Arsip Blog

Jumat, 12 Desember 2008

Sahabat ku yang baik dan yang jahat?????



Syi'ah tidak menolak sahabat, melainkan mereka berusaha menempatkan sesuatu pada porsinya. Maqam "Sahabat Rasul SAWW" adalah maqam yang tinggi, sehingga sudah sepantasnya kita selektif dan tidak gegabah memasukkan sembarang orang dalam maqam tersebut. Kalau pada awalnya taat, namun di saat lain menentang bahkan mengkhianati, apakah ini pantas dimasukkan pada maqam sahabat tersebut ?

Secara definisi "orang yang bergaul dengan Rasul SAWW" bisa saja disebut sahabat, namun secara hakikat belum tentu mereka dikatakan sahabat. Bila tindakan mereka tidak pantas terhadap Rasul SAWW bahkan mengkhianati Rasul SAWW, maka secara hakikat mereka bukan sahabat.

Berikut saya kutipkan dari kitab Tafsir dan kitab Tarikh ahlusunnah tentang hal tersebut.

1. Dalam [Q.S. At-Taubah 101], Allah berfirman : "Dan di antara orang-orang badui di sekelilingmu, ada orang munafik, dan juga di antara penduduk Madinah. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka. Kamilah yang mengetahui mereka. Kami akan siksa mereka dua kali kemudian mereka akan diberikan azab yang besar".

Ibn Katsir menafsirkan ayat tersebut, bahwa ayat tersebut ditujukan untuk beberapa sahabat Rasul SAWW yang munafik. Rasul SAWW tahu bahwa penduduk Madinah yang menggaulinya dan dilihatnya tiap pagi dan senja, ada orang-orang munafik. Beliau mengutip hadits Rasul SAWW : Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dari Jubair bin Muth'im, yang bercerita :"Aku bertanya kepada Rasulullah SAW :'Apakah betul yang dikatakan oleh mereka bahwa kami di Mekkah tidak mendapat bayaran ?' Rasul menjawab:'Bayaranmu akan sampai kepadamu, walaupun kamu ada di lubang rubah'. Kemudian sambil mendekatkan kepala beliau ke telingaku, beliau bersabda :'Sesungguhnya di antara sahabat-sahabatku ada orang-orang munafik'."

Ref. :
Ibn Katsir, dalam Tafsir-nya.

2. Dalam [Q.S. Jumuah 11], Allah SWT mengecam para sahabat yang meninggalkan Rasul SAWW, yang sedang ber-khutbah jum'at, demi menyambut kafilah yang membawa barang dagangan.

Jabir bin Abdullah berkata :"Ketika Nabi SAW sedang berkhotbah jum'at, tiba-tiba datang kafilah dagang di Madinah, maka pergilah sahabat menyambut kafilah dagang itu, sehingga tiada sisa yang mendengarkan khotbah Rasul SAWW, kecuali 12 orang, maka Rasul SAWW bersabda :'Demi Allah yang jiwaku ada di tangannya, andaikata kamu semua mengikuti keluar sehingga tiada seorangpun yang tertinggal, niscaya lembah ini akan mengalir api'. Dan turunlah ayat tersebut.

Ref. :
Ibn Katsir, dalam Tafsirnya.

3. Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud, dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul SAWW :

"(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain, memanggil kalian, karena itu Allah menimpakan atas kalian kesusahan di atas kesusahan agar kalian tidak bersedih atas apa yang luput dari kalian dan apa yang menimpa kalian. Sungguh Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan".

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain.

Ref. ahlusunnah :

1. "Hayat Muhammad", oleh Haikal.

2. "Maghazi", oleh Al-Waqidi.

3. Tarikh Ibn Hisyam.

Itu saja hanya dari Al-Qur'an, kalau anda melihat kitab-kitab hadits, maka akan banyak anda temui riwayat-riwayat shohih (baik ahlusunnah maupun syi'ah) yang menceritakan kesalahan-kesalahan sahabat tersebut.

Tidak ada komentar: