyarakat posmodern, Lihat Rob Shields, Lifestyle Shopping: The Subject of Consumption, Routledge, London, 1992.

30 Jean Baudrillard, In the Shadow of the Silent Majorities, Semiotext(e), New York, 1983, hal. 10.

Tidak ada komentar: