Bab Pertama: Isa al-Masih as
Utusan Allah
Isa Utusan Allah
Hazrat Maryam, Teladan Bagi Umat Manusia
Hazrat Maryam, Cermin Kesucian
Keistimewaan Kisah Isa Putera Maryam as
Pengibar Panji Hidayah
Penyelamat Manusia dari Kezaliman
Seruan Menuju Kesejahteraan
Kelahiran Isa al-Masih as
Bab Kedua: Islam dan Nasrani
Penghormatan Nabi Muhammad Saw Kepada Penguasa Nasrani
Ibadah Dalam Islam dan Nasrani
Pernyataan Bijak Hazrat al-Masih as
Mencari Titik Temu Antara Islam dan Nasrani
Kebebasan di Mata Islam dan Nasrani
Membela Keadilan dan Kaum Tertindas
Urgensi Hubungan Dengan Tuhan Bagi Kehidupan Manusia
Spiritualitas, Titik Temu Semua Agama
Benturan Antara Nasrani dan Islam
Agama Rahmat dan Kasih Sayang
Bab Ketiga: Nasrani di Era Modern
Ajaran Nasrani di Tengah Kita
Inflitrasi Kaum Imperialis
Berakhirnya Era Keagamaan dan Dimulainya Era Sains
Ketidak Berimanan Kepada Al-Masih
Anti Spiritualitas
Ketidakpedulian Gereja Terhadap Isu Keadilan
Dampak Keterjauhan Dari Ajaran al-Masih as
Klaim Bohong
Bab Keempat: Republik Islam Iran dan Warga Minoritas Nasrani
Pengaruh Revolusi Islam di Dunia Nasrani
Kerukunan Hidup di Iran
Warga Minoritas Nasrani Iran
Kecintaan dan Kedekatan
Bab Pertama: Isa al-Masih as
Utusan Allah
Kedudukan Nabi Isa al-Masih as di mata umat Islam tak kalah agungnya dengan kedudukan beliau di mata umat Nasrani. Utusan besar Ilahi ini telah menghabiskan usianya di tengah masyarakat dengan perjuangan dan menyalakan resistensi umat di depan praktik penindasan, agresi, korupsi, dan ambisi sekelompok manusia gila kekuasaan yang membelenggu masyarakat dan menyeret kehidupan dunia dan akhirat mereka ke arah neraka jahannam. Demi tujuan ini, beliau yang sejak kecil telah menerima anugerah nubuwwah rela menanggung segala beban penderitaan perjuangan maha berat ini.
Isa Utusan Allah
Umat Islam mengakui kebesaran Nabi Isa as sebagai utusan Allah Swt -sebagaimana umat Nasrani mengakui kebesaran beliau-. Sungguh tak dapat diterima klaim kaum Yahudi yang menyebut Nabi Musa as hanya milik mereka, bukan umat yang lain. Umat Nasrani juga mengakui Nabi Musa as, sebagaimana halnya umat Islam. Demikian pula hanya dengan Nabi Isa as. Umat Islam memandang beliau bukan hanya milik umat Nasrani, melainkan juga milik umat Islam. Umat Islam di Iran sangat menyintai dan menghormati beliau. Umat Nasrani di Iran, baik kelompok Ashyrian maupun umat Nasrani di kawasan utara Iran dan Orumiyeh, meyakini bahwa agama Nasrani yang otentik ada di sini, bermarkas di sini, dan dari sini pula ajarannya merebak ke seluruh penjuru dunia. Secara historis, bisa jadi mereka benar.
Hazrat Maryam, Teladan Bagi Umat Manusia
Kitab suci al-Quran tidak menampilkan figur lelaki dalam menyebutkan sosok teladan keimanan umat manusia, melainkan menampilkan figur perempuan. Allah Swt menampilkan dua figur perempuan sebagai teladan untuk seluruh manusia, bukan hanya kaum hawa. Di bidang kemanusiaan dan perfeksi spiritualitas insaniah, Allah Swt tidak memilih para nabi ataupun tokoh-tokoh keilmuan dan agama dari kalangan pria, melainkan memilih dua tokoh wanita terkemuka, yaitu [Hazrat Asiyah] isteri Fir’aun dan Haszrat Maryam binti Imran, ibunda Nabi Isa al-Masih. Maryam adalah sosok perempuan yang selalu tegar laksana gunung ketika di masa mudanya diterjang badai fitnah dan prasangka buruk dari masyarakat luas. Di masa kegadisannya nan suci, beliau menerima anugerah putera yang menjadi perwujudan dari kalimatullah dan ruhullah yang menerangi kegelapan dunia saat itu.
Hazrat Maryam, Cermin Kesucian
Pada kisah Hazrat Maryam dalam al-Quran terdapat satu poin yang sangat menarik perhatian saya. Umat Islam memandang beliau sebagai cermin dan kristalisasi kesucian, yaitu sosok yang benar-benar suci. Dalam beberapa ayatnya, al-Quran menyebutkan nama Maryam antara lain sebagai berikut;
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا
dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami;. (QS. 66.12)
Ketika menyebut nama Maryam, al-Quran selalu menekankan masalah pemeliharaan kehormatan dan kesucian wanita. Apa gerangan yang terjadi pada Hazrat Maryam? Menurut saya, ini sangat penting. Maryam adalah gadis yang sejak kecil hidup di rumah ibadah sampai dewasa. Faktor apa yang mendorong beliau memelihara kesucian dengan mengerahkan kemampuannya yang luar biasa – seandainya tidak luar biasa al-Quran tentu tidak akan memberikan penekanan sedemikian rupa- dalam menghadapi godaan sehingga al-Quran menyebutkan “yang memelihara kehormatannya”. Ini sangat penting dan merupakan satu pelajaran bagi semua orang. Di saat yang sangat genting, kesucian dan resistensi beliau di depan segala godaan telah sedemikian berpengaruh dan bahkan dapat mengubah perjalanan sejarah. Hal serupa juga disebutkan oleh al-Quran ketika mengisahkan lelaki muda Nabi Yusuf as.
Keistimewaan Kisah Isa Putera Maryam as
Sejak masa remaja sampai sekarang saya sangat terkesan setiap kali membaca atau mendengar surah Maryam, sebab kejadiannya sangat luar biasa. Kejadian lahirnya Isa al-Masih pada situasi zaman dan tempat di mana fenomena ini muncul ke permukaan sejarah dan kehidupan masyarakat saat itu adalah peristiwa yang terlampau agung untuk dapat dijelaskan dengan kata-kata, kecuali dengan bahasa seni! Ini adalah peristiwa ajaib yang sukar dicarikan tandingannya. Di situ ada peranan Hazrat Maryam dan Nabi Zakaria as; ada karakteristik kondisi sosial saat itu; ada gambaran tentang terbitnya ajaran Nabi Isa as sebagai matahari yang berpijar di langit kemanusiaan dan ufuk pemikiran insani, dan perhatian pada hakikat bahwa ajaran Isa al-Masih as adalah lanjutan dari ajaran Nabi Musa as. Hal-hal demikian ini selalu ditekankan. Saat itu, para pengikut ajaran Nabi Musa as sudah jauh menyimpang dari ajaran suci ini sehingga apa yang dibawa oleh Nabi Isa as mereka pandang sebagai penyelewengan, bid’ah, dan kekafiran. Padahal ajaran Nabi Isa al-Masih juga bersumber pada wahyu Ilahi yang merupakan hulu dari ajaran Nabi Musa as. Dalam kisah ini tergambar jelas bagaimana dampak distorsi dan pengaruh kekuasaan, kekuatan, kesalahpahaman dan kesombongan.
Pengibar Panji Hidayah
Ketika manusia sedang tenggelam dalam kesesatan, kejahilan, penindasan, dan pengabaian terhadap norma-norma insani, Kalimatulllah Isa al-Masih as datang mengibarkan panji hidayah dan keselamatan bagi umat manusia. Dalam rangka ini pula, beliau bangkit melakukan perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan penindas dan berjuang membumikan keadilan, rahmat, dan Tauhid. Karena itu, sebagai umat yang beriman kepada al-Masih as, Nasrani maupun Muslim harus selalu mengingat ajaran dan jejak para nabi serta norma-norma insani yang terkandung di dalamnya demi tegaknya tatanan global yang layak.
Penyelamat Manusia dari Kezaliman
Isa al-Masih as adalah manusia yang diutus Allah Swt dengan dibekali mukjizat dan seruan Ilahi untuk membebaskan manusia dari syirik, kufur, kobodohan, dan tirani untuk kemudian membawa mereka menuju cahaya makrifat, keadilan, dan penghambaan kepada Sang Pencipta. Selama berada di tengah umat manusia beliau tidak pernah kendur dalam berjuang melawan angkara murka dan menyeru manusia kepada kebajikan. Ini merupakan pelajaran yang harus dihayati sepenuhnya oleh umat Nasrani dan umat Muslim yang meyakini kenabian beliau.
Manusia di zaman sekarang sangat membutuhkan ajaran Nabi Isa al-Masih, dan Islam yang menyempurnakan ajaran al-Masih menjadikan masalah kebaikan, kebajikan, dan kesempurnaan sebagai pedoman utama ajarannya. Manusia-manusia sesat telah menggunakan kekuatan alam tak terhingga -yang diperolehnya berkat ilmu pengetahuan– sebagai sarana untuk menggapai tujuan yang sebaliknya sehingga tugas umat beragama menjadi semakin berat. Kekuatan-kekuatan besar dunia telah membuat ruang kehidupan bangsa-bangsa tertindas menjadi semakin sempit. Mereka pun tak pernah segan berbuat lalim. Parahnya, para kekuatan besar itu justru menampakkan diri sebagai penganut ajaran al-Masih, padahal mereka buta akan perangai dan ajaran beliau.
Seruan Menuju Kesejahteraan
Hazrat Isa al-Masih as mengajak manusia ke jalan Allah Swt yang tak lain adalah jalan menuju kesejahteraan sejati. Beliau selalu mengingatkan manusia agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu yang selalu mendorong untuk berbuat angkara, aniaya, dan keji. Tapi di lain pihak, kekuatan-kekuatan durjana dan para anteknya menghadang beliau dengan represi, tuduhan buruk, dan upaya pembunuhan. Ketika beliau diangkat dan dilindungi Allah Swt, mereka lantas memburu dan menganiaya kaum Hawariyyun dan seluruh pengikut setia ajaran beliau dengan berbagai bentuk aksi penyiksaan yang paling mengerikan. Tujuan mereka tak lain adalah menumpas ajaran al-Masih yang menolak angkara murka, tirani, syirik, pemujaan hawa nafsu, konfrontasionalisme, dan manipulasi publik. Manusia yang bermoral bejat, zalim, ambisius, pemuja kekerasan, dan gemar menipu masyarakat memang tidak akan tahan menyaksikan adanya agama Allah, utusan Allah, dan para peniti jalan Allah.
Kelahiran Isa al-Masih as
Sudah ratusan tahun kelahiran Isa al-Masih as dirayakan. Mengapa kelahiran ini sedemikian penting? Ini tak lain karena kelahiran beliau merupakan satu titik masa yang sangat krusial dan determinan dalam sejarah manusia. Artinya, ketika sejarah sedang berjalan di suatu garis tiba-tiba ia berubah haluan dan beralih ke garis lain. Setiap tahun kita ikut merayakan hari kelahiran Hazrat al-Masih as dan menyampaikan ucapan selamat kepada umat Nasrani di tanah air dan di dunia secara umum. Namun, karena menurut mayoritas umat Nasrani di Iran –termasuk umat Armenia- tanggal kelahiran al-Masih bukan 25 Desember melainkan pada 10 hari pertama Januari, maka kita tidak mengikuti tradisi yang umum; kita menunggu sampai tiba bulan Januari untuk menyampaikan ucapan selamat Natal supaya lebih sesuai dengan pendapat saudara-saudara setanah air kita yang memeluk ajaran Nasrani. Semoga hari kelahiran al-Masih membawa berkah bagi umat Kristiani dan umat Islam di seluruh dunia.
Ala kulli hal, 10 hari ini kita memperingati kelahiran Hazrat al-Masih as. Kita berharap semoga umat Islam dan umat Nasrani selalu meneladani perilaku al-Masih, mengenali keagungannya dengan benar, dan mengikuti ajarannya.
Bab Kedua: Islam dan Nasrani
Penghormatan Nabi Muhammad Saw Kepada Penguasa Nasrani
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa delegasi raja Habasyah, Najasyi, datang ke Madinah membawa pesan untuk Rasulullah Saw, sebagaimana yang biasa terjadi dalam pergaulan antarnegara. Sebagaimana para raja dan penguasa di tempat-tempat lain, Najasyi yang bertahta di Habsyah juga beragama non-Muslim atau tepatnya Nasrani. Namun, ketika delegasi Habasyah datang, Rasulullah Saw menyambut mereka sambil berdiri sebagai tanda penghormatan. Para sahabat lantas berkata; “Wahai Rasul, biarkan kami yang melayani mereka.” Tapi beliau menjawab; “Tidak, sebab ketika umat Islam hijrah ke Habasyah, mereka sangat dihormati oleh raja Habasyah. Saya ingin membalasnya.” Inilah apresiasi Rasulullah Saw terhadap kebaikan orang lain.
Ibadah Dalam Islam dan Nasrani
Dalam al-Quran Allah Swt berfirman;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (QS.2.183)
Seperti kita ketahui, solat dan zakat bukan dikhususkan untuk umat Islam. Syariat para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw juga mewajibkan solat dan zakat. Dalam Al-Quran disebutkan kata-kata Nabi Isa as;
وَأَوْصَانِي بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا
“dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS.19.31)
Dalam al-Quran juga terdapat beberapa ayat lain yang senada dengan ini. Allah Swt berfirman bahwa puasa juga seperti ibadah solat dan zakat yang bukan hanya dikhususkan untuk umat Islam, melainkan juga diwajibkan bagi umat-umat dan para nabi terdahulu.
Pernyataan Bijak Hazrat al-Masih as
Dalam beberapa riwayat yang bersanad kepada Ahlul Bait as terdapat hadist yang mengutip sabda Nabi Isa al-Masih as. Riwayat-riwayat itu tertera dalam kitab-kitab hadist dan tergolong sebagai riwayat yang paling cemerlang dan bijak. Umat Nasrani sendiri tidak mengklaim bahwa sabda-sabda Nabi Isa as hanya tertera pada Injil. Selain injil-injil yang umum, masih ada injil-injil lain dan sangat mungkin apa yang ada dalam riwayat-riwayat Islam merupakan bagian yang terangkum dalam injil-injil yang kini telah tiada. Sabda-sabda yang diriwayatkan oleh para Imam Ahlul Bait patut diperhatikan dan dimanfaatkan oleh umat Nasrani, dan siapa tahu ini bisa menjadi media pendekatan antarumat beragama. Umat Islam dapat menjadikan pesan-pesan al-Masih sebagai persembahan untuk umat manusia. Sabda-sabda Nabi Isa as yang tertera dalam berbagai riwayat Islam sarat dengan hikmah dan kandungan yang sangat bernas.
Saya sendiri dulu sering sekali membaca Injil. Banyak ungkapan-ungkapan bijak yang terkandung dalam empat Injil yang dimiliki umat Nasrani saat ini. Dari segi akidah, Umat Islam memang tidak sepaham dengan keyakinan yang terangkai dalam kitab Injil. Namun dari segi hikmah, setiap manusia pasti dapat menerima kata-kata bijak.
Mencari Titik Temu Antara Islam dan Nasrani
Menghubungkan agama dengan para pemuda dan memperluas pengaruh agama di tengah masyarakat adalah gagasan cemerlang. Agama adalah anugerah Ilahi yang mengalirkan sejuta kebaikan bagi setiap masyarakat yang mendapatkan anugerah ini. Tentunya, berinteraksi dengan kalangan pemuda adalah pekerjaan yang penuh tantangan namun hasilnya sangat baik.
Ada banyak titik persamaan antara Islam dan Nasrani atau bahkan antara Islam dan berbagai agama lainnya. Berbagai titik persamaan dapat dikaji dalam dialog dwipartit Islam dan Nasrani atau dialog multipartit Islam dengan agama-agama lain. Kalaupun pandangan Islam dan Nasrani tidak dapat didekatkan, tapi setidaknya akan dapat dikenali berbagai titik temu antara keduanya. Dialog bukan dalam rangka membuktikan kebenaran satu agama dan kebatilan agama yang lain, tetapi dalam rangka mencari titik persamaan, khususnya yang bersangkutan dengan berbagai persoalan dalam kehidupan manusia.
Kebebasan di Mata Islam dan Nasrani
Kebebasan adalah bagian dari isu kemanusiaan yang selalu ada sepanjang zaman. Apakah yang dimaksud kebebasan dan seberapa luas ruang lingkupnya? Agama berbicara banyak hal tentang ini, dan ini merupakan salah satu tema yang dapat disorot bersama oleh Islam dan Nasrani. Dalam hal ini kita menyaksikan adanya ifrath dan tafrith (dua sisi sikap ekstrim, pent). Di satu sisi, kehidupan umat manusia terusik oleh keberadaan para diktator dan unsur-unsur terbuka maupun terselubung yang merampas kebebasan masyarakat dalam berbagai bidang. Di sisi lain, ada pula kecenderungan yang mendorong manusia untuk hidup bebas tanpa batas. Di mata semua agama, dua fenomena ekstrim ini sama-sama menyimpang. Islam dan Nasrani sama-sama menolak dua fenomena tersebut. Salah satu tugas utama setiap orang yang peduli kepada nasib umat manusia dan generasi muda ialah memerangi dekadensi moral dan perilaku tanpa batas yang kian hari kian merajalela di dunia. Dalam hal ini, tentu berat tugas yang harus diemban oleh institusi keagamaan Nasrani di Eropa. Ada tangan-tangan kuat yang terus bergerilya memarakkan perilaku asusila. Karena itu, sudah selayaknya lembaga-lembaga gereja berpengaruh, khususnya Katolik, melawan fenomena yang notabene laten ini dengan serius dan rasional. Jika ini mereka lakukan, maka masyarakat di banyak negara non-Eropa akan sangat berterima kasih kepada mereka, sebab sebagian fenonema kebejatan moral menyebar dari satu tempat ke tempat lain.
Membela Keadilan dan Kaum Tertindas
Jika agama terlibat dalam perjuangan membela keadilan dan kaum tertindas, akan banyak daya tarik agama yang teraktivasi. Di manapun, para pemuda sangat antusias terhadap gerakan pro-keadilan. Agama mengajarkan keadilan. Para kampiun keadilan di dunia tak lain adalah figur-figur agamawan. Nabi Isa al-Masih sepanjang hayatnya berjuang demi keadilan. Begitu pula Nabi Besar Muhammad Saw. Para pemuka Nasrani di awal-awal masanya juga banyak berkorban demi tegaknya keadilan. Teks-teks suci agama, baik Taurat, Injil maupun AlQuran, sangat menekankan upaya penegakan keadilan. Jika isu pro-keadilan sekarang juga dikumandangkan oleh para agamawan Nasrani maupun Muslim, maka ini menjadi daya tarik yang luar biasa. Kaum Yahudi yang beriman kepada Taurat –bukan Zionis, sebab Zionis tidak memiliki keimanan apapun- juga merupakan umat yang mendambakan keadilan.
Urgensi Hubungan Dengan Tuhan Bagi Kehidupan Manusia
Manusia tidak akan bisa hidup normal tanpa ada hubungan dengan Tuhan-nya. Contohnya adalah masyarakat komunis. Semua gereja tiba-tiba disesaki umat ketika sistem Marxisme yang ateis kehilangan kekuatannya di Uni Soviet. Padahal, kaum Marxis mengira rakyat sudah tidak mungkin lagi mendatangi gereja karena Marxisme sudah 70 mengkampanyekan ateisme. Inilah kesalahan fatal mereka. Masyarakat tetap berduyun-duyun menuju gereja walaupun sudah 70 tahun mereka diasingkan dari agama. Jika sekarang Anda ke Rusia atau negara-negara Eropa Timur, Anda akan menyaksikan betapa gereja kini sudah padat jemaat. Gerakan rakyat Polandia melawan Marxisme pada prinsipnya adalah gerakan agamis Nasrani.
Spiritualitas, Titik Temu Semua Agama
Meskipun dalam banyak hal berbeda, semua agama ketuhanan tetap memiliki berbagai titik temu. Salah satu titiknya yang terpenting adalah besarnya perhatian semua agama itu kepada spiritualitas. Agama membangkitkan kesadaran manusia bahwa realitas tidak terbatas pada fenomena yang tersadap dengan perangkat inderawi. Agama menyadarkan mereka bahwa di balik semua fenomena terdapat hakikat yang jauh lebih besar dan nyata.
Sekarang spiritualitas di dunia sudah dirasakan sebagai sesuatu yang memang eksis. Sayangnya, arus yang lebih kuat justru bergerak ke arah yang berlawanan. Karena itu, sudah cukup untuk disebut sebagai satu pengabdian besar jika umat beragama berusaha melawan arus tersebut semampunya. Di sinilah Islam dan Nasrani bisa bertemu. Dialog antarpemuka agama sudah seharusnya difokuskan pada masalah ini. Agama-agama sejati tentu tidak menganjurkan masyarakat menjauh dari usaha-usaha duniawi. Agama hanya memberikan pengertian kepada umat manusia bahwa semua kegiatan duniawi bisa diarahkan sebagai bagian dari proses pendakian spiritual. Karena itu, agama menuntun jiwa mereka kepada hakikat nan cemerlang. Mengabaikan hakikat ini sama dengan menjerumuskan diri sendiri kepada kebinasaan total. Manusia masa kini sudah terlampau mengabaikan hakikat ini. Kolosalitas gerakan materialisme di seluruh belahan dunia telah menyebabkan manusia terbius dan hilang kesadaran.
Benturan Antara Nasrani dan Islam
Benturan antara Nasrani dan Islam sesungguhnya tidak ada dan tidak akan pernah ada. Jika yang dimaksud dengan benturan antara Islam dan Nasrani ialah konflik antara negara yang bangsanya memeluk Islam di satu pihak dan negara yang bangsanya memeluk agama Nasrani di pihak lain, maka harus diingat bahwa konflik seperti ini tidak lebih besar dari konflik antarnegara yang penduduknya sama-sama beragama Nasrani. Dengan rasa prihatin harus diakui bahwa ambisi perang memang ada di tengah pergaulan antarbangsa. Dan patut diakui pula bahwa dalam 70 tahun terakhir ini dunia Nasrani telah dilanda dua peperangan yang dampaknya juga menerjang umat Islam.
Persatuan yang diserukan oleh pemerintahan Republik Islam kepada umat Islam dimaksudkan bukan untuk berkonfrontasi dengan umat Nasrani atau agama dan bangsa-bangsa lain, melainkan untuk melawan kaum agresor dan ambisius perang, menegakkan norma-norma etika, menghidupkan rasionalitas dan keadilan Islami, menggalang kemajuan di bidang sains dan ekonomi, dan membangkitkan lagi kehormatan Islam. Pemerintahan Republik Islam mengingatkan kepada khalayak dunia bahwa ketika Baitul Maqdis berada di tangan umat Islam di era Khulafa’ Rasyidin, umat Nasrani dan Yahudi bisa hidup dengan aman dan tentram. Namun, ketika Baitul Maqdis diduduki oleh kaum Zionis atau Kristen-Zionis, darah umat Islam tiba-tiba dipandang halal untuk ditumpahkan!!
Agama Rahmat dan Kasih Sayang
Islam tidak memerangi agama-agama lain. Islam adalah agama yang ketika berkuasa di wilayah non-Muslim, para pemeluk agama-agama lain di sana justru mengapresiasi Islam sebagai agama yang membawa rahmat. Mereka menilai penguasa Muslim lebih santun dan ramah daripada penguasa-penguasa sebelumnya. Ketika prajurit Islam membebaskan kawasan Syam, umat Yahudi maupun Nasrani di sana mengakui keramahan umat Islam kepada masyarakat. Islam memang agama rahmat dan kasih sayang; rahmatan lil’alamin (pembawa rahmat bagi semesta alam). Kepada umat Nasrani Islam berkata;
تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
“… marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian.” (QS.3.64)
Islam mengindahkan berbagai persamaan dan titik temunya dengan Nasrani. Islam tidak memelihara kebencian terhadap bangsa dan agama lain. Islam hanya menekankan perlawanan terhadap penindasan, kezaliman, antagonisme, dan ambisi-ambisi kotor. Namun, realitas ini diputar balik oleh kaum ambisius, tiran, dan arogan. Mereka mendistorsinya di depan masyarakat dunia dengan mengerahkan segenap fasilitas propagandanya, termasuk lembaga Hollywood dan lembaga-lembaga pemberitaan, serta senjata dan kekuatan militer.
Bab Ketiga: Nasrani di Era Modern
Ajaran Nasrani di Tengah Kita
Seandainya Nabi Isa al-Masih as sekarang ada di tengah kita, sudah pasti beliau tidak pernah kendur berjuang melawan para penindas dan kekuatan-kekuatan arogan dunia. Beliau pasti tidak akan tahan menyaksikan milyaran manusia kelaparan dan terlantar akibat ulah kekuatan-kekuatan raksasa yang membawa mereka ke arah perang, korupsi, dan kebuasan.
Inflitrasi Kaum Imperialis
Salah satu misi imperialisme di dunia ialah membasmi ideologi pengharapan dan spirit perjuangan di hati masyarakat. Mereka sudah berkali-kali berusaha memadamkan pelita ini tapi selalu gagal. Usaha mereka gencar bukan hanya di Iran, tapi juga di seluruh bagian Dunia Islam. Sudah cukup lama terbetik laporan serius bahwa kelompok-kelompok misionaris berdatangan dari Eropa ke wilayah utara Afrika dengan tujuan melicinkan misi para imperialis. Para pendeta berdatangan ke berbagai kawasan terpencil Afrika dan menetap di sana selama bertahun-tahun. Untuk apa? Mengapa Kristenisasi suku-suku di Afrika sedemikian mereka perlukan? Semua sudah mengetahui bahwa mereka sebenarnya adalah corong kaum imperialis. Tugasnya adalah mengkristenkan penduduk pribumi agar para imperialis bisa menggarap rencana-rencananya di sana dengan mulus. Para pendeta itu bukannya tidak mengetahui apa yang mereka lakukan di sana. Tapi coba perhatikan; demi tujuan ini mereka sudi hidup bersusah payah; hal yang sama sekali tidak dapat ditukar dengan harta. Di situ bahkan ada orang yang bersedia tinggal tujuh tahun, misalnya, di tempat yang dihuni oleh manusia-manusia kanibal! Ini terungkap dan tergambarkan di berbagai literatur, laporan, film, dan karya-karya roman. Saya mengetahui apa yang dilakukan oleh para imperialis selama ini.
Salah satu masalah yang paling dikeluhkan umat beragama di dunia ialah tindakan para penguasa di negara-negara Nasrani menjadikan agama sebagai kemasan untuk mengusung imperialismenya. Kelompok-kelompok misionaris menjadikan ajaran yang secara lahiriah Nasrani sebagai kedok untuk melicinkan ambisi para imperialis Eropa. Mereka mendatangi negara-negara Islam dan berbagai negara dunia lainnya kemudian mencengkeram kekuatan politik di sana. Naifnya, usaha mereka ini berhasil di banyak negara.
Berakhirnya Era Keagamaan dan Dimulainya Era Sains
Di Eropa, bermulanya kebangkitan sains identik dengan berakhirnya era keagamaan. Konon demikian dan bisa jadi memang demikian. Sebab, ajaran keagamaan di lingkungan Nasrani sarat dengan khurafat, fanatisme, dan bertolak belakang dengan ilmu pengetahuan. Kondisi ketika di Eropa seorang ilmuwan dihukum penjara, cambuk atau bahkan dibakar karena menghasilkan temuan ilmiah jauh berbeda dengan kondisi kita sekarang. Sebagaimana tergambar jelas dalam literatur dan sejarah perkembangan sains di Barat, selama sekian abad ilmuwan dipandang sebagai penyihir yang layak dihukum bakar. Akibatnya, agama dipandang nista dan diperangi habis-habisan ketika sains berhasil menemukan pengaruh dan kekuatannya di tengah masyarakat. Dan era keagamaanpun berakhir. Ini wajar terjadi.
Agama yang diberontak oleh para intelektual Eropa memang tidak sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat. Agama demikian, yaitu ajaran yang telah menghukum mati ilmuwan Galileo dan para ilmuwan yang lain, jelas berbau khurafat. Dosa mereka adalah menghasilkan temuan ilmiah! Ajaran ini jelas bukan ajaran Nasrani yang sesungguhnya. Jadi yang patut dipersoalkan memang bukan pemberontakan sains terhadap agama, melainkan perlawanan terhadap tindakan yang memisahkan sisi spiritualitas dan etika dari sains, politik, tatanan hidup dan pergaulan individual dan sosial.
Ketidak Berimanan Kepada Al-Masih
Sekarang tak perlu disangsikan lagi bahwa doktrin keagamaan yang terkemas dalam demokrasi dan HAM bukanlah faktor yang mendorong ambisi mayoritas –kalau bukan semuanya- penguasa Barat. Polos sekali jika kita menduga bahwa semangat kekerasan yang menghasilkan pembantaian umat Muslim Bosnia oleh milisi Serbia dan pembantaian umat Islam di kawasan-kawasan lain bersumber pada keimanan al-Masih. Orang-orang yang gigih memusuhi Islam dan alergi terhadap segala bentuk gerakan kaum Muslim sama sekali tidak beriman kepada ajaran al-Masih yang sesungguhnya. Mereka hanya beriman kepada doktrin monopoli kekuasaan dan kepentingan, hawa nafsu, dan kebenciannya yang meluap-luap kepada siapapun yang berani mengusik ambisi mereka! Celakanya, tangan mereka yang sudah berlumur darah itu berhasil menjalankan skenario Nasrani versus Islam. Padahal semangat permusuhan terhadap Islam muncul hanya dari luapan ambisi mereka sendiri.
Anti Spiritualitas
Di tengah kehidupan dunia yang sudah bercorak materialisme ini, pemerintahan Republik Islam Iran berdiri justru dengan basis spiritualitas. Inilah yang patut diperhatikan terlebih dahulu sebelum menyorot soal apakah pemerintahan itu Islami atau Nasrani. Yang penting adalah terkikisnya arus yang menggiring masyarakat dunia, tak terkecuali kalangan agamawan ke arah kontra-spiritualitas! Agamawan memang tak luput dari arus despiritualisasi. Sebuah geraja, misalnya, bisa terpaksa disiasati sedemikian rupa agar memiliki daya tarik di mata kaum remaja dengan cara membuat event-event hiburan seperti disko. Umat Nasrani mestinya sulit membayangkan betapa keadaan sudah sedemikian runyam sehingga event-event seperti itu bisa diadakan oleh seorang pastur!
Seorang penulis kesohor Arab dalam sebuah karya tulisnya mengatakan, “Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri seorang pastur ada di sebuah acara disko di tengah pasangan muda mudi laiknya seorang event organizer. Dia memperhatikan apakah penerangan, misalnya, sudah cukup sesuai atau tidak dengan suasana acara. Dia sendiri yang menata lampu dan mengatur pencahayaan agar tidak terlalu terang. Kemudian dia menyuruh pelayan gereja supaya semua pintu ditutup setelah para pengunjung bubar. Setelah itu dia baru bisa beristiarahat.”
Penulis Arab tadi menambahkan, “Esok atau lusanya saya mendatangi gereja dan bertanya; ‘Tuan Pastur, kondisi sepertinya sudah sedemikian berubah?’ Pastur menjawab, ‘Bukan begitu, ini adalah cara kami menyiasati para pemuda supaya tertarik datang ke gereja. Bukankah Anda sudah melihat bagaimana muda-mudi berdatangan ke gereja?!’”
Kisah ini menggambarkan adanya arus penjauhan dari spiritualitas yang bahkan menerpa kalangan agamawan. Bukankah pendeta tadi adalah rohaniwan Nasrani?! Contoh-contoh serupa juga ada pada kalangan agamawan Islam, baik Syiah maupun Sunni. Di tengah momen historis sedemikian rupa, peristiwa spektakuler tiba-tiba terjadi; sebuah negara berbasiskan spiritualitas berdiri. Pemerintahan ini mengkampanyekan norma-norma spiritual dan menjadikannya sebagai asas dalam menjalankan pemerintahan, menentukan perang atau damai, menyusun anggaran, dan membuat kebijakan politik. Mungkin bisa dikatakan bahwa sistem pemerintahan seperti ini hanya pernah ada pada penggalan-penggalan kecil sejarah. Rezim-rezim teokratis dengan konsepsi masing-masing tentang pemerintahan teokratis tentu selalu ada di berbagai belahan dunia, terutama di dunia Nasrani. Namun, sistem dan pemerintahan Islam Iran berbeda dengan semua itu. Sebab yang ditampilkan oleh rezim-rezim tersebut bukanlah kedaulatan nilai-nilai agama dan spiritual, melainkan kekuasan sosok agamawan.
Ketidakpedulian Gereja Terhadap Isu Keadilan
Institusi-institusi kegamaan Nasrani sekarang boleh dikata tidak peduli kepada persoalan yang paling krusial bagi umat manusia. Ketidak-adilan kini sedang melanda dunia, tapi apa yang diperbuat oleh kalangan Nasrani untuk menghadapi fenomena ini? Mereka meneriakkan slogan perdamaian! Slogan perdamaian tentu saja sangat menarik bagi umat manusia, tapi ini saja masih belum cukup. Slogan perdamaian harus dibarengi dengan slogan keadilan. Manusia sekarang terbelenggu oleh ketidak-adilan. Ada kekuatan-kekuatan besar sedang menindas berbagai bangsa dan umat manusia. Orang-orang Eropa mengumandangkan slogan perdamaian, padahal mereka sendirilah yang mengobarkan berbagai peperangan besar.
Sekarang sudah puluhan tahun tidak ada perang seperti itu, tapi isu perdamaian mereka jadikan pretensi. Padahal, yang dibutuhkan oleh umat manusia sekarang adalah keadilan. Tragisnya, slogan keadilan tidak pernah meluncur dari gereja dan dari lisan Paus. Kalangan gereja hanya menonton dan membiarkan apa yang terjadi! Pemerintahan Islam di Iran sama sekali tidak bisa menerima sikap gereja tersebut terhadap arogansi Barat. Tanggungjawab gereja jauh lebih besar dari sekedar mengkampanyekan perdamaian. Saya sudah melayangkan pesan kepada Paus supaya mengedepankan isu keadilan. Semua agama sekarang harus mengedepankan pesan penegakan keadilan, yaitu pesan utama Nabi Musa as, Nabi Isa as, dan Nabi Besar Muhammad Saw.
Dampak Keterjauhan Dari Ajaran al-Masih as
Orang-orang Eropa dan terlebih lagi orang-orang AS berminat pada agama, label-label agama, dan cover-cover keagamaan. Namun, perilaku mereka memperlihatkan kedangkalan dalam mempersepsikan agama. Mereka tidak melihat adanya kontradiksi antara pengharapan mereka kepada al-Masih atau Bunda Maria, misalnya, dengan berbagai perilaku amoral dan maksiat yang biasa mereka lakukan. Kemudian, doktrin permohonan mereka juga tidak berlandaskan argumentasi-argumentasi logis. Doktrin Nasrani –sesuai yang umum- didasarkan pada kecintaan dan perdamaian. Tapi Barat sendiri ternyata paling banyak dilanda perang, kekerasan, pengkhianatan, dan kriminalitas. Padahal di saat yang sama di sana terdapat keyakinan kepada doktrin Nasrani. Ini lantas menandakan bahwa sekularisme memang sudah menjadi fondasi peradaban di sana.
Sesuai data mereka sendiri, usia rata-rata pecandu narkoba di sana terus menurun; dari yang semula 17 tahun turun menjadi 15 tahun dan kini anjlok ke usia 13 tahun! Rasio yang sama terjadi pada kasus-kasus kriminal dan apatisme terhadap keluarga, ayah, ibu dan tradisi. Ini adalah akibat dari sekularisme. Sebenarnya tidak mustahil manusia menemukan energi atom, misalnya, tapi tidak menggunakannya untuk membuat senjata pemusnah massal. Ini tidak mustahil seandainya orang-orang yang menguasai sains di bidang ini patuh kepada norma-norma etika, menjaga keimanannya kepada agama. Tapi mereka tidak demikian sehingga naiflah apa yang mereka suguhkan kepada bangsa-bangsa dunia. Sudah sekitar setengah abad silam bom atom diciptakan kemudian diledakkan, tapi sampai sekarang keberadaan bom ini masih sangat dan semakin meresahkan. Tidak ada kemungkinan keresahan ini akan menurun.
Beberapa waktu lalu sebuah lembaga Nasrani dunia mengumumkan data bahwa pada abad terakhir ini, jumlah warga Nasrani yang menjadi korban pembunuhan telah mencetak rekor. Saya lantas ingin bertanya kepada pihak yang mengajukan data ini; siapa yang membunuhi warga Nasrani itu? Apa orang Islam yang membunuh mereka? Apakah umat Budha? Atau pembunuhnya adalah orang-orang Nasrani sendiri?! Siapa yang membunuh penduduk Eropa dalam Perang Dunia I dan Perdang Dunia II? Mereka dibantai oleh orang-orang Nasrani sendiri, orang-orang Eropa dan Barat sendiri. Dan banyak pula warga non-Nasrani dan non-Barat yang tewas di tangan mereka!
Kondisi minus spiritualitas menimbulkan akibat yang sangat fatal dan tak berkesudahan untuk umat manusia. Pemerintah Republik Islam bercita-cita menampilkan sebuah generasi teladan yang dapat membuktikan kepada dunia bahwa generasi ini mampu menguasai sains dan teknologi serta memanfaatkan anugerah Ilahi di alam semesta dan dalam diri manusia sendiri ini secara maksimal meskipun mereka adalah generasi masyarakat yang salih dan berkomitmen kepada norma-norma etika dan spiritual.
Klaim Bohong
Banyak orang mengaku sebagai pengikut al-Masih as, tapi dalam praktiknya mereka tidak demikian. Isa al-Masih as menggiring manusia kepada penghambaan kepada Allah Swt serta mengajarkan kepada mereka perlawanan terhadap para Fir’aunis. Namun, sekarang tak sedikit orang yang mengaku sebagai pengikut beliau justru berada di posisi para Fir’aunis yang diperangi oleh beliau. Kekuatan-kekuatan besar sering mengesankan diri mereka sebagai kaum yang beriman kepada ajaran al-Masih as. Namun, makna ajaran al-Masih as sebagai sebuah agama ketuhanan dan etika tidak pernah dimengerti oleh para gembong kekuatan politik yang dominan di kalangan yang selama ini gemar menebar kezaliman, arogansi, agresi dan kejahatan. Semua itu dilakukan dengan mengerahkan kehebatan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sekarang ada di tangan pihak-pihak yang buta akan nilai-nilai kemanusiaan. Sains dan teknologi mereka gunakan untuk tujuan-tujuan yang sepenuhnya merugikan masyarakat manusia dan hanya menguntungkan para pemodal, para penimbun kekayaan, dan para imperium.
Bab Keempat: Republik Islam Iran dan Warga Minoritas Nasrani
Pengaruh Revolusi Islam di Dunia Nasrani
Revolusi kita bukan hanya mengalirkan spirit umat Islam untuk kembali kepada Islam, tetapi juga membuahkan pengaruh positif untuk kalangan Nasrani. Terimbas oleh pengaruh revolusi Islam, masyarakat berbagai negara yang sekian lama terasing dari agamanya, Nasrani, akhirnya ikut bersemangat untuk kembali kepada spiritualitas dan agama. Kondisi ini menjadi satu pendahuluan bagi kehancuran imperium Timur dan konstruksi doktrin marxisme di dunia. Ini adalah peristiwa yang amat menakjubkan dan sangat fenomenal. Kemudian, posisi Republik Islam Iran juga terangkat oleh kedahsyatan resistensinya terhadap kekuatan-kekuatan raksasa yang lahir dari rahim doktrin materialisme, yaitu doktrin yang sama sekali tidak apresiatif terhadap etika, spiritualitas, dan agama.
Kerukunan Hidup di Iran
Pemerintahan Republik Islam Iran ada di sebuah negara yang memang terhiasi oleh kerukunan hidup antarumat beragama. Umat Yahudi, Nasrani, Zoroaster, dan Islam bisa hidup berdampingan di bawah pemerintahan Islam. Mereka kooperatif dan ikut berkiprah dalam pemerintahan. Karena itu, tentu ada kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh pemerintahan Islam terhadap mereka. Pemerintahan Islam tidak pernah mengeluhkan perilaku warga minoritasnya. Bahkan, ketika musuh-musuh Republik Islam mencoba mengusik Iran dengan isu penindasan warga Yahudi, ternyata warga Yahudi sendiri angkat bicara membela pemerintahan Islam Iran. Ketika hal serupa terjadi berkenaan dengan warga Nasrani, pembelaan terhadap Republik Islam juga dilakukan warga Kristen Armenian dan beberapa sekte Nasrani lainnya. Semua ini jelas merupakan kebanggaan bagi Republik Islam.
Warga Minoritas Nasrani Iran
Berikut ini adalah Pesan Rahbar Dalam Pertemuan Dengan Uskup Agung Kristen Armenian dan Para Wakil Rakyat Armenian di Majelis Shura Islam;
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Kami merasa bahagia atas kesejahteraan, ketentraman, dan kebahagiaan saudara-saudara kami setanah air dari kalangan Nasrani, begitu pula atas adanya sebagian dari mereka yang ikut mengabdi kepada negara. Ini sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Kita sama-sama menghendaki warga penganut agama minoritas di negeri kita ini, baik Nasrani, Yahudi, maupun Zoroaster, ikut menikmati keamanan, ketenteraman, dan semua haknya sebagai warga negara. Dan –alhamdulillah- harapan ini terpenuhi.
Kami juga perlu menyampaikan apresiasi kami atas simpati dan duka cita saudara-saudara yang mulia atas bencana gempa bumi Bam, walaupun simpati Anda ini memang sudah sewajarnya. Di era Perang Pertahanan Suci selama delapan tahun pun warga Kristen Armenian Iran juga ikut berkiprah besar di bidang logistik dan teknis, sebab warga Armenian di Tehran maupun di tempat-tempat lain banyak yang mahir di bidang teknik. Bahkan sejak sebelum kemenangan revolusi Islam, saya sendiri tahu persis kemahiran warga Armenian di bidang teknik semisal teknik otomobil. Saat kita dilanda perang, mereka datang kepada kami dan menyatakan siap memainkan peranan.
Sekitar tahun 1359 – 1360 (1980-1981) mereka bergegas ke Ahvaz dan mendirikan kamp-kamp di sana. Saya sempat meninjau kamp-kamp mereka. Di kesempatan lain ketika saya berada di Tehran saya didatangi sekitar 100 orang warga Armenian yang menyatakan keinginannya untuk ikut berperang. Mereka minta dikirim ke medan laga. Saya lantas menginstruksikan supaya mereka diberangkatkan dengan pesawat terbang. Karena itu, bukanlah sesuatu yang mengejutkan ketika Anda turut berbelasungkawa atas tragedi Bam.
Saya tentu menjalin hubungan silaturahim sebaik dan sedekat mungkin dengan keluarga-keluarga Armenian dan Ashuri di Tehran yang telah ikut mempersembahkan anggota keluarganya sebagai martir di medan pertempuran. Saya memahami kebaikan hati dan jiwa mereka. Semoga Allah memberi kita kemampuan bergerak di jalan yang benar. Semoga Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang dan petunjuk-Nya kepada kita semua. Salam sejahtera saya untuk segenap warga Armenian atas tibanya tahun baru dan hari raya kelahiran Al-Masih as.
Kecintaan dan Kedekatan
Saya bersimpati dan merasa dekat dengan warga Armenian Iran. Kami bersimpati kepada umat Nasrani. Sepanjang era revolusi dan perang, mereka telah banyak membantu kami. Anda tentu mendengar kiprah mereka, tapi saya mengetahuinya dari dekat. Di berbagai medan pertempuran saya sering berjumpa dengan prajurit Armenian Iran yang ikut berjuang membantu kami di tengah kecamuk serangan bom dan peluru musuh. Tentunya yang saya maksud adalah mereka yang datang ke medan perang secara sukarela bukan karena kewajiban militer.
Kami memperlakukan warga penganut agama minoritas di Iran seperti saudara-saudara kami yang lain. Karena itu kami juga bersilaturahim ke rumah-rumah mereka tanpa terbersit pikiran bahwa mereka berbeda agama dengan kami atau bahwa mereka tidak menerima ajaran Islam. Saya sendiri biasanya setiap tahun selalu bertamu ke rumah-rumah keluarga para martir kita dari kalangan Nasrani, baik dari aliran Ashuri maupun aliran Armenian. Saya duduk beramah tamah dengan putera-puteri dan isteri para martir dan menikmati jamuan mereka.
Arsip Blog
Jumat, 01 Januari 2010
Senin, 24 Agustus 2009
Fatwa Mati Salman Rushdi
18 tahun Fatwa Mati Salman Rushdi
Oleh: Saleh Lapadi
Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw tidak pernah berhenti di Barat. Benar, Imam Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdi. Namun, penghinaan terhadap Nabi Islam, Muhammad saw tidak pernah selesai. Permusuhan Barat terhadap Islam masih tetap berlangsung. Pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw di Denmark masih satu jalur dengan Ayat-ayat Setan Salman Rushdi. Sekalipun didemo di mana-mana, masih saja di sebagian negara-negara seperti Inggris, Azerbaijan dan terakhir Prancis yang proses pengadilannya tengah berlangsung, melakukan penghinaan.
Dengan nama-Nya Yang Maha Tinggi
Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Rajiuun.
Saya beritahukan kepada kaum muslimin pemberani di seluruh dunia. Telah diterbitkan buku Ayat-ayat Setan yang menghina Islam, Nabi dan al-Quran. Penulis serta penerbit buku itu hukumannya adalah MATI!
Saya mengharap kepada seluruh kaum muslimin pemberani yang menemukan mereka di mana saja untuk membunuh mereka. Sehingga tidak ada lagi orang yang berani menghina hal-hal yang disucikan oleh kaum muslimin.
Siapa saja yang mati dalam usaha membunuh mereka, terhitung sebagai syahid Insya Allah. Perlu diketahui, bila seseorang mengetahui keberadaan si penulis buku, namun ia sendiri tidak dapat membunuhnya, maka ia harus mengabarkan kepada orang lain sehingga mereka yang akan melakukan pembunuhan itu dan ia dapat merasakan akibat dari amal perbuatannya.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
25/11/1367 (14 Pebruari 1989)
Ruhullah al-Musawi al-Khomeini
Pendahuluan
Tanpa terasa, fatwa hukuman mati Salman Rushdi yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini telah berumur 18 tahun. Pada masa dikeluarkannya fatwa tersebut tidak ada yang membayangkan Imam Khomeini akan menyikapi buku Ayat-ayat Setan sekeras itu. Karena pada waktu itu, Iran baru saja menerima resolusi PBB nomor 598 yang berarti gencatan senjata dengan Irak. Dengan itu, Iran tentu disibukkan dengan usaha untuk melakukan perdamaian.
Semua lupa akan prinsip-prinsip berpikir Imam Khomeini. Pikirannya melewati batas-batas teritorial Iran dan orang-orang Iran. Imam Khomeini dalam segala urusannya hanya untuk Allah dan agama. Ia senantiasa berusaha untuk itu dan tidak pernah menunjukkan keletihan dalam masalah ini. Ketika Imam Khomeini mengetahui isi buku Ayat-ayat setan, ia langsung menciap kebatilan buku ini. Ada rencana di balik penerbitan buku itu. Itulah yang membuat beliau mengeluarkan fatwa bersejarahnya.
Lebih jauh tentang Salman Rushdi
Salman Rushdi lahir di kota Devanegari, Bombai India pada tanggal 19 Juni 1947. Setelah Pakistan berdiri sendiri, ia bersama keluarganya pindah ke Karachi dan setelah itu berimigrasi ke Inggris. Ia ke Inggris ketika berumur 13 tahun dan menyelesaikan sekolahnya di sana. Setelah menyelesaikan kuliahnya di jurusan sejarah di universitas Cambridge, ia kembali ke Pakistan. Dengan menulis artikel selama di Inggris, ia dapat membayar sebagian biaya sekolahnya sendiri. Akhirnya ia pindah warga negara Inggris.
Tujuh tahun setelah menulis artikel ia akhirnya berhasil menulis novel berjudul Midnight’s Children tahun 1981. Dengan buku itu ia mendapat hadiah sastra Inggris Booker Prize. Buku ini isinya mengkritik perlawanan rakyat India untuk merdeka dari tangan Inggris. Sekitar setengah juta naskah terjual. Pada tahun 1983 ia menulis buku Shame tentang kondisi Pakistan. Buku The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey 1987 adalah hasil dari perjalanan 3 minggunya ke Nikaragua.
Gaya penulisannya adalah Realisme, namun dengan mengubah semua tokoh asli begitu juga tempat kejadian. Gaya penulisannya tidak mengikuti pakem yang ada selama ini. Dengan ini ia sesuka hati ia menulis apa saja dan menisbatkannya kepada siapa saja yang disukainya. Bukunya yang paling menyedot perhatian adalah The Satanic Verses yang dikenal dengan nama Ayat-ayat Setan. Buku ini ditulisnya pada tahun 1988.
Latar belakang penulisan buku Ayat-ayat Setan
Menganalisa cara berpikir Salman Rushdi dapat lacak dari keluarganya. Ibunya adalah seorang penari bernama Vanita. Pada masa remajanya ia disukai oleh seorang pemuda bernama Raju. Vanita beberapa kali lewat Salim Khan, gubernur Bombai, melakukan penghinaan terhadap masjid. Pernah ia meletakkan kepala babi di undak-undakan masjid kemudian lari menyembunyikan dirinya. Ia juga pernah membakar upacara orang-orang Hindu dan menyebarkan bahwa itu dilakukan oleh kaum muslimin. Setiap kali ia melakukan penghinaan, ia mendapat bayaran dari Salim Khan.
Rupanya Salim Khan juga tertarik dengan Vanita dan hendak mempersuntingnya. Sebagai jawabannya ia menjawab: “Aku menikah karena uang dan kalau engkau punya uang aku menjadi milikmu”. Setelah setuju, ia akhirnya menikah dan dibawa ke istana. Ia menghabiskan malamnya di istana Lord William dan sejak malam itu, ia tidak keluar-keluar dari istana.
Ketika Lord William dipanggil untuk kembali ke Inggris, ia berkata kepada Vanita: “Aku punya istri di Inggris dan ayahnya punya pengaruh kuat di sana. Aku tidak dapat membawamu ke sana”. Lord William pergi. Vanita kembali ke pelukan Raju yang masih menantinya. Setelah Vanita melahirkan anaknya ia meninggal. Raju membawa anak itu dan meninggalkannya di masjid. Seorang bernama Safdar menemukan bayi tersebut dan membawanya pulang ke rumahnya. Ia kemudian memberinya nama Salman. Ia besar di keluarga muslim.
Semenjak kecilnya ia terkenal nakal. Pada umur tiga belas tahun ia sudah tiga belas kali ditahan polisi. Pada masa itu, istri Lord William meninggal. Karena tidak punya anak dari istrinya, ia kemudian mengingat Vanita dan anaknya. Ia mengirim surat kepada Salim Khan untuk menemukan anaknya. Lewat Raju, Lord William menemukan Salman. Ketika tahu bahwa dia adalah anak dari seorang perwira inggris, ia sangat senang. Ia kembali ke rumah. Di rumah ia menemukan ibu angkatnya tengah menunaikan salat. Ketika sujud, ia menginjak kepala ibu angkatnya sehingga kepalanya terluka. Ia keluar dari rumah dan kemudian berangkat ke Inggris.
Ia kemudian di masukkan asrama melanjutkan sekolahnya di Inggris. Di sana ia berkenalan dengan Umar anak Mesir. Mereka kemudian menjalin percintaan dan sepakat untuk menikah. Mereka akhirnya membuka ajaran-ajaran agama yang memperbolehkan perkawinan sesama jenis. Mereka tidak menemukan ajaran yang memperbolehkan. Ketika Madame Rosa ibu asrama mengetahui gelagat ini, ia menyurati ayah Umar yang berpangkat jenderal. Ayahnya datang untuk membawa anaknya pulang ke Mesir. Umar yang begitu cinta kepada Salman akhirnya membakar dirinya. Setelah Umar meninggal, Salman sangat terpukul dan memutuskan untuk membalaskan dendamnya terhadap agama-agama.
Ayat-ayat Setan
Salman Rushdi menulis banyak buku. Bila jeli melihat karangan-karangannya, kebanyakan isinya menghina agama dan keyakinan masyarakat setempat. Dalam bukunya Grimus (1975), secara terang-terangan ia menghina keyakinan orang-orang India. Buku Shame (1983) ditulisnya juga dengan isi yang sama.
Midnight’s Children (1981) ditulis mengkritik perjuangan rakyat India untuk mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris. Bukunya The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey (1987) terkait dengan situasi politik di Nikaragua dan keyakinan masyarakatnya.
Puncak penghinaannya terhadap agama dengan menulis novelnya yang berjudul The Satanic Verses (1988). Ia menulis buku ini pada usia 47 tahun. Sebelum ia menulis buku ini, ia ikut hadir dalam sebuah pertemuan yang bermaksud untuk menghancurkan agama tidak lagi dengan senjata, tapi dengan tulisan. Tujuan itu terealisasikan dengan diterbitkannya buku ini.
Untuk pertama kalinya ketika dicetak dalam 547 halaman. Buku ini dicetak oleh penerbit Viking anggota jaringan penerbit Penguin. Salman Rushdi menulis buku ini karena pesanan pimpinan Viking, seorang Yahudi, dengan bayaran gila-gilaan 850 ribu pound.
Buku Ayat-ayat Setan bukanlah buku ilmiah, melainkan hanya sekedar fantasi penulis. Sekalipun demikian, penghinaannya terhadap keyakinan yang disucikan oleh kaum muslimin tidak dapat dibiarkan begitu saja.
Untungnya, Imam Khomeini cepat tanggap rencana besar dibalik penerbitan buku ini. Beliau kemudian mengeluarkan fatwa hukuman mati yang bersejarah. Fatwa ini membuat skenario besar itu prematur. Umat Islam tersadar dan ini membuat Barat lebih berhati-hati. Inggris sebagai pembela nomor satu Salman Rushdi mencoba menekan Iran dengan ancaman ekonomi dan politik agar Imam Khomeini menarik kembali fatwanya. Tidak cukup itu saja, dengan menggerakkan 12 negara lainnya mereka kemudian memburukkan citra Iran dan Imam Khomeini.
Di balik tekanan dari negara-negara Barat, keteguhan Imam Khomeini membuat mereka lelah dan kemudian pasif menerima. Di sisi lain, ini seperti meniupkan semangat baru ke dalam dunia Islam. Penerbit buku Ayat-ayat Setan, Viking, langsung mengeluarkan pernyataan: “Penerbit dan penulis tidak punya maksud menyakiti kaum muslimin. Kami sangat menyesal dengan kejadian ini. Penerbitan buku Ayat-ayat Setan dilakukan karena ditulis oleh seorang penulis top dan isinya fiktif. Penerbitannya karena menghormati kebebasan berekspresi. Salah satu prinsip demokrasi”.
Salman Rushdi sendiri dalam wawancaranya dengan CBS mengatakan:
“Buku ini punya dua khayalan yang coba saya hubungkan dengan munculnya sebuah agama yang mirip dengan Islam. Tapi ini sebuah Islam khayalan. Tokoh yang berkhayal dalam buku itu, pada intinya akalnya telah hilang, gila. Bila seorang berkhayal semacam ini, sangat aneh bila tulisan ini dianggap menghina Islam. Sama sekali saya tidak berniat itu”.
Sempat muncul bisik-bisik di Iran, bahwa bila Salman Rushdi bertobat, mungkin saja tobatnya diterima. Namun, hal ini ditolak oleh kantor Imam Khomeini. Bahkan disebutkan seandainya Salman Rushdi kemudian menjadi orang paling zuhud di muka bumi pun, membunuhnya adalah wajib.
Hukuman mati telah dihapus?
Imam Khomeini pada tahun itu juga, 1987, berbicara di hadapan para rohaniwan:
“Masalah buku Ayat-ayat Setan adalah rencana yang telah disiapkan dengan baik untuk menghancurkan akar ajaran Islam dan keberagamaan umat Islam. Puncak dari semua itu adalah Islam dan rohaniwan”.
Ketika fatwa Imam Khomeini tidak lagi diulang-ulangi, Barat mulai berani mengeluarkan isu bahwa fatwa Imam telah ditarik kembali. Isu ini dimunculkan tidak hanya sekali, tetapi dimuat berulang-ulang. Ayatullah sayyid Ali Khamene’i bereaksi dengan keras.
Pada musim haji dua tahun lalu beliau mengeluarkan pernyataan:
“Hukuman mati yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini terhadap Salman Rushdi berlandaskan ayat-ayat al-Quran. Sebagaimana ayat-ayat lain yang kokoh dan tidak dapat dihapus, hukum ini tetap dan tidak dapat dihapus”.
Penutup
Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw tidak pernah berhenti di Barat. Benar, Imam Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdi. Namun, penghinaan terhadap Nabi Islam, Muhammad saw tidak pernah selesai. Permusuhan Barat terhadap Islam masih tetap berlangsung. Pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw di Denmark masih satu jalur dengan Ayat-ayat Setan Salman Rushdi. Sekalipun didemo di mana-mana, masih saja di sebagian negara-negara seperti Inggris, Azerbaijan dan terakhir Prancis yang proses pengadilannya tengah berlangsung, melakukan penghinaan.
Masihkah Barat tidak ingin mengambil pelajaran dari fatwa ulama Islam seperti Imam Khomeini? Bila ditanya, mengapa kalian melindungi dan membiarkan orang-orang menghina keyakinan orang lain? Jawabannya adalah kebebasan berekspresi. Kebebasan berekspresi yang selalu dijajakan untuk menghina keyakinan orang lain. Pertanyaannya, adakah kebebasan yang memperbolehkan menghina keyakinan orang lain?.[]
Penulis: Pimred Islam Alternatif
Qom, 24 Pebruari 2007
Oleh: Saleh Lapadi
Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw tidak pernah berhenti di Barat. Benar, Imam Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdi. Namun, penghinaan terhadap Nabi Islam, Muhammad saw tidak pernah selesai. Permusuhan Barat terhadap Islam masih tetap berlangsung. Pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw di Denmark masih satu jalur dengan Ayat-ayat Setan Salman Rushdi. Sekalipun didemo di mana-mana, masih saja di sebagian negara-negara seperti Inggris, Azerbaijan dan terakhir Prancis yang proses pengadilannya tengah berlangsung, melakukan penghinaan.
Dengan nama-Nya Yang Maha Tinggi
Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Rajiuun.
Saya beritahukan kepada kaum muslimin pemberani di seluruh dunia. Telah diterbitkan buku Ayat-ayat Setan yang menghina Islam, Nabi dan al-Quran. Penulis serta penerbit buku itu hukumannya adalah MATI!
Saya mengharap kepada seluruh kaum muslimin pemberani yang menemukan mereka di mana saja untuk membunuh mereka. Sehingga tidak ada lagi orang yang berani menghina hal-hal yang disucikan oleh kaum muslimin.
Siapa saja yang mati dalam usaha membunuh mereka, terhitung sebagai syahid Insya Allah. Perlu diketahui, bila seseorang mengetahui keberadaan si penulis buku, namun ia sendiri tidak dapat membunuhnya, maka ia harus mengabarkan kepada orang lain sehingga mereka yang akan melakukan pembunuhan itu dan ia dapat merasakan akibat dari amal perbuatannya.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
25/11/1367 (14 Pebruari 1989)
Ruhullah al-Musawi al-Khomeini
Pendahuluan
Tanpa terasa, fatwa hukuman mati Salman Rushdi yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini telah berumur 18 tahun. Pada masa dikeluarkannya fatwa tersebut tidak ada yang membayangkan Imam Khomeini akan menyikapi buku Ayat-ayat Setan sekeras itu. Karena pada waktu itu, Iran baru saja menerima resolusi PBB nomor 598 yang berarti gencatan senjata dengan Irak. Dengan itu, Iran tentu disibukkan dengan usaha untuk melakukan perdamaian.
Semua lupa akan prinsip-prinsip berpikir Imam Khomeini. Pikirannya melewati batas-batas teritorial Iran dan orang-orang Iran. Imam Khomeini dalam segala urusannya hanya untuk Allah dan agama. Ia senantiasa berusaha untuk itu dan tidak pernah menunjukkan keletihan dalam masalah ini. Ketika Imam Khomeini mengetahui isi buku Ayat-ayat setan, ia langsung menciap kebatilan buku ini. Ada rencana di balik penerbitan buku itu. Itulah yang membuat beliau mengeluarkan fatwa bersejarahnya.
Lebih jauh tentang Salman Rushdi
Salman Rushdi lahir di kota Devanegari, Bombai India pada tanggal 19 Juni 1947. Setelah Pakistan berdiri sendiri, ia bersama keluarganya pindah ke Karachi dan setelah itu berimigrasi ke Inggris. Ia ke Inggris ketika berumur 13 tahun dan menyelesaikan sekolahnya di sana. Setelah menyelesaikan kuliahnya di jurusan sejarah di universitas Cambridge, ia kembali ke Pakistan. Dengan menulis artikel selama di Inggris, ia dapat membayar sebagian biaya sekolahnya sendiri. Akhirnya ia pindah warga negara Inggris.
Tujuh tahun setelah menulis artikel ia akhirnya berhasil menulis novel berjudul Midnight’s Children tahun 1981. Dengan buku itu ia mendapat hadiah sastra Inggris Booker Prize. Buku ini isinya mengkritik perlawanan rakyat India untuk merdeka dari tangan Inggris. Sekitar setengah juta naskah terjual. Pada tahun 1983 ia menulis buku Shame tentang kondisi Pakistan. Buku The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey 1987 adalah hasil dari perjalanan 3 minggunya ke Nikaragua.
Gaya penulisannya adalah Realisme, namun dengan mengubah semua tokoh asli begitu juga tempat kejadian. Gaya penulisannya tidak mengikuti pakem yang ada selama ini. Dengan ini ia sesuka hati ia menulis apa saja dan menisbatkannya kepada siapa saja yang disukainya. Bukunya yang paling menyedot perhatian adalah The Satanic Verses yang dikenal dengan nama Ayat-ayat Setan. Buku ini ditulisnya pada tahun 1988.
Latar belakang penulisan buku Ayat-ayat Setan
Menganalisa cara berpikir Salman Rushdi dapat lacak dari keluarganya. Ibunya adalah seorang penari bernama Vanita. Pada masa remajanya ia disukai oleh seorang pemuda bernama Raju. Vanita beberapa kali lewat Salim Khan, gubernur Bombai, melakukan penghinaan terhadap masjid. Pernah ia meletakkan kepala babi di undak-undakan masjid kemudian lari menyembunyikan dirinya. Ia juga pernah membakar upacara orang-orang Hindu dan menyebarkan bahwa itu dilakukan oleh kaum muslimin. Setiap kali ia melakukan penghinaan, ia mendapat bayaran dari Salim Khan.
Rupanya Salim Khan juga tertarik dengan Vanita dan hendak mempersuntingnya. Sebagai jawabannya ia menjawab: “Aku menikah karena uang dan kalau engkau punya uang aku menjadi milikmu”. Setelah setuju, ia akhirnya menikah dan dibawa ke istana. Ia menghabiskan malamnya di istana Lord William dan sejak malam itu, ia tidak keluar-keluar dari istana.
Ketika Lord William dipanggil untuk kembali ke Inggris, ia berkata kepada Vanita: “Aku punya istri di Inggris dan ayahnya punya pengaruh kuat di sana. Aku tidak dapat membawamu ke sana”. Lord William pergi. Vanita kembali ke pelukan Raju yang masih menantinya. Setelah Vanita melahirkan anaknya ia meninggal. Raju membawa anak itu dan meninggalkannya di masjid. Seorang bernama Safdar menemukan bayi tersebut dan membawanya pulang ke rumahnya. Ia kemudian memberinya nama Salman. Ia besar di keluarga muslim.
Semenjak kecilnya ia terkenal nakal. Pada umur tiga belas tahun ia sudah tiga belas kali ditahan polisi. Pada masa itu, istri Lord William meninggal. Karena tidak punya anak dari istrinya, ia kemudian mengingat Vanita dan anaknya. Ia mengirim surat kepada Salim Khan untuk menemukan anaknya. Lewat Raju, Lord William menemukan Salman. Ketika tahu bahwa dia adalah anak dari seorang perwira inggris, ia sangat senang. Ia kembali ke rumah. Di rumah ia menemukan ibu angkatnya tengah menunaikan salat. Ketika sujud, ia menginjak kepala ibu angkatnya sehingga kepalanya terluka. Ia keluar dari rumah dan kemudian berangkat ke Inggris.
Ia kemudian di masukkan asrama melanjutkan sekolahnya di Inggris. Di sana ia berkenalan dengan Umar anak Mesir. Mereka kemudian menjalin percintaan dan sepakat untuk menikah. Mereka akhirnya membuka ajaran-ajaran agama yang memperbolehkan perkawinan sesama jenis. Mereka tidak menemukan ajaran yang memperbolehkan. Ketika Madame Rosa ibu asrama mengetahui gelagat ini, ia menyurati ayah Umar yang berpangkat jenderal. Ayahnya datang untuk membawa anaknya pulang ke Mesir. Umar yang begitu cinta kepada Salman akhirnya membakar dirinya. Setelah Umar meninggal, Salman sangat terpukul dan memutuskan untuk membalaskan dendamnya terhadap agama-agama.
Ayat-ayat Setan
Salman Rushdi menulis banyak buku. Bila jeli melihat karangan-karangannya, kebanyakan isinya menghina agama dan keyakinan masyarakat setempat. Dalam bukunya Grimus (1975), secara terang-terangan ia menghina keyakinan orang-orang India. Buku Shame (1983) ditulisnya juga dengan isi yang sama.
Midnight’s Children (1981) ditulis mengkritik perjuangan rakyat India untuk mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris. Bukunya The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey (1987) terkait dengan situasi politik di Nikaragua dan keyakinan masyarakatnya.
Puncak penghinaannya terhadap agama dengan menulis novelnya yang berjudul The Satanic Verses (1988). Ia menulis buku ini pada usia 47 tahun. Sebelum ia menulis buku ini, ia ikut hadir dalam sebuah pertemuan yang bermaksud untuk menghancurkan agama tidak lagi dengan senjata, tapi dengan tulisan. Tujuan itu terealisasikan dengan diterbitkannya buku ini.
Untuk pertama kalinya ketika dicetak dalam 547 halaman. Buku ini dicetak oleh penerbit Viking anggota jaringan penerbit Penguin. Salman Rushdi menulis buku ini karena pesanan pimpinan Viking, seorang Yahudi, dengan bayaran gila-gilaan 850 ribu pound.
Buku Ayat-ayat Setan bukanlah buku ilmiah, melainkan hanya sekedar fantasi penulis. Sekalipun demikian, penghinaannya terhadap keyakinan yang disucikan oleh kaum muslimin tidak dapat dibiarkan begitu saja.
Untungnya, Imam Khomeini cepat tanggap rencana besar dibalik penerbitan buku ini. Beliau kemudian mengeluarkan fatwa hukuman mati yang bersejarah. Fatwa ini membuat skenario besar itu prematur. Umat Islam tersadar dan ini membuat Barat lebih berhati-hati. Inggris sebagai pembela nomor satu Salman Rushdi mencoba menekan Iran dengan ancaman ekonomi dan politik agar Imam Khomeini menarik kembali fatwanya. Tidak cukup itu saja, dengan menggerakkan 12 negara lainnya mereka kemudian memburukkan citra Iran dan Imam Khomeini.
Di balik tekanan dari negara-negara Barat, keteguhan Imam Khomeini membuat mereka lelah dan kemudian pasif menerima. Di sisi lain, ini seperti meniupkan semangat baru ke dalam dunia Islam. Penerbit buku Ayat-ayat Setan, Viking, langsung mengeluarkan pernyataan: “Penerbit dan penulis tidak punya maksud menyakiti kaum muslimin. Kami sangat menyesal dengan kejadian ini. Penerbitan buku Ayat-ayat Setan dilakukan karena ditulis oleh seorang penulis top dan isinya fiktif. Penerbitannya karena menghormati kebebasan berekspresi. Salah satu prinsip demokrasi”.
Salman Rushdi sendiri dalam wawancaranya dengan CBS mengatakan:
“Buku ini punya dua khayalan yang coba saya hubungkan dengan munculnya sebuah agama yang mirip dengan Islam. Tapi ini sebuah Islam khayalan. Tokoh yang berkhayal dalam buku itu, pada intinya akalnya telah hilang, gila. Bila seorang berkhayal semacam ini, sangat aneh bila tulisan ini dianggap menghina Islam. Sama sekali saya tidak berniat itu”.
Sempat muncul bisik-bisik di Iran, bahwa bila Salman Rushdi bertobat, mungkin saja tobatnya diterima. Namun, hal ini ditolak oleh kantor Imam Khomeini. Bahkan disebutkan seandainya Salman Rushdi kemudian menjadi orang paling zuhud di muka bumi pun, membunuhnya adalah wajib.
Hukuman mati telah dihapus?
Imam Khomeini pada tahun itu juga, 1987, berbicara di hadapan para rohaniwan:
“Masalah buku Ayat-ayat Setan adalah rencana yang telah disiapkan dengan baik untuk menghancurkan akar ajaran Islam dan keberagamaan umat Islam. Puncak dari semua itu adalah Islam dan rohaniwan”.
Ketika fatwa Imam Khomeini tidak lagi diulang-ulangi, Barat mulai berani mengeluarkan isu bahwa fatwa Imam telah ditarik kembali. Isu ini dimunculkan tidak hanya sekali, tetapi dimuat berulang-ulang. Ayatullah sayyid Ali Khamene’i bereaksi dengan keras.
Pada musim haji dua tahun lalu beliau mengeluarkan pernyataan:
“Hukuman mati yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini terhadap Salman Rushdi berlandaskan ayat-ayat al-Quran. Sebagaimana ayat-ayat lain yang kokoh dan tidak dapat dihapus, hukum ini tetap dan tidak dapat dihapus”.
Penutup
Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw tidak pernah berhenti di Barat. Benar, Imam Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdi. Namun, penghinaan terhadap Nabi Islam, Muhammad saw tidak pernah selesai. Permusuhan Barat terhadap Islam masih tetap berlangsung. Pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw di Denmark masih satu jalur dengan Ayat-ayat Setan Salman Rushdi. Sekalipun didemo di mana-mana, masih saja di sebagian negara-negara seperti Inggris, Azerbaijan dan terakhir Prancis yang proses pengadilannya tengah berlangsung, melakukan penghinaan.
Masihkah Barat tidak ingin mengambil pelajaran dari fatwa ulama Islam seperti Imam Khomeini? Bila ditanya, mengapa kalian melindungi dan membiarkan orang-orang menghina keyakinan orang lain? Jawabannya adalah kebebasan berekspresi. Kebebasan berekspresi yang selalu dijajakan untuk menghina keyakinan orang lain. Pertanyaannya, adakah kebebasan yang memperbolehkan menghina keyakinan orang lain?.[]
Penulis: Pimred Islam Alternatif
Qom, 24 Pebruari 2007
Dan Teks Agama Islam pun Tidak Mendukung Pluralisme Agama
Oleh: Muchtar Luthfi
Pada masa kenabian Musa (as) agama taslim ada pada agama Yahudi, pada zaman kenabian nabi Isa (as) agama taslim ada pada agama Nasrani sehingga semua pengikut Yahudi harus mengikutinya. Sedang pada masa kenabian Muhammad saww, agama taslim terdapat pada agama Islam Muhammadi dan umat Yahudi-Nasrani pun harus mengikutinya. Dengan kata lain, setiap orang dari agama apa pun “harus menyesuaikan diri” terhadap agama nabi setiap zamannya. Orang-orang yang hidup pasca pengutusan Muhammad wajib untuk mengikuti agama Nabi Muhammad karena dia adalah nabi terakhir dan ajarannya merupakan penyempurna dari seluruh ajaran para nabi pendahulunya.
-------------------------------------------------------
Dalam kitab Fathul-Bari (syarah Sahih Bukhari) karya Ibnu Hajar disebutkan satu hadis yang diriwayatkan dari Jabir ra. Dalam hadis tersebut, Jabir mengatakan: “Umar (bin Khatab) telah menyalin tulisan (yang diambil) dari Taurat dengan berbahasa Arab. Lantas ia membawa dan kemudian membacanya di hadapan Rasulullah saw. (Mendengar itu) wajah Rasulullah saww tampak berubah. Lalu, berkatalah seorang dari kaum Anshar kepadanya (Umar), “Celakalah engkau wahai putera (Ibnu) Khatab! Tidakkah engkau melihat wajah Rasulullah?” Lantas Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menanyakan kepada Ahli Kitab tentang sesuatu apapun. Karena mereka tiada akan pernah[1] memberi petunjuk (hidayah) kepada kalian. Dan karena mereka telah sesat. Sedang kalian, (jika kalian membenarkannya) maka berarti kalian telah membohongkan kebenaran, atau berarti kalian telah membenarkan kebatilan. Demi Allah, jika (nabi) Musa ada di tengah-tengah kalian, niscaya ia tiada akan memposisikan (dirinya) kecuali dengan mengikutiku”[2].
Sedikitnya ada enam poin yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah dalam hadis tersebut, yaitu sebagai berikut.
1- Hadis ini menjelaskan tentang larangan Rasulullah terhadap umatnya untuk menanyakan sesuatu (masalah keagamaan) apapun kepada Ahli Kitab. Dalam pembahasan ushul fiqih[3], asal pelarangan dengan menggunakan kata “laa” yang berarti “jangan” menunjukkan “pengharaman”[4]. Haram berarti harus dijauhi, dan melakukannya merupakan dosa. Hukum haram dalam kasus ini akan lebih terjelaskan lagi dalam poin-poin selanjutnya. Sedang kata “syaian” yang berarti “sesuatupun” memberikan arti kemutlakan sesuatu. Tentu, kemutlakan sesuatu dalam hadis ini tidak mencakup dengan hal-hal duniawi, misalnya masalah perdagangan. Indikasi (qorinah) yang ada dalam hadis ini menunjukkan bahwa “kemutlakan sesuatu” tadi berkaitan dengan pemberian petunjuk (hidayah). Hal ini menunjukkan bahwa kemutlakan itu berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan, baik menyangkut akidah (teology), hukum (Islamic laws), ataupun akhlak (ethic). Jadi obyek pelarangan Rasulullah tadi berkaitan langsung dengan ketiga hal yang menjadi bagian terpenting dari agama Islam tersebut.
2- Dalam hadis ini, jelas Rasulullah tidak memberi pengkhususan (qoyd) terhadap kelompok Ahli Kitab tertentu. Di dalam hadis ini tidak terdapat kata semisal “Ahli Kitab yang telah menyimpang” atau “Ahli Kitab yang fasik”. Kembali dalam kajian ushul fiqih disebutkan, jika dalam sebuah hadis Rasulullah tidak memberikan qoyd apapun, artinya beliau telah memutlakkannya. Dengan demikian, dalam hadis ini yang dimaksud oleh Rasulullah adalah semua Ahli Kitab. Berarti, pelarangan untuk bertanya tentang masalah-masalah keagamaan terhadap Ahli Kitab, mencakup Ahli Kitab mana pun, siapa pun, di mana pun dan kapan pun pasca pengutusan Muhammad.
3- Alasan pelarangan Rasulullah ini adalah karena Ahli Kitab tiada akan pernah dapat memberi petunjuk kepada kaum muslimin (pemeluk agama Islam Muhammadi). Walaupun hal ini tampak sebagai alasan pertama Rasulullah, namun alasan tersebut sebenarnya merupakan “akibat” dan konsekuensi logis dari alasan kedua yang akan disampaikan dalam poin ke-4 (dalam poin ke-4 disebutkan: Rasulullah menyatakan bahwa Ahli Kitab telah sesat). Akal sehat akan menetapkan bahwa, orang sesat tidak akan (baca: mustahil) mampu memberi petunjuk kepada orang lain sementara dirinya tetap dalam kesesatan. Dalam filsafat Islam disebutkan satu kaidah akal yang mengatakan, faaqidus syai’ laa yu’thi (ketiadaan sesuatu, tiada akan memberi (sesuatu)), maka ketidakpunyaan petunjuk pada diri Ahli Kitab meniscayakan kemustahilan kemampuan untuk memberi petunjuk kepada kaum muslimin.
4- Alasan kedua pelarangan Rasulullah kepada umatnya untuk bertanya kepada Ahli Kitab adalah karena Ahli Kitab telah sesat. Karena mereka sesat, tentu saja sesuai kaidah akal, mereka tidak mungkin bisa memberi petunjuk. Adapun bukti tekstual kesesatan mereka akan penulis bahas pada bagian “ketidakberlakuan syariat agama-agama samawi non-Islam pasca pengutusan Muhammad”.
5- Pelanggaran terhadap amanat Rasulullah tersebut meniscayakan dua kemungkinan yang keduanya sama-sama buruk: mengingkari kebenaran atau membenarkan kebatilan. Pengingkaran kebenaran dan pembenaran kebatilan tentu sangat bertentangan dengan akal sehat dan fitrah suci manusia.
6- Semua ajaran syariat para nabi terdahulu telah terhapus (mansukh) dengan diutusnya Muhammad Rasulullah saww. Hal ini telah disinggung dalam berbagai ayat dan riwayat sebagai argumen tekstual kaum muslimin. Oleh karenanya, jikalau semua nabi –dari Adam as hingga Isa al-Masih as- dihidupkan dan dikumpulkan kembali pada masa pasca pengutusan Muhammad saww sebagai Nabi dan Rasul, niscaya mereka (para nabi itu) akan diperintahkan oleh Allah swt untuk tunduk, taat, dan mengikuti syariat Muhammad. Jika para nabi dan Rasul pun diperintahkan untuk mengikuti syariat Muhammad, maka konsekuensinya adalah: umat yang mengaku sebagai pengikut ajaran para nabi dan Rasul tadi –sesuai dengan dasar hukum prioritas (qiyas awlawiyat)- pun juga diperintahkan untuk mengikuti ajaran dan syariat Muhammad. Jika tidak, maka kesesatan akan tetap menjadi label dari keyakinan umat tersebut.
Selain hadis di atas tadi, dalam tulisan ringkas ini akan dibahas sedikit tentang dalil-dalil tekstual agama Islam yang banyak dipakai sebagai pembenaran teori pluralisme agama, baik pluralisme agama yang diartikan ‘pengakuan akan kebenaran setiap agama’, maupun ‘setiap agama mampu menghantarkan pengikutnya menuju keselamatan abadi di akherat kelak’. Penulis akan membuktikan bahwa ternyata dalil-dalil tersebut bukan hanya sama sekali tidak condong terhadap wacana pluralisme agama, namun malah menentangnya. Dalam pembuktian masalah ini, sangat banyak teks yang harus disinggung, namun untuk menyingkat pembahasan, penulis akan membahas beberapa teks agama saja.
Bagi kaum muslimin, argumentasi Al Quran merupakan dalil primer yang kebenarannya tidak dapat diganggu gugat oleh argumen apapun. Karena itu, terlebih dahulu penulis akan membahas beberapa ayat yang membuktikan penentangan Islam terhadap konsep pluralisme agama. Setelah itu, baru akan disinggung dalil-dalil lain, yaitu hadis-hadis sebagai pendukung kekuatan argumentasi Al Quran. Oleh karenanya, jika terdapat hadis-hadis biasa yang bertentangan dengan apa yang telah dinyatakan oleh Al Quran, maka hadis-hadis tadi harus diartikan dengan makna lain (takwil) sehingga sesuai dengan Al Quran. Jika tidak mungkin untuk diadakan proses pentakwilan, maka sesuai dengan perintah Nabi Islam (Muhammad), kita tidak perlu segan-segan untuk membuang hadis-hadis seperti itu ke dalam tong sampah, karena bertentangan dengan kitab suci Al Quran.
A- Ayat Al Quran dan Pluralisme Agama
Dalam Al Quran, terdapat ayat-ayat yang membahas tentang adanya perubahan dalam kitab-kitab suci sebelum Al Quran yang mengakibatkan ajaran agama mereka (Ahli Kitab: Yahudi, Nasrani dan Sabi’in) tidak murni lagi. Allah swt dalam Al Quran berfirman: “…maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”[5]. Hal ini dikarenakan firman Allah: “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”[6]. Dalam ayat tadi dijelaskan akan adanya keharusan mengikuti ajaran yang dibawa oleh Muhammad saww yang diutus oleh Allah swt dimana semua ajarannya terangkum dalam kitab yang juga diturunkan bersamanya. Hal ini dikarenakan banyak dari hukum dan ajaran Allah yang telah disimpangkan oleh pengikut agama sebelum agama Muhammad (Islam). Lantas, bagaimana mungkin ajaran menyimpang akan dapat menjamin pengikutnya untuk mendapat keselamatan abadi?
Masih banyak lagi ayat-ayat Al Quran yang membahas tentang ruang lingkup pengangkatan Muhammad bin Abdulah saww sebagai utusan Allah. Allah swt memberitahukan bahwa Muhammad saww diutus untuk segenap manusia, yang berarti mencakup pengikut agama-agama terdahulu agar mereka pun mengikuti Muhammad Rasulullah saww dalam setiap ajarannya. Allah swt berfirman: “Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi….maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasulullahnya, Nabi yang ummi…dan ikutilah dia supaya kamu dapat petunjuk”[7]. Paling tidak, terdapat tiga poin yang dapat dijadikan dalil dari ayat tadi. Pertama, Muhammad saww diutus untuk segenap manusia; pengutusan Muhammad bersifat lintas kelompok dan kalangan manusia, termasuk lintas agama. Kedua, obyek keimanan adalah iman kepada Allah swt dan iman kepada kerasulan Muhammad (yang ummi) dengan berbagai konsekuensinya; dengan mengikuti segala perintah dan menjauhi semua larangannya. Ketiga, mengikuti ajaran Muhammad adalah kunci untuk mendapat petunjuk dan dengan petunjuk itulah manusia bisa mencapai keselamatan abadi.
Dalam ayat lain Allah swt berfirman: “Dan Kami tiada mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”[8]. Dari ayat tadi, minimalnya ada empat poin yang perlu digarisbawahi. Pertama, Muhammad diutus untuk segenap manusia, tanpa terkecuali, bahkan termasuk kaum Atheis. Karena itu, selama suatu makhluk masih bernama manusia, maka ia tercakup dalam “perintah Ilahi” tersebut. Kedua, Muhammad saww adalah pembawa gembira berupa kebahagiaan sejati dan abadi (sorga). Tentu, kabar gembira tersebut diperuntukkan bagi yang mengikuti ajarannya dengan baik dan benar, tanpa terpolusi oleh penyimpangan atau penyelewengan. Ketiga, Muhammad saww adalah pembawa “peringatan” berupa kesengsaraan abadi (neraka). Peringatan tersebut ditujukan kepada mereka yang tidak mematuhi perintah Allah swt untuk mengikuti Muhammad saww beserta ajarannya. Keempat, banyak orang yang tidak sadar dan tidak mengetahui point-point tadi sehingga masih saja banyak orang yang tidak mengikutinya, atau bahkan mengikuti agama lain selain agama yang dibawa oleh Muhammad saww.
Beberapa ayat Al Quran yang penulis ajukan tadi semuanya menjelaskan bahwa Muhammad saww adalah utusan Allah yang bersifat mendunia dan karenanya, kitab sucinya pun diperuntukkan bagi segenap umat manusia di dunia ini. Allah swt berfirman: “Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqon (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”[9]. Dalam ayat lain Allah swt berfirman: “Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam”[10]. Segenap manusia merupakan bagian dari alam semesta. Artinya, ayat-ayat tadi memberikan penjelasan bahwa Al Quran diturunkan agar umat manusia –apapun agamanya- mengikuti petunjuk yang ada di dalamnya. Dan otomatis, sewaktu seseorang mengikuti Al Quran yang diturunkan oleh Allah swt melalui Muhammad saww berarti ia telah memeluk agama Islam.
Dalam Al Quran, terdapat beberapa ayat yang menjelaskan bahwa kerasulan Muhammad saww dan perintah untuk mengikuti ajarannya telah tercantum dalam kitab-kitab suci lain sebelum penurunan Al Quran. Hal itu membuktikan dan memberikan konsekuensi bahwa setiba Muhammad saww, kaum Yahudi, Nasrani dan Shabi’in pun harus mengikuti ajaran Allah swt yang dibawa oleh Muhammad saww. Dalam hal ini Allah swt berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasulullah yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala Rasulullah itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata”[11]. Sebagaimana Isa al-Masih (as) di utus untuk meluruskan ajaran para nabi terdahulu yang telah disimpangkan oleh umatnya, demikian pula fungsi pengutusan Muhammad saww. Ajaran Muhammad tidak bertentangan dengan ajaran para nabi dan Rasulullah pendahulunya, dan bahkan membenarkan apa yang telah datang sebelumnya. Tentu, “kabar gembira” dalam ayat tadi bukan hanya sekedar kabar, namun memiliki konsekuensi, yaitu kewajiban untuk mengikuti segala ajaran (Nabi Muhammad), sebagaimana Isa (as) datang untuk diikuti oleh segenap Bani Israil yang yang semula mengikuti ajaran Musa al-Kalim (as).
Dalam ayat lain Allah swt berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Sesungguhnya apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasulullah yang membenarkan apa yang datang kepadamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya’. Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi pula bersama kamu’. Barangsiapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”[12] Kalimat “beriman kepadanya dan menolongnya” dalam ayat tadi memiliki dua kemungkinan makna. Pertama, keharusan para nabi terdahulu untuk mengimani karasulan Muhammad yang akan datang di kemudian hari, dan hal tersebut berfungsi sebagai keselamatan mereka pribadi terhadap ilmu yang diberikan oleh Allah swt kepada mereka. Kedua, para nabi sebelum Nabi Muhammad bertugas menolong Nabi Muhammad dengan cara mungumumkan kerasulan dan kebenaran ajarannya kepada segenap umat mereka. Dengan cara itu, umat para nabi tersebut akan mengikuti ajaran Muhammad. Ini sebagai bukti bahwa agama para nabi yang diturunkan oleh Allah swt adalah satu, yaitu Islam. Islam yang bersumber dari fitrah suci manusia yang selalu mengajak kepada ke-Esa-an Allah swt[13].
Sementara itu, adanya ayat-ayat yang menjelaskan akan celaan Allah terhadap para Ahli Kitab adalah disebabkan ulah mereka dalam mengubah ajaran dan menjadikannya terpolusi oleh keyakinan syirik yang dibenci oleh Allah swt. Kedatangan Muhammad saww telah disinggung dalam kitab-kitab suci mereka terdahulu sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Dengan demikian, perintah Allah untuk mengikuti ajaran dan agama Muhammad adalah kunci keselamatan dan kebahagiaan abadi bagi mereka. Jika perintah itu tidak mereka laksanakan, niscaya azab Allah akan tertuju kepada mereka. Allah swt berfirman, “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, ‘Tidak ada datang kepada kami baik seseorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.’ Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”[14] Ini sebagai bukti bahwa pengutusan Rasulullah saww adalah sebagai argumen (hujjah) Allah terhadap umat manusia. Selepas pengutusan Muhammad, tiada lagi alasan bagi umat manusia di hadapan Allah -di akherat kelak- untuk tersesat dengan tidak mengikuti ajaran Muhammad.
Dalam ayat lain Allah berfirman, “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi kitab yang kamu sembunyikan…”[15]. Juga ayat yang berbunyi: “Hai Bani Isarail, ingatlah akan nikmat-nikmat-Ku…dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janjiKu kepadamu dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus tunduk. Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya…”[16]. Ayat ini dengan tegas dan jelas memerintahkan umat agama lain untuk mengimani Muhammad saww, yang tentunya memberikan konsekuensi logis, yaitu mengikuti ajarannya. Tanpa mengikuti Muhammad saww, maka kebatilan dan kesesatan mereka akan semakin tampak dengan jelas. Oleh karenanya Allah swt berfirman: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya). Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”[17]
Dari penjelasan beberapa ayat di atas jelaslah bahwa Ahli Kitab diperintahkan oleh Allah swt untuk mengikuti ajaran yang dibawa oleh Muhammad saww, yang berarti mereka diperintah untuk memeluk agama Islam. Dan pengutusan Muhammad adalah sebagai argumen sempurna (hujjah taammah) agar mereka tidak dapat lagi beralasan untuk tidak mengenal kebenaran yang akan membawa mereka kepada keselamatan abadi nan sejati. Jika mereka tidak mengimani syariat dan ajaran Muhammad, niscaya keimanan mereka terhadap Allah swt layak untuk dipertanyakan. Allah swt berfirman: “Wahai manusia, telah datang Rasulullah (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang dilangit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah…”[18]. Dalam ayat lain Allah swt berfirman: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi… ”[19] Dari ayat ini jelas bahwa obyek keimanan adalah iman kepada para nabi. Para nabi satu sama lain saling membenarkan ajaran mereka, dan mereka semua pun memberitakan kerasulan Muhammad dan membenarkan ajarannya, yang berarti perintah untuk mengikuti ajaran yang dibawanya pasca pengutusannya.
Kesesatan Ahli Kitab
Meskipun ajaran asli para nabi adalah ajaran yang benar, yang bersumber dari Allah swt, namun sepeninggal para nabi itu, umatnya menyelewengkan ajaran tersebut. Terlampau banyak ayat-ayat Al Quran yang menyebutkan kesesatan Ahli Kitab akibat penyimpangan mereka terhadap esensi dasar ajaran Ilahi -yaitu konsep tauhid (ke-Esa-an Tuhan)- sebagaimana yang disinyalir dalam ayat, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah salah satu dari tiga’. Padahal sekali-kali tidak ada tuhan selain dari Tuhan Yang Esa…”[20] Dalam ayat lain disebutkan, ‘Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putera Maryam…”[21] Atau ayat yang berbunyi, “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah… Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa…”[22] Dari ayat-ayat tadi, ada dua pertanyaan yang mungkin bisa dilontarkan: adakah umat Nasrani sekarang ini yang tidak meyakini konsep trinitas dalam bertuhan? Dan jika mereka (yang meyakini trinitas) telah dihukumi kafir, yang berarti sesat, mungkinkah manusia yang sesat akan dapat menghantarkan pihak lain menuju keselamatan abadi? Mungkin saja ada sebagian kaum Kristiani yang tidak meyakini trinitas dalam ketuhanan, namun jumlahnya pastilah sangat minim. Atas dasar itu, Allah swt mengajarkan Muhammad saww untuk menjawab dakwaan-dakwaan kosong kaum Ahli Kitab dengan firman-Nya, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.’ Katakanlah, ‘Maka mengapa Allah menyiksa kamu atas dosa-dosamu?”[23]
Jika Yahudi dan Nasrani –pasca pengutusan Muhammad- adalah agama yang mampu menghantarkan kepada keselamatan abadi, lantas mengapa Muhammad saww diperintahkan Allah untuk menjawab pengakuan-pengakuan palsu kaum Yahudi dan Nasrani dengan jawaban semacam itu? Lebih dari itu, dalam salah satu ayat disebutkan bahwa, kaum Yahudi dan Nasrani –pasca pengutusan Muhammad- yang dikarenakan akidah mereka telah terpolusi dengan penyekutuan Allah (syirik), maka mereka pun akhirnya mendapat laknat Allah swt. Allah swt berfirman, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putra Allah’. Dan orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu putra Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka itu meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?”[24] Dalam ayat lain Allah swt berfirman, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu’, sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu…”[25].
Jika kaum Yahudi dan Nasrani dengan ucapan itu dihukumi oleh Allah swt sebagai orang kafir yang terlaknat oleh-Nya, maka mungkinkah pengikut agama yang dilaknat Allah swt akan dapat membawa pengikutnya menuju keselamatan abadi? Padahal keselamatan abadi di akherat kelak semuanya bersumber pada keridhoan Allah swt, Penguasa Seluruh Alam. Tanpa ridho Allah, mustahil keselamatan akan teraih. Mendapatkan laknat Allah artinya mendapat siksa dan azab Ilahi. Atas dasar kekafiran dan laknat Ilahi terhadap para pengikut Ahli Kitab –pasca pengutusan Muhammad- itulah akhirnya Allah swt memerintahkan manusia-manusia beriman dengan perintah-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(-mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”[26]
Banyak pertanyaan yang bisa dilontarkan berkaitan dengan ayat tadi, misalnya, mengapa Allah melarang orang mukmin (muslim) mengambil pemimpin dari orang Yahudi dan Nasrani? Mengapa jika itu dilakukan oleh orang mukmin, lantas ia tergolong kaum Yahudi dan Nasrani? Lantas mengapa Allah mengancam tidak memberi petunjuk terhadap orang mukmin yang melakukan hal itu? Mengapa pelaku perbuatan tersebut tergolong pelaku kezaliman? Jika agama Yahudi dan Nasrani di zaman sekarang -pasca pengutusan Muhammad- juga mampu menghantarkan kepada kebahagiaan sejati, lantas mengapa datang larangan dan ancaman dari Allah swt? Jawaban dari beberapa pertanyaan tadi akan dapat ditemukan dalam ayat, “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan…Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itu adalah petunjuk yang benar’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”[27] Ayat ini jelas sekali menunjukkan bahwa ajaran Muhammad harus diikuti oleh kaum Yahudi dan Nasrani juga. Tentu dengan itu, maka seorang Yahudi dan Nasrani akan disebut dengan muslim. Karena hanya Islam-lah yang mampu menghantarkan kepada keselamatan dan kebahagiaan abadi. Allah swt hanya menjadi pelindung dan penolong bagi orang yang mengimani dan mengikuti ajaran Muhammad saja.
Dalam beberapa ayat juga dijelaskan bahwa tunduk patuh dan berserah diri penuh (taslim) merupakan syarat terkabulnya sebuah amalan. Lantas apa hakekat dan obyek serta tujuan penyerahan diri tersebut? Dalam sebuah ayat Allah swt berfirman, “Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi”[28]. Dan dalam ayat lain Allah swt berfirman, “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”[29]
Ayatullah Murthadha Muthahari dalam kitab keadilan Ilahi-nya menyatakan bahwa, memang Islam yang dimaksud dalam ayat tadi adalah agama kepasrahan (taslim) yang mencakup semua agama para nabi terdahulu. Namun agama taslim itu pada setiap zaman kenabian memiliki bentuk yang tertentu. Pada masa kenabian Musa (as) agama taslim ada pada agama Yahudi, pada zaman kenabian nabi Isa (as) agama taslim ada pada agama Nasrani sehingga semua pengikut Yahudi harus mengikutinya. Sedang pada masa kenabian Muhammad saww, agama taslim terdapat pada agama Islam Muhammadi dan umat Yahudi-Nasrani pun harus mengikutinya. Dengan kata lain, setiap orang dari agama apa pun “harus menyesuaikan diri” terhadap agama nabi setiap zamannya. Orang-orang yang hidup pasca pengutusan Muhammad wajib untuk mengikuti agama Nabi Muhammad karena dia adalah nabi terakhir dan ajarannya merupakan penyempurna dari seluruh ajaran para nabi pendahulunya.[30]
Dikarenakan para Ahli Kitab tidak mengikuti Muhammad saww –yang secara otomatis berarti tidak taat terhadap para nabi mereka terdahulu- maka Allah pun mencela mereka. Celaan dari Allah itu dapat kita baca dalam ayat-ayat yang telah penulis sebutkan di atas. Islam Muhammad merupakan kelanjutan dari Islam para nabi terdahulu dan kunci untuk mendapat petunjuk Allah dan setiap nabi utusan Allah merupakan argumen sempurna (hujjah tammah) Allah terhadap makhluk-Nya. Karena itu, bila Ahli Kitab tetap tidak mau mengikuti ajaran Nabi Muhammad, maka Allah menjanjikan azab di akherat bagi mereka, “Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah karena dengki…Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah’, mereka berkata, ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.’ Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah, ‘Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman’.”[31]
Jadi, obyek dan tujuan ketundukan dan keberserahdirian adalah Allah swt semata, sebagai konsekuensi logis dari konsep pengesaan-Nya. Dan dikarenakan Allah swt telah memerintahkan umat manusia untuk mengikuti ajaran Muhammad –yang terangkum dalam agama Islam- maka berarti Islam adalah syarat utama untuk diterimanya suatu amal kebajikan bagi para Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani dan Shabi’in). Melalui syarat utama inilah mereka akan mendapat petunjuk yang dapat mengantarkan mereka menuju keselamatan abadi. Tanpa mengikuti Islam niscaya mereka tiada akan mendapat petunjuk menuju kebahagiaan abadi (sorga). Dalam hal ini Allah swt berfirman: “…Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasulullah, nabi yang ummi yang (namanya) tercantum dalam Taurat dan Injil ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar…Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasulullah-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.”[32]
Dari ayat-ayat di atas, jelas sekali bahwa petunjuk untuk mendapat keselamatan abadi bagi segenap umat manusia –di alam semesta ini setelah diutusnya Muhammad—adalah mengimani dan mengikuti semua apa yang diajarkannya. Dengan mengamalkan semua ajarannya berarti manusia tersebut layak disebut sebagai manusia yang beriman dan bertakwa (baca: berperilaku baik). Perilaku baik dalam arti berbuat makruf dan menjauhi mungkar sesuai dengan ridho Allah swt. Atas dasar itu, Allah swt dalam ayat lain memerintahkan Rasulullah untuk menjawab pengakuan pengikut Yahudi dan Nasrani yang mengatakan, “Dan mereka berkata, ‘Hendaklah kamu menjadi pengikut agama Yahudi dan Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’ Katakanlah, ‘Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang yang musyrik.’”[33] Ayat ini dengan jelas menolak pernyataan bahwa petunjuk berasal dari ajaran Yahudi dan Nasrani. Keselamatan abadi sudah pasti berasal dari petunjuk yang benar dan sesuatu yang salah mustahil akan memberi keselamatan bagi pemiliknya.
Allah swt dalam ayat lain lebih menegaskan bahwa Ibrahim bukan pengikut keyakinan syirik yang telah menyelewengkan agama Yahudi dan Nasrani. Dalam ayat tersebut Allah swt juga menafikan kepemilikan Yahudi dan Nasrani atas petunjuk. Allah swt berfirman: “Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakqub dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan”[34].
Jika apa yang didakwahkan oleh para pendukung pluralisme agama adalah benar, yaitu “bahwa setiap agama mampu menghantarkan kepada keselamatan sejati”, lantas mengapa dalam ayat ini Allah swt mempermasalahkan pengakuan kaum Yahudi dan Nasrani bahwa para nabi adalah dari golongan mereka? Allah swt –sebagaimana yang telah disinggung pada ayat-ayat yang lalu- telah menetapkan bahwa syarat utama untuk menuju kebahagiaan abadi (sorga) di kehidupan akherat kelak adalah dengan memeluk Islam (Islam Muhammadi yang merupakan kelanjutan dari Islam para nabi sebelumnya). Atas dasar tersebut Allah swt berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam.’ Jika mereka masuk Islam, sesunguhnya mereka mendapat telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan…”[35]
Dalam ayat tadi jelas disebutkan adanya seruan dan ajakan kepada para pengikut Ahli Kitab agar mereka mengikuti Islam supaya mereka mendapat petunjuk. Lantas, apakah tidak bertentangan jika dihubungkan dengan anggapan bahwa semua agama –pasca pengutusan Rasulullah- memiliki saham dalam menghantarkan pengikutnya untuk meraih keselamatan abadi? Jika semua agama mampu menghantarkan kepada keselamatan abadi yang sebagai dambaan dan tujuan akhir bagi setiap manusia, lalu apa tujuan penurunan ayat di atas tadi? Bukankah Allah swt disucikan dari segala bentuk keburukan, yang salah satunya berupa pelaksanaan perbuatan sia-sia?
Sekali lagi, jika agama Yahudi dan Nasrani –pasca pengutusan Muhammad- mampu menghantarkan kepada keselamatan abadi dengan syarat iman dan amal saleh, lantas mengapa Allah masih swt bersikeras agar mereka mengimani Al Quran yang dibawa Muhammad yang berarti menyuruh mereka masuk Islam Muhammadi? Apa hubungan antara iman dan membunuh para nabi?[36] Bukankah ini membuktikan bahwa keimanan kepada nabi-nabi yang diutus oleh Allah swt memiliki peran yang sangat penting dalam mengantarkan manusia menuju kepada keselamatan abadi?
Adanya perintah untuk mengikuti ajaran agama Muhammad bagi segenap manusia, akan menjadikan agama Muhammad (Islam) tampil sebagai ajaran (baca: agama) pengganti bagi segenap ajaran terdahulu, termasuk ajaran agama Yahudi, Nasrani dan Shabi’in: “Dia-lah yang mengutus Rasulullah-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci”[37]. Dari ayat ini dapat direnungkan, apa hubungan antara agama yang dinyatakan sebagai pembawa petunjuk yang benar dan kemenangannya atas agama yang lain? Apa maksud dari dimenangkan atas segala agama? Mungkinkah agama yang lain –yang dikalahkan agama yang benar—juga memiliki muatan kebenaran pula? Mungkinkah dua agama yang ajarannya saling bertentangan (paradoks) –baik dari sisi teologi maupun hukum- maka keduanya dapat dihukumi benar, padahal berdasarkan pengakuan dari Allah swt Islam Muhammad adalah benar dan mampu menghantarkan kepada keselamatan abadi? Mungkinkah agama-agama lain yang akan dikalahkan dengan agama Muhammad juga mampu membawa pengikutnya menuju keselamatan abadi? Mungkinkah Allah swt akan menggunakan standar ganda dalam menilai kebenaran dan dalam menyelamatkan pengikut agama yang berbeda-beda padahal Allah swt telah menyatakan bahwa semua agama para nabi bertumpu pada satu pondasi utama yang bernama “ajaran tauhid”? Secara logis, jawaban dari pertanyaan di atas adalah “tidak mungkin”.
B- Sunah Rasulullah serta Ahlul Bayt-nya dan Pluralisme Agama
Dalam surat an-Najm ayat 3-4[38] dijelaskan bahwa apapun yang muncul–baik berupa kata-kata, perbuatan, maupun persetujuan—dari pribadi Rasulullah saww merupakan wahyu yang diturunkan Allah dan bukan berdasarkan hawa nafsunya sendiri. Untuk itu, semua yang terkeluar dari Rasulullah (sunnah) –yang memang benar terkeluar dari beliau- dapat dipastikan mustahil bertentangan dengan wahyu Allah (Al Quran). Dengan kata lain, akhlak Rasulullah sepenuhnya adalah bersumber dari Al Quran. Sebaliknya, pengejawantahan Al Quran pada wujud lahiriah terdapat pada diri Rasulullah. Begitu juga halnya dengan Ahlul Bayt Rasulullah. Hadis “ats-Tsaqolain” –yang diriwayatkan dalam kitab-kitab standar Sunni-Syiah—disebutkan bahwa antara Al Quran dan Ahlul Bayt tidak akan pernah berpisah untuk selamanya, merupakan salah satu bukti konkrit atas pernyataan tadi.
Dalam penjelasan di atas sudah penulis sebutkan dalil-dalil argumentasi bahwa Al Quran bukan saja tidak mendukung bahkan telah menentang konsep pluralisme agama. Selanjutnya, penulis akan menelaah tentang persesuaian antara Al Quran yang diam (Al Quran as-Shamith, yaitu Kitab Suci Al Quran) dan Al Quran yang berbicara (Al Quran an-Nathiq, yaitu Rasulullah dan Ahlul Baitnya) dalam kaitan penentangan terhadap pluralisme agama.
A - Rasulullah saww bersabda, “Aku adalah Rasul bagi orang yang hidup sezaman denganku ataupun yang terlahir setelahku.”[39]
Hadis ini jelas menjelaskan bahwa Rasulullah saww adalah pembawa wahyu Allah yang harus diikuti dan ditaati bagi orang yang hidup sezaman dengan beliau ataupun yang lahir pasca beliau, secara mutlak, baik orang tersebut beragama samawi (Yahudi, Nasrani atau Shabi’in) atau beragama apapun termasuk atheis sekalipun. Menaati Muhammad saww artinya harus beragama Islam.
B - Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya Allah swt menjadikan kitabku (Al Quran) ini sebagai pelurus atas kitab-kitab mereka dan penghapus ajarannya (nasikh).”[40]
Jika semua agama –khususnya agama-agama samawi—adalah benar dan dapat menjamin pengikutnya untuk mendapat keselamatan abadi, lantas mengapa kitab suci dan perundang-undangan mereka, yang dijadikan standar ketaatan dan amal kebajikan, harus direvisi? Bukankah hadis ini penjelas terbaik tentang perevisian aturan syariat (syir’ah) dan metode (minhaj)[41] para nabi terdahulu yang selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman pengutusan para nabi dan Rasul? Lantas bagaimana jika mereka tidak mengikuti perevisian tersebut, apakah mungkin mereka akan selamat?
C - Selepas pengangkatan Muhammad sebagai Rasulullah dan beliau melakukan dakwah secara terang-terangan lantas beliau mengumpulkan segenap sanak familinya atas perintah ayat “wa andzir ‘asyirataka al-aqrabiin” (dan berilah peringatan terhadap keluarga terdekatmu). Beliau mengatakan kepada mereka, “…Aku diutus oleh Allah kepada kalian secara khusus dan buat segenap manusia secara umum.”[42]
D - Imam Ali as bersabda, “Allah swt setelah mengutus nabi Adam hingga seterusnya dari para nabi telah mengambil janji dari mereka semua bahwa, jika Ia telah mengutus Muhammad saw sedang mereka hidup maka mereka harus mengimani dan membantunya.”[43]
Berarti agama samawi apapun yang dibawa oleh nabi manapun –setelah pengutusan Muhammad—harus “melebur” ke dalam agama Muhammad. Dengan datangnya Muhammad saw, agama-agama samawi yaitu Yahudi yang dibawa Musa (as), Nasrani yang dibawa Isa (as) dan Shabi’in yang dibawa Yahya (as) syir’ah dan minhaj-nya tidak tidak berfungsi lagi, alias telah kadaluwarsa. Jadi ayat “likullin ja’alnaa minkum syira’atan wa minhaaja”[44] [untuk setiap umat di antara kalian (masing-masing) Kami berikan aturan dan jalan yang terang] tidak mungkin dijadikan dalil oleh kelompok agama lain untuk menolak agama Muhammad.
Dalam beberapa riwayat Ahlul Bayt Nabi disebukan tentang ‘celaan’ mereka terhadap ajaran dan para pengikut agama lain. Ini semua sebagai bukti bahwa para manusia suci dan mulia pun tidak meyakini kebenaran pluralisme agama. Jika tidak demikian, lantas mengapa mereka melakukan hal tersebut? Bukankah manusia suci nan mulia tidak mungkin melakukan ‘pelecehan’ terhadap ‘agama’ lain yang juga mampu membawa umatnya menuju kebahagiaan abadi?
E- Peristiwa Mubahalah
Dalam berbagai hadis disebutkan tentang sebab-sebab turunnya ayat mubahalah (QS 3:61). Peristiwa “mubahalah” adalah kisah “perang doa” (baca: saling laknat) antara kaum muslimin dan kaum Nasrani yang akhirnya dibatalkan oleh pihak tokoh Nasrani sendiri setelah mereka melihat wajah-wajah mulia dari kelompok Islam yang diwakili oleh Nabi dan Ahlul Bayt-nya. Jika keduanya (Islam dan Nasrani) benar dan masing-masing mampu menghantarkan kepada kebahagiaan sejati dan abadi, lantas buat apa mereka ber-mubahalah?
F- Surat-Surat Rasulullah Kepada Para Penguasa Non-Muslim
Salah satu sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah saww adalah pengiriman surat kepada para penguasa dan raja yang menganut agama lain guna mengajak dan menyeru mereka kepada Islam. Jika semua agama mampu menghantarkan kepada keselamatan sejati dan abadi, maka apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah sia-sia dan tidak berarti. Jika pluralisme adalah benar dan dilegalkan oleh Allah swt melalui Rasulullah saww yang agung, maka untuk apa Rasulullah bersusah-payah menyeru para penguasa Yahudi dan Nasrani untuk masuk Islam. Bukankah mereka juga akan bisa selamat dengan agamanya selama memiliki iman dan amal saleh sebagaimana yang diyakini oleh para pendukung pluralisme agama?
Pada kesempatan ini, penulis akan mengutip beberapa surat Rasulullah yang dilayangkan kepada para penguasa dan raja tersebut. Sedikit kutipan ini saja akan mampu menjawab akan persoalan pluralisme agama menurut pandangan Rasulullah. Surat-surat itu dikumpulkan dalam kitab yang berjudul “Makaatib ar-Rasul” (surat-surat Rasulullah) oleh Ayatullah Ahmadi Miyanaji.
(1) Dalam surat Rasulullah yang ditujukan untuk Zaid bin Jahur, penguasa Nasrani, beliau menyatakan, “Hendaknya agama yang dianut setiap manusia ditinggalkan kecuali Islam. Maka ketahuilah itu!”[45]
Surat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa Rasulullah Islam saww menolak tegas konsep pluralisme agama. Rasulullah memerintahkan kepada penganut keyakinan lain –lebih umum dari sebuah keyakinan beragama- untuk menanggalkan semua keyakinannya untuk menuju agama Islam Muhammadi.
(2) Surat Rasulullah kepada Najasyi, raja Nasrani dari Habasyah (Etiopia) berbunyi, “Aku menyerumu untuk menuju Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya dan menjaga akan ketaatan kepada-Nya dan hendaknya engkau mengikutiku dan mengimaniku. Demi Dzat Yang telah mendatangkanku ketahuilah bahwa aku adalah utusan Allah.”[46]
Dalam surat ini Rasulullah saww kembali menekankan untuk mengimani Allah swt dengan cara menaati segala perintah-Nya, termasuk taat kepada segala yang diturunkan-Nya kepada beliau. Dalam surat ini, terlihat konsep bahwa ketaatan kepada Nabi Muhammad adalah manifestasi dari ketaatan kepada Allah swt. Tentu hal ini merupakan bukti bahwa utusan Allah mempunyai otoritas untuk diikuti, khususnya Nabi Muhammad sebagai pembawa syariat terakhir dan diutus untuk “segenap manusia”.
(3) Dalam surat Rasulullah yang ditujukan kepada Markus, penguasa Nasrani suku Qibthi (Mesir) dan Heraclius, Raja Romawi, dinyatakan, “Aku menyeru kalian (untuk masuk) ke dalam agama Islam. Jika kalian tidak menerimanya, maka dosa yang dilakukan oleh segenap penduduk Qibth dan Romawi akan kalian tanggung.”[47]
Mengapa dalam surat itu dinyatakan bahwa jika orang-orang Nasrani itu tidak mau menerima Islam yang dibawa oleh Muhammad saww mereka akan berdosa? Bukankah ini membuktikan bahwa ajaran Nasrani yang dibawa oleh nabi Isa (as) telah menyimpang sehingga mereka yang tetap meyakininya (baca: beriman) berarti telah menyimpang dan berbuat dosa? Mungkinkah pendosa akan dapat sampai kepada kebahagiaan abadi dan sejati (sorga) padahal ia sudah diingatkan oleh manusia sempurna seperti Muhammad saww sehingga tiada alasan lagi baginya untuk tidak mengenal Islam?
(4) Dalam surat yang dilayangkan kepada penguasa Nasrani wilayah Yamamah, Rasulullah menyatakan, “Ketahuilah bahwa agamaku (Islam) cepat atau lambat akan nampak (memenuhi dunia).”[48]
Surat ini merupakan bukti dan penjelas dari ayat yang menjelaskan bahwa Allah swt akan memenangkan agama yang lurus atas setiap agama di muka bumi.[49] Dengan kata lain, janji Allah swt untuk memenangkan ajaran Islam Muhammadi atas segala agama –termasuk agama-agama samawi yang telah menyimpang—cepat atau lambat akan diwujudkan oleh Allah swt.
Kesimpulan dan Penutup
Wacana pluralisme agama bukanlah wacana baru. Namun demikian, para pendukung wacana tersebut selalu berusaha untuk membungkusnya dengan berbagai kemasan sehingga terkesan baru. Dalam banyak tulisan telah dibahas berbagai kritikan terhadap wacana pluralisme ini dengan menggunakan argumen-argumen rasional sehingga terbukti bahwa wacana ini tidak didukung oleh argumen yang rasional. Bisa disimpulkan, hanya argumen emosional saja yang bisa memberikan dukungan kepada pluralisme, padahal argumen emosional tidak bisa dijadikan sandaran ilmiah bagi sebuah wacana.
Untuk itu, para pendukung wacana pluralisme berusaha mencari argumen teks yang dapat dijadikan dukungan keilmiahan atas wacana mereka. Mereka berusaha menafsirkan teks-teks yang bersifat ambigu (memiliki beberapa penafsiran) untuk disesuaikan dengan wacana yang ingin mereka pertahankan. Mereka lupa bahwa ada beberapa teks lain yang secara jelas dan tegas menolak pluralisme. Sebagaimana telah penulis jelaskan di atas, banyak ayat Al Quran –yang merupakan dalil primer kaum muslimin—yang menolak konsep dan wacana tersebut, begitu juga hadis dan riwayat sejarah Rasulullah. Dalam karya ringkas ini kembali dibuktikan bahwa pluralisme agama dengan kemasan baru yang dilekatkan oleh para pendukungnya (yang beragama Islam) bahkan ditentang oleh teks-teks yang terdapat di sekitar mereka sendiri.
Kesimpulan dari tulisan di atas adalah sebagai berikut.
1. Pengutusan Muhammad saww sebagai nabi untuk semesta alam telah ditentukan oleh Allah swt, serta sebelum kedatangannya pun telah dijelaskan oleh para nabi-nabi terdahulu.
2. Muhammad saww membawa ajaran Ilahi yang membenarkan ajaran para nabi terdahulu.
3. Allah swt memerintahkan segenap umat manusia dari agama manapun untuk menanggalkan ajarannya yang lalu dan mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saww.
4. Penekanan Allah swt terhadap manusia agar mengikuti ajaran Muhammad saww tidak lain karena penerimaan ajaran Muhammad adalah kunci untuk mendapat keselamatan abadi dan sejati.
5. Sikap penolakan terhadap seruan untuk mengikuti ajaran Muhammad setelah datangnya bukti dan argumen yang jelas, dapat dikategorikan sebagai kekafiran yang nyata.
6. Kekafiran terhadap ajaran Muhammad tidak akan memberikan keselamatan apapun di akherat kelak.
7. Kemungkinan untuk mendapat keselamatan abadi bagi non muslim adalah bagi orang-orang yang memang benar-benar masuk dalam kategori pribadi yang tertindas (mustadh’afiin) di muka bumi.
Kami akhiri tulisan tentang pluralisme keselamatan agama ini dengan mengutip firman-firman Allah swt sbb:
“Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya Rasul-Rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.”[50] “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulullah-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.”[51] “…barangsiapa menentang Allah dan Rasulullah-Nya, maka sesungguhnya neraka jahannam baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan besar.”[52]
Catatan
Namun dalam tulisan ringkas ini ada satu hal yang perlu dicatat dan ditegaskan. Tentu tidak bisa disamakan antara orang yang mengingkari (kafir) Islam atas dasar kesadaran dengan orang yang mengingkari Islam atas dasar ketidaktahuan (belum mendapat argumen sempurna). Orang yang mengingkari Islam padahal ia telah memiliki kesadaran penuh dan telah mendapat argumen sempurna (mu’anid), dapat dipastikan mustahil untuk mendapat keselamatan abadi. Sementara, “orang yang tidak mengetahui” sudah pasti akan tetap mendapatkan kasih sayang Allah swt. Argumen yang membuktikan hal ini adalah ayat Al Quran yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di (suatu) negeri.’ Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat berhijrah ke (belahan) bumi tersebut?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”[53]
Ampunan Allah terhadap orang-orang non muslim yang benar-benar tidak berdaya dan tidak tahu –sebagaimana yang disinggung di atas- juga sesuai dengan kaidah akal “qubhul iqob bilaa bayan” (jeleknya perbuatan menyiksa tanpa didahului penjelasan). Karena hal itu merupakan kejelekan, maka harus dijauhkan dari Dzat Yang Maha Baik dan Adil. Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari dalam karyanya yang berjudul “Keadilan Ilahi” telah memberikan berbagai argumentasi yang logis tentang kemungkinan orang kafir yang tidak mengetahui (belum mendapat argumen sempurna) untuk mendapat ampunan dari Allah swt sehingga mereka pun akhirnya diberi anugerah untuk mendapat keselamatan abadi di akherat kelak. Pembahasan mengenai hal ini lebih lanjut bisa dipelajari dalam teologi (kalam) Syiah pada bab “keadilan Ilahi”, sebagai cabang dari pembahasan rasionalitas baik-buruk. Tanpa ada keyakinan tentang rasionalitas baik-buruk niscaya akan sulit mencerna dan menganalisa dengan baik keyakinan mengenai hal ini.[]
----------------------------------------------------------
Penulis: Ketua umum Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Republik Islam Iran periode 2006-2007, Sekjen Badan Kerjasama Perhimpunan Pelajar Indonesia (BKPPI) se-Timur Tengah dan Sekitarnya.
________________________________________
Catatan Kaki:
[1] Dalam riwayat ini, Rasul menggunakan kata “lan” dalam kalimatnya yang berbunyi “lan yahduukum”. Sedang dalam tatanan bahasa Arab, kata “lan” menunjukkan arti “untuk selama-lamanya” (ta’bid), tanpa batas waktu.
[2] Fathul Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari jil:13 hal:525. Hadis semacam ini juga dapat dilihat dalam beberapa kitab Ahlusunah yang lain seperti: Shahih Bukhari, jil: 3 hal: 281-282, Musnad Ahmad bin Hanbal jil: 3 hal: 387 hadis ke-14859, Kanzul Ummal karya Muttaqi al-Hindi al-Hanafi jil: 1 hal: 370 hadis ke- 1625, ad-Durul Mantsur karya as-Suyuthi jil: 6 hal: 470 dalam menafsirkan ayat 51 dari surat al-Ankabut. Tentu dari beberapa kitab yang ada terdapat perbedaan redaksi, namun menunjukkan makna yang sama. As-Suyuthi menukilkan hadis Rasul seperti ini; “Sesungguhnya aku hanya diutus sebagai pembuka dan penutup. Aku telah dianugerahi “segenap kalimat” (jawami’ al-kalim) dan segala pembukanya. Dan telah diringkaskannya untuk-ku sebuah ajaran (hadits) secara singkat (baca ringkas). Maka, jangan sampai kaum yang kebingungan (mutahawwiquun) akan menghancurkan kalian”. Hadis semacam ini pun dapat dijumpai dalam beberapa kitab Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah (Jakfari). Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari dalam memberikan komentar hadis ini menyatakan: “Hadis ini dengan jelas memplokamirkan dan meneriakkan bahwa Rasulullah telah bersabda bahwa dengan datangnya al-Quran sebagai syariat terakhir maka Taurat dan Injil telah terhapus (mansukh)” (Lihat kitab karya beliau: Khadamaat-e mutaqobel Islam wa Iran).
[3] Ilmu Ushul Fikih adalah ilmu logika dalam mencari dasar hukum syariat (berijtihad).
[4] Larangan adalah lawan dari perintahah. Dalam ilmu ushul fikih, sebagaimana asal pelarangan adalah menghasilkan hukum pengharaman, maka perintah pun menghasilkan hukum wajib. Walaupun sebagian obyek hukum yang dikarenakan beberapa hal maka pelarangan akan menghasilkan hukum makruh dan perintah menghasilkan hukum sunah (mustahab).
[5] QS Aali Imran: 93
[6] QS al-Maidah: 15
[7] QS al-A’raf: 159
[8] QS as-Saba’: 28
[9] QS al-Furqon: 1
[10] QS at-Takwir: 27. Atau lihat QS Yusuf: 104
[11] QS as-Shaf: 6
[12] QS Aali Imran: 81-82
[13] Thaba’thaba’i, Allamah Muhammad Husein, al-Mizan fi Tafsir al-Quran, jil:3 hal:384
[14] QS al-Maidah: 19
[15] QS al-Maidah: 15
[16] QS al-Baqarah: 40-41
[17] QS Aali Imran: 70-71
[18] QS an-Nisa’: 168
[19] QS al-Baqarah: 177
[20] QS al-Maidah: 73
[21] QS al-Maidah: 17
[22] QS an-Nisa’: 171
[23] QS al-Maidah: 18
[24] QS at-Taubah: 30
[25] QS al-Maidah: 64
[26] QS al-Maidah: 51
[27] QS al-Baqarah: 119-120
[28] QS Aali Imran: 85
[29] QS al-An’am: 125
[30] Muthahhari, Ayatullah Syahid Murtadha, ‘Adl-e Ilahi, intisyarat-e Shadra, Iran, cet ke-14, hal; 251
[31] QS al-Baqarah: 89-91
[32] QS al-A’raf: 156-158
[33] QS al-Baqarah: 135
[34] QS al-Baqarah: 140
[35] QS Aali Imran: 19-20
[36] Sebagaimana yang dapat disinyalir dalam ayat: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al-Quran yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada al-Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang al-Quran itu adalah (kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman” (QS al-Baqarah: 91). Dan lihat ayat-ayat lain yang menyatakan bahwa kaum Yahudi telah melakukan pembunuhan terhadap beberapa nabi misal; QS al-Baqarah: 61 , Aali Imran: 21 / 112 / 181, an-Nisa’: 155.
[37] QS as-Shaf: 9
[38] “Dan tiada yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS an-Najm: 3-4)
[39] at-Thabaqoot al-Kubra jil:1 hal:191
[40] Biharul Anwar jil:4 hal: 104
[41] Lihat QS al-maidah: 48
[42] al-Kamil fi at-Tarikh karya Ibnu Katsir jil: 2 hal: 61
[43] Tafsir al-Kabir karya Fakhrur Razi jil: 2 hal: 507
[44] QS al-Maidah: 48
[45] Makatiib ar-Rasul jil: 1 hal: 165
[46] Ibid, jil:1 hal:121
[47] Ibid, jil:1 hal:97 & 105
[48] Ibid, jil:1 hal:136
[49] Lihat kembali ayat-ayat dalam; QS at-Taubah: 33, as-Shaf: 9 dan atau al-Fath: 28 yang berbunyi: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenagkan-Nya atas semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi”.
[50] QS Aali Imran: 184
[51] QS an-Nisa’: 14
[52] QS at-Taubah: 63
[53] QS an-Nisa’: 97-99
Pada masa kenabian Musa (as) agama taslim ada pada agama Yahudi, pada zaman kenabian nabi Isa (as) agama taslim ada pada agama Nasrani sehingga semua pengikut Yahudi harus mengikutinya. Sedang pada masa kenabian Muhammad saww, agama taslim terdapat pada agama Islam Muhammadi dan umat Yahudi-Nasrani pun harus mengikutinya. Dengan kata lain, setiap orang dari agama apa pun “harus menyesuaikan diri” terhadap agama nabi setiap zamannya. Orang-orang yang hidup pasca pengutusan Muhammad wajib untuk mengikuti agama Nabi Muhammad karena dia adalah nabi terakhir dan ajarannya merupakan penyempurna dari seluruh ajaran para nabi pendahulunya.
-------------------------------------------------------
Dalam kitab Fathul-Bari (syarah Sahih Bukhari) karya Ibnu Hajar disebutkan satu hadis yang diriwayatkan dari Jabir ra. Dalam hadis tersebut, Jabir mengatakan: “Umar (bin Khatab) telah menyalin tulisan (yang diambil) dari Taurat dengan berbahasa Arab. Lantas ia membawa dan kemudian membacanya di hadapan Rasulullah saw. (Mendengar itu) wajah Rasulullah saww tampak berubah. Lalu, berkatalah seorang dari kaum Anshar kepadanya (Umar), “Celakalah engkau wahai putera (Ibnu) Khatab! Tidakkah engkau melihat wajah Rasulullah?” Lantas Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menanyakan kepada Ahli Kitab tentang sesuatu apapun. Karena mereka tiada akan pernah[1] memberi petunjuk (hidayah) kepada kalian. Dan karena mereka telah sesat. Sedang kalian, (jika kalian membenarkannya) maka berarti kalian telah membohongkan kebenaran, atau berarti kalian telah membenarkan kebatilan. Demi Allah, jika (nabi) Musa ada di tengah-tengah kalian, niscaya ia tiada akan memposisikan (dirinya) kecuali dengan mengikutiku”[2].
Sedikitnya ada enam poin yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah dalam hadis tersebut, yaitu sebagai berikut.
1- Hadis ini menjelaskan tentang larangan Rasulullah terhadap umatnya untuk menanyakan sesuatu (masalah keagamaan) apapun kepada Ahli Kitab. Dalam pembahasan ushul fiqih[3], asal pelarangan dengan menggunakan kata “laa” yang berarti “jangan” menunjukkan “pengharaman”[4]. Haram berarti harus dijauhi, dan melakukannya merupakan dosa. Hukum haram dalam kasus ini akan lebih terjelaskan lagi dalam poin-poin selanjutnya. Sedang kata “syaian” yang berarti “sesuatupun” memberikan arti kemutlakan sesuatu. Tentu, kemutlakan sesuatu dalam hadis ini tidak mencakup dengan hal-hal duniawi, misalnya masalah perdagangan. Indikasi (qorinah) yang ada dalam hadis ini menunjukkan bahwa “kemutlakan sesuatu” tadi berkaitan dengan pemberian petunjuk (hidayah). Hal ini menunjukkan bahwa kemutlakan itu berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan, baik menyangkut akidah (teology), hukum (Islamic laws), ataupun akhlak (ethic). Jadi obyek pelarangan Rasulullah tadi berkaitan langsung dengan ketiga hal yang menjadi bagian terpenting dari agama Islam tersebut.
2- Dalam hadis ini, jelas Rasulullah tidak memberi pengkhususan (qoyd) terhadap kelompok Ahli Kitab tertentu. Di dalam hadis ini tidak terdapat kata semisal “Ahli Kitab yang telah menyimpang” atau “Ahli Kitab yang fasik”. Kembali dalam kajian ushul fiqih disebutkan, jika dalam sebuah hadis Rasulullah tidak memberikan qoyd apapun, artinya beliau telah memutlakkannya. Dengan demikian, dalam hadis ini yang dimaksud oleh Rasulullah adalah semua Ahli Kitab. Berarti, pelarangan untuk bertanya tentang masalah-masalah keagamaan terhadap Ahli Kitab, mencakup Ahli Kitab mana pun, siapa pun, di mana pun dan kapan pun pasca pengutusan Muhammad.
3- Alasan pelarangan Rasulullah ini adalah karena Ahli Kitab tiada akan pernah dapat memberi petunjuk kepada kaum muslimin (pemeluk agama Islam Muhammadi). Walaupun hal ini tampak sebagai alasan pertama Rasulullah, namun alasan tersebut sebenarnya merupakan “akibat” dan konsekuensi logis dari alasan kedua yang akan disampaikan dalam poin ke-4 (dalam poin ke-4 disebutkan: Rasulullah menyatakan bahwa Ahli Kitab telah sesat). Akal sehat akan menetapkan bahwa, orang sesat tidak akan (baca: mustahil) mampu memberi petunjuk kepada orang lain sementara dirinya tetap dalam kesesatan. Dalam filsafat Islam disebutkan satu kaidah akal yang mengatakan, faaqidus syai’ laa yu’thi (ketiadaan sesuatu, tiada akan memberi (sesuatu)), maka ketidakpunyaan petunjuk pada diri Ahli Kitab meniscayakan kemustahilan kemampuan untuk memberi petunjuk kepada kaum muslimin.
4- Alasan kedua pelarangan Rasulullah kepada umatnya untuk bertanya kepada Ahli Kitab adalah karena Ahli Kitab telah sesat. Karena mereka sesat, tentu saja sesuai kaidah akal, mereka tidak mungkin bisa memberi petunjuk. Adapun bukti tekstual kesesatan mereka akan penulis bahas pada bagian “ketidakberlakuan syariat agama-agama samawi non-Islam pasca pengutusan Muhammad”.
5- Pelanggaran terhadap amanat Rasulullah tersebut meniscayakan dua kemungkinan yang keduanya sama-sama buruk: mengingkari kebenaran atau membenarkan kebatilan. Pengingkaran kebenaran dan pembenaran kebatilan tentu sangat bertentangan dengan akal sehat dan fitrah suci manusia.
6- Semua ajaran syariat para nabi terdahulu telah terhapus (mansukh) dengan diutusnya Muhammad Rasulullah saww. Hal ini telah disinggung dalam berbagai ayat dan riwayat sebagai argumen tekstual kaum muslimin. Oleh karenanya, jikalau semua nabi –dari Adam as hingga Isa al-Masih as- dihidupkan dan dikumpulkan kembali pada masa pasca pengutusan Muhammad saww sebagai Nabi dan Rasul, niscaya mereka (para nabi itu) akan diperintahkan oleh Allah swt untuk tunduk, taat, dan mengikuti syariat Muhammad. Jika para nabi dan Rasul pun diperintahkan untuk mengikuti syariat Muhammad, maka konsekuensinya adalah: umat yang mengaku sebagai pengikut ajaran para nabi dan Rasul tadi –sesuai dengan dasar hukum prioritas (qiyas awlawiyat)- pun juga diperintahkan untuk mengikuti ajaran dan syariat Muhammad. Jika tidak, maka kesesatan akan tetap menjadi label dari keyakinan umat tersebut.
Selain hadis di atas tadi, dalam tulisan ringkas ini akan dibahas sedikit tentang dalil-dalil tekstual agama Islam yang banyak dipakai sebagai pembenaran teori pluralisme agama, baik pluralisme agama yang diartikan ‘pengakuan akan kebenaran setiap agama’, maupun ‘setiap agama mampu menghantarkan pengikutnya menuju keselamatan abadi di akherat kelak’. Penulis akan membuktikan bahwa ternyata dalil-dalil tersebut bukan hanya sama sekali tidak condong terhadap wacana pluralisme agama, namun malah menentangnya. Dalam pembuktian masalah ini, sangat banyak teks yang harus disinggung, namun untuk menyingkat pembahasan, penulis akan membahas beberapa teks agama saja.
Bagi kaum muslimin, argumentasi Al Quran merupakan dalil primer yang kebenarannya tidak dapat diganggu gugat oleh argumen apapun. Karena itu, terlebih dahulu penulis akan membahas beberapa ayat yang membuktikan penentangan Islam terhadap konsep pluralisme agama. Setelah itu, baru akan disinggung dalil-dalil lain, yaitu hadis-hadis sebagai pendukung kekuatan argumentasi Al Quran. Oleh karenanya, jika terdapat hadis-hadis biasa yang bertentangan dengan apa yang telah dinyatakan oleh Al Quran, maka hadis-hadis tadi harus diartikan dengan makna lain (takwil) sehingga sesuai dengan Al Quran. Jika tidak mungkin untuk diadakan proses pentakwilan, maka sesuai dengan perintah Nabi Islam (Muhammad), kita tidak perlu segan-segan untuk membuang hadis-hadis seperti itu ke dalam tong sampah, karena bertentangan dengan kitab suci Al Quran.
A- Ayat Al Quran dan Pluralisme Agama
Dalam Al Quran, terdapat ayat-ayat yang membahas tentang adanya perubahan dalam kitab-kitab suci sebelum Al Quran yang mengakibatkan ajaran agama mereka (Ahli Kitab: Yahudi, Nasrani dan Sabi’in) tidak murni lagi. Allah swt dalam Al Quran berfirman: “…maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”[5]. Hal ini dikarenakan firman Allah: “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”[6]. Dalam ayat tadi dijelaskan akan adanya keharusan mengikuti ajaran yang dibawa oleh Muhammad saww yang diutus oleh Allah swt dimana semua ajarannya terangkum dalam kitab yang juga diturunkan bersamanya. Hal ini dikarenakan banyak dari hukum dan ajaran Allah yang telah disimpangkan oleh pengikut agama sebelum agama Muhammad (Islam). Lantas, bagaimana mungkin ajaran menyimpang akan dapat menjamin pengikutnya untuk mendapat keselamatan abadi?
Masih banyak lagi ayat-ayat Al Quran yang membahas tentang ruang lingkup pengangkatan Muhammad bin Abdulah saww sebagai utusan Allah. Allah swt memberitahukan bahwa Muhammad saww diutus untuk segenap manusia, yang berarti mencakup pengikut agama-agama terdahulu agar mereka pun mengikuti Muhammad Rasulullah saww dalam setiap ajarannya. Allah swt berfirman: “Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi….maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasulullahnya, Nabi yang ummi…dan ikutilah dia supaya kamu dapat petunjuk”[7]. Paling tidak, terdapat tiga poin yang dapat dijadikan dalil dari ayat tadi. Pertama, Muhammad saww diutus untuk segenap manusia; pengutusan Muhammad bersifat lintas kelompok dan kalangan manusia, termasuk lintas agama. Kedua, obyek keimanan adalah iman kepada Allah swt dan iman kepada kerasulan Muhammad (yang ummi) dengan berbagai konsekuensinya; dengan mengikuti segala perintah dan menjauhi semua larangannya. Ketiga, mengikuti ajaran Muhammad adalah kunci untuk mendapat petunjuk dan dengan petunjuk itulah manusia bisa mencapai keselamatan abadi.
Dalam ayat lain Allah swt berfirman: “Dan Kami tiada mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”[8]. Dari ayat tadi, minimalnya ada empat poin yang perlu digarisbawahi. Pertama, Muhammad diutus untuk segenap manusia, tanpa terkecuali, bahkan termasuk kaum Atheis. Karena itu, selama suatu makhluk masih bernama manusia, maka ia tercakup dalam “perintah Ilahi” tersebut. Kedua, Muhammad saww adalah pembawa gembira berupa kebahagiaan sejati dan abadi (sorga). Tentu, kabar gembira tersebut diperuntukkan bagi yang mengikuti ajarannya dengan baik dan benar, tanpa terpolusi oleh penyimpangan atau penyelewengan. Ketiga, Muhammad saww adalah pembawa “peringatan” berupa kesengsaraan abadi (neraka). Peringatan tersebut ditujukan kepada mereka yang tidak mematuhi perintah Allah swt untuk mengikuti Muhammad saww beserta ajarannya. Keempat, banyak orang yang tidak sadar dan tidak mengetahui point-point tadi sehingga masih saja banyak orang yang tidak mengikutinya, atau bahkan mengikuti agama lain selain agama yang dibawa oleh Muhammad saww.
Beberapa ayat Al Quran yang penulis ajukan tadi semuanya menjelaskan bahwa Muhammad saww adalah utusan Allah yang bersifat mendunia dan karenanya, kitab sucinya pun diperuntukkan bagi segenap umat manusia di dunia ini. Allah swt berfirman: “Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqon (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”[9]. Dalam ayat lain Allah swt berfirman: “Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam”[10]. Segenap manusia merupakan bagian dari alam semesta. Artinya, ayat-ayat tadi memberikan penjelasan bahwa Al Quran diturunkan agar umat manusia –apapun agamanya- mengikuti petunjuk yang ada di dalamnya. Dan otomatis, sewaktu seseorang mengikuti Al Quran yang diturunkan oleh Allah swt melalui Muhammad saww berarti ia telah memeluk agama Islam.
Dalam Al Quran, terdapat beberapa ayat yang menjelaskan bahwa kerasulan Muhammad saww dan perintah untuk mengikuti ajarannya telah tercantum dalam kitab-kitab suci lain sebelum penurunan Al Quran. Hal itu membuktikan dan memberikan konsekuensi bahwa setiba Muhammad saww, kaum Yahudi, Nasrani dan Shabi’in pun harus mengikuti ajaran Allah swt yang dibawa oleh Muhammad saww. Dalam hal ini Allah swt berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasulullah yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala Rasulullah itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata”[11]. Sebagaimana Isa al-Masih (as) di utus untuk meluruskan ajaran para nabi terdahulu yang telah disimpangkan oleh umatnya, demikian pula fungsi pengutusan Muhammad saww. Ajaran Muhammad tidak bertentangan dengan ajaran para nabi dan Rasulullah pendahulunya, dan bahkan membenarkan apa yang telah datang sebelumnya. Tentu, “kabar gembira” dalam ayat tadi bukan hanya sekedar kabar, namun memiliki konsekuensi, yaitu kewajiban untuk mengikuti segala ajaran (Nabi Muhammad), sebagaimana Isa (as) datang untuk diikuti oleh segenap Bani Israil yang yang semula mengikuti ajaran Musa al-Kalim (as).
Dalam ayat lain Allah swt berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Sesungguhnya apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasulullah yang membenarkan apa yang datang kepadamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya’. Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi pula bersama kamu’. Barangsiapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”[12] Kalimat “beriman kepadanya dan menolongnya” dalam ayat tadi memiliki dua kemungkinan makna. Pertama, keharusan para nabi terdahulu untuk mengimani karasulan Muhammad yang akan datang di kemudian hari, dan hal tersebut berfungsi sebagai keselamatan mereka pribadi terhadap ilmu yang diberikan oleh Allah swt kepada mereka. Kedua, para nabi sebelum Nabi Muhammad bertugas menolong Nabi Muhammad dengan cara mungumumkan kerasulan dan kebenaran ajarannya kepada segenap umat mereka. Dengan cara itu, umat para nabi tersebut akan mengikuti ajaran Muhammad. Ini sebagai bukti bahwa agama para nabi yang diturunkan oleh Allah swt adalah satu, yaitu Islam. Islam yang bersumber dari fitrah suci manusia yang selalu mengajak kepada ke-Esa-an Allah swt[13].
Sementara itu, adanya ayat-ayat yang menjelaskan akan celaan Allah terhadap para Ahli Kitab adalah disebabkan ulah mereka dalam mengubah ajaran dan menjadikannya terpolusi oleh keyakinan syirik yang dibenci oleh Allah swt. Kedatangan Muhammad saww telah disinggung dalam kitab-kitab suci mereka terdahulu sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Dengan demikian, perintah Allah untuk mengikuti ajaran dan agama Muhammad adalah kunci keselamatan dan kebahagiaan abadi bagi mereka. Jika perintah itu tidak mereka laksanakan, niscaya azab Allah akan tertuju kepada mereka. Allah swt berfirman, “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, ‘Tidak ada datang kepada kami baik seseorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.’ Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”[14] Ini sebagai bukti bahwa pengutusan Rasulullah saww adalah sebagai argumen (hujjah) Allah terhadap umat manusia. Selepas pengutusan Muhammad, tiada lagi alasan bagi umat manusia di hadapan Allah -di akherat kelak- untuk tersesat dengan tidak mengikuti ajaran Muhammad.
Dalam ayat lain Allah berfirman, “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi kitab yang kamu sembunyikan…”[15]. Juga ayat yang berbunyi: “Hai Bani Isarail, ingatlah akan nikmat-nikmat-Ku…dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janjiKu kepadamu dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus tunduk. Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya…”[16]. Ayat ini dengan tegas dan jelas memerintahkan umat agama lain untuk mengimani Muhammad saww, yang tentunya memberikan konsekuensi logis, yaitu mengikuti ajarannya. Tanpa mengikuti Muhammad saww, maka kebatilan dan kesesatan mereka akan semakin tampak dengan jelas. Oleh karenanya Allah swt berfirman: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya). Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”[17]
Dari penjelasan beberapa ayat di atas jelaslah bahwa Ahli Kitab diperintahkan oleh Allah swt untuk mengikuti ajaran yang dibawa oleh Muhammad saww, yang berarti mereka diperintah untuk memeluk agama Islam. Dan pengutusan Muhammad adalah sebagai argumen sempurna (hujjah taammah) agar mereka tidak dapat lagi beralasan untuk tidak mengenal kebenaran yang akan membawa mereka kepada keselamatan abadi nan sejati. Jika mereka tidak mengimani syariat dan ajaran Muhammad, niscaya keimanan mereka terhadap Allah swt layak untuk dipertanyakan. Allah swt berfirman: “Wahai manusia, telah datang Rasulullah (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang dilangit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah…”[18]. Dalam ayat lain Allah swt berfirman: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi… ”[19] Dari ayat ini jelas bahwa obyek keimanan adalah iman kepada para nabi. Para nabi satu sama lain saling membenarkan ajaran mereka, dan mereka semua pun memberitakan kerasulan Muhammad dan membenarkan ajarannya, yang berarti perintah untuk mengikuti ajaran yang dibawanya pasca pengutusannya.
Kesesatan Ahli Kitab
Meskipun ajaran asli para nabi adalah ajaran yang benar, yang bersumber dari Allah swt, namun sepeninggal para nabi itu, umatnya menyelewengkan ajaran tersebut. Terlampau banyak ayat-ayat Al Quran yang menyebutkan kesesatan Ahli Kitab akibat penyimpangan mereka terhadap esensi dasar ajaran Ilahi -yaitu konsep tauhid (ke-Esa-an Tuhan)- sebagaimana yang disinyalir dalam ayat, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah salah satu dari tiga’. Padahal sekali-kali tidak ada tuhan selain dari Tuhan Yang Esa…”[20] Dalam ayat lain disebutkan, ‘Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putera Maryam…”[21] Atau ayat yang berbunyi, “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah… Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa…”[22] Dari ayat-ayat tadi, ada dua pertanyaan yang mungkin bisa dilontarkan: adakah umat Nasrani sekarang ini yang tidak meyakini konsep trinitas dalam bertuhan? Dan jika mereka (yang meyakini trinitas) telah dihukumi kafir, yang berarti sesat, mungkinkah manusia yang sesat akan dapat menghantarkan pihak lain menuju keselamatan abadi? Mungkin saja ada sebagian kaum Kristiani yang tidak meyakini trinitas dalam ketuhanan, namun jumlahnya pastilah sangat minim. Atas dasar itu, Allah swt mengajarkan Muhammad saww untuk menjawab dakwaan-dakwaan kosong kaum Ahli Kitab dengan firman-Nya, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.’ Katakanlah, ‘Maka mengapa Allah menyiksa kamu atas dosa-dosamu?”[23]
Jika Yahudi dan Nasrani –pasca pengutusan Muhammad- adalah agama yang mampu menghantarkan kepada keselamatan abadi, lantas mengapa Muhammad saww diperintahkan Allah untuk menjawab pengakuan-pengakuan palsu kaum Yahudi dan Nasrani dengan jawaban semacam itu? Lebih dari itu, dalam salah satu ayat disebutkan bahwa, kaum Yahudi dan Nasrani –pasca pengutusan Muhammad- yang dikarenakan akidah mereka telah terpolusi dengan penyekutuan Allah (syirik), maka mereka pun akhirnya mendapat laknat Allah swt. Allah swt berfirman, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putra Allah’. Dan orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu putra Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka itu meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?”[24] Dalam ayat lain Allah swt berfirman, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu’, sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu…”[25].
Jika kaum Yahudi dan Nasrani dengan ucapan itu dihukumi oleh Allah swt sebagai orang kafir yang terlaknat oleh-Nya, maka mungkinkah pengikut agama yang dilaknat Allah swt akan dapat membawa pengikutnya menuju keselamatan abadi? Padahal keselamatan abadi di akherat kelak semuanya bersumber pada keridhoan Allah swt, Penguasa Seluruh Alam. Tanpa ridho Allah, mustahil keselamatan akan teraih. Mendapatkan laknat Allah artinya mendapat siksa dan azab Ilahi. Atas dasar kekafiran dan laknat Ilahi terhadap para pengikut Ahli Kitab –pasca pengutusan Muhammad- itulah akhirnya Allah swt memerintahkan manusia-manusia beriman dengan perintah-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(-mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”[26]
Banyak pertanyaan yang bisa dilontarkan berkaitan dengan ayat tadi, misalnya, mengapa Allah melarang orang mukmin (muslim) mengambil pemimpin dari orang Yahudi dan Nasrani? Mengapa jika itu dilakukan oleh orang mukmin, lantas ia tergolong kaum Yahudi dan Nasrani? Lantas mengapa Allah mengancam tidak memberi petunjuk terhadap orang mukmin yang melakukan hal itu? Mengapa pelaku perbuatan tersebut tergolong pelaku kezaliman? Jika agama Yahudi dan Nasrani di zaman sekarang -pasca pengutusan Muhammad- juga mampu menghantarkan kepada kebahagiaan sejati, lantas mengapa datang larangan dan ancaman dari Allah swt? Jawaban dari beberapa pertanyaan tadi akan dapat ditemukan dalam ayat, “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan…Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itu adalah petunjuk yang benar’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”[27] Ayat ini jelas sekali menunjukkan bahwa ajaran Muhammad harus diikuti oleh kaum Yahudi dan Nasrani juga. Tentu dengan itu, maka seorang Yahudi dan Nasrani akan disebut dengan muslim. Karena hanya Islam-lah yang mampu menghantarkan kepada keselamatan dan kebahagiaan abadi. Allah swt hanya menjadi pelindung dan penolong bagi orang yang mengimani dan mengikuti ajaran Muhammad saja.
Dalam beberapa ayat juga dijelaskan bahwa tunduk patuh dan berserah diri penuh (taslim) merupakan syarat terkabulnya sebuah amalan. Lantas apa hakekat dan obyek serta tujuan penyerahan diri tersebut? Dalam sebuah ayat Allah swt berfirman, “Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi”[28]. Dan dalam ayat lain Allah swt berfirman, “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”[29]
Ayatullah Murthadha Muthahari dalam kitab keadilan Ilahi-nya menyatakan bahwa, memang Islam yang dimaksud dalam ayat tadi adalah agama kepasrahan (taslim) yang mencakup semua agama para nabi terdahulu. Namun agama taslim itu pada setiap zaman kenabian memiliki bentuk yang tertentu. Pada masa kenabian Musa (as) agama taslim ada pada agama Yahudi, pada zaman kenabian nabi Isa (as) agama taslim ada pada agama Nasrani sehingga semua pengikut Yahudi harus mengikutinya. Sedang pada masa kenabian Muhammad saww, agama taslim terdapat pada agama Islam Muhammadi dan umat Yahudi-Nasrani pun harus mengikutinya. Dengan kata lain, setiap orang dari agama apa pun “harus menyesuaikan diri” terhadap agama nabi setiap zamannya. Orang-orang yang hidup pasca pengutusan Muhammad wajib untuk mengikuti agama Nabi Muhammad karena dia adalah nabi terakhir dan ajarannya merupakan penyempurna dari seluruh ajaran para nabi pendahulunya.[30]
Dikarenakan para Ahli Kitab tidak mengikuti Muhammad saww –yang secara otomatis berarti tidak taat terhadap para nabi mereka terdahulu- maka Allah pun mencela mereka. Celaan dari Allah itu dapat kita baca dalam ayat-ayat yang telah penulis sebutkan di atas. Islam Muhammad merupakan kelanjutan dari Islam para nabi terdahulu dan kunci untuk mendapat petunjuk Allah dan setiap nabi utusan Allah merupakan argumen sempurna (hujjah tammah) Allah terhadap makhluk-Nya. Karena itu, bila Ahli Kitab tetap tidak mau mengikuti ajaran Nabi Muhammad, maka Allah menjanjikan azab di akherat bagi mereka, “Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah karena dengki…Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah’, mereka berkata, ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.’ Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah, ‘Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman’.”[31]
Jadi, obyek dan tujuan ketundukan dan keberserahdirian adalah Allah swt semata, sebagai konsekuensi logis dari konsep pengesaan-Nya. Dan dikarenakan Allah swt telah memerintahkan umat manusia untuk mengikuti ajaran Muhammad –yang terangkum dalam agama Islam- maka berarti Islam adalah syarat utama untuk diterimanya suatu amal kebajikan bagi para Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani dan Shabi’in). Melalui syarat utama inilah mereka akan mendapat petunjuk yang dapat mengantarkan mereka menuju keselamatan abadi. Tanpa mengikuti Islam niscaya mereka tiada akan mendapat petunjuk menuju kebahagiaan abadi (sorga). Dalam hal ini Allah swt berfirman: “…Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasulullah, nabi yang ummi yang (namanya) tercantum dalam Taurat dan Injil ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar…Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasulullah-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.”[32]
Dari ayat-ayat di atas, jelas sekali bahwa petunjuk untuk mendapat keselamatan abadi bagi segenap umat manusia –di alam semesta ini setelah diutusnya Muhammad—adalah mengimani dan mengikuti semua apa yang diajarkannya. Dengan mengamalkan semua ajarannya berarti manusia tersebut layak disebut sebagai manusia yang beriman dan bertakwa (baca: berperilaku baik). Perilaku baik dalam arti berbuat makruf dan menjauhi mungkar sesuai dengan ridho Allah swt. Atas dasar itu, Allah swt dalam ayat lain memerintahkan Rasulullah untuk menjawab pengakuan pengikut Yahudi dan Nasrani yang mengatakan, “Dan mereka berkata, ‘Hendaklah kamu menjadi pengikut agama Yahudi dan Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’ Katakanlah, ‘Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang yang musyrik.’”[33] Ayat ini dengan jelas menolak pernyataan bahwa petunjuk berasal dari ajaran Yahudi dan Nasrani. Keselamatan abadi sudah pasti berasal dari petunjuk yang benar dan sesuatu yang salah mustahil akan memberi keselamatan bagi pemiliknya.
Allah swt dalam ayat lain lebih menegaskan bahwa Ibrahim bukan pengikut keyakinan syirik yang telah menyelewengkan agama Yahudi dan Nasrani. Dalam ayat tersebut Allah swt juga menafikan kepemilikan Yahudi dan Nasrani atas petunjuk. Allah swt berfirman: “Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakqub dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan”[34].
Jika apa yang didakwahkan oleh para pendukung pluralisme agama adalah benar, yaitu “bahwa setiap agama mampu menghantarkan kepada keselamatan sejati”, lantas mengapa dalam ayat ini Allah swt mempermasalahkan pengakuan kaum Yahudi dan Nasrani bahwa para nabi adalah dari golongan mereka? Allah swt –sebagaimana yang telah disinggung pada ayat-ayat yang lalu- telah menetapkan bahwa syarat utama untuk menuju kebahagiaan abadi (sorga) di kehidupan akherat kelak adalah dengan memeluk Islam (Islam Muhammadi yang merupakan kelanjutan dari Islam para nabi sebelumnya). Atas dasar tersebut Allah swt berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam.’ Jika mereka masuk Islam, sesunguhnya mereka mendapat telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan…”[35]
Dalam ayat tadi jelas disebutkan adanya seruan dan ajakan kepada para pengikut Ahli Kitab agar mereka mengikuti Islam supaya mereka mendapat petunjuk. Lantas, apakah tidak bertentangan jika dihubungkan dengan anggapan bahwa semua agama –pasca pengutusan Rasulullah- memiliki saham dalam menghantarkan pengikutnya untuk meraih keselamatan abadi? Jika semua agama mampu menghantarkan kepada keselamatan abadi yang sebagai dambaan dan tujuan akhir bagi setiap manusia, lalu apa tujuan penurunan ayat di atas tadi? Bukankah Allah swt disucikan dari segala bentuk keburukan, yang salah satunya berupa pelaksanaan perbuatan sia-sia?
Sekali lagi, jika agama Yahudi dan Nasrani –pasca pengutusan Muhammad- mampu menghantarkan kepada keselamatan abadi dengan syarat iman dan amal saleh, lantas mengapa Allah masih swt bersikeras agar mereka mengimani Al Quran yang dibawa Muhammad yang berarti menyuruh mereka masuk Islam Muhammadi? Apa hubungan antara iman dan membunuh para nabi?[36] Bukankah ini membuktikan bahwa keimanan kepada nabi-nabi yang diutus oleh Allah swt memiliki peran yang sangat penting dalam mengantarkan manusia menuju kepada keselamatan abadi?
Adanya perintah untuk mengikuti ajaran agama Muhammad bagi segenap manusia, akan menjadikan agama Muhammad (Islam) tampil sebagai ajaran (baca: agama) pengganti bagi segenap ajaran terdahulu, termasuk ajaran agama Yahudi, Nasrani dan Shabi’in: “Dia-lah yang mengutus Rasulullah-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci”[37]. Dari ayat ini dapat direnungkan, apa hubungan antara agama yang dinyatakan sebagai pembawa petunjuk yang benar dan kemenangannya atas agama yang lain? Apa maksud dari dimenangkan atas segala agama? Mungkinkah agama yang lain –yang dikalahkan agama yang benar—juga memiliki muatan kebenaran pula? Mungkinkah dua agama yang ajarannya saling bertentangan (paradoks) –baik dari sisi teologi maupun hukum- maka keduanya dapat dihukumi benar, padahal berdasarkan pengakuan dari Allah swt Islam Muhammad adalah benar dan mampu menghantarkan kepada keselamatan abadi? Mungkinkah agama-agama lain yang akan dikalahkan dengan agama Muhammad juga mampu membawa pengikutnya menuju keselamatan abadi? Mungkinkah Allah swt akan menggunakan standar ganda dalam menilai kebenaran dan dalam menyelamatkan pengikut agama yang berbeda-beda padahal Allah swt telah menyatakan bahwa semua agama para nabi bertumpu pada satu pondasi utama yang bernama “ajaran tauhid”? Secara logis, jawaban dari pertanyaan di atas adalah “tidak mungkin”.
B- Sunah Rasulullah serta Ahlul Bayt-nya dan Pluralisme Agama
Dalam surat an-Najm ayat 3-4[38] dijelaskan bahwa apapun yang muncul–baik berupa kata-kata, perbuatan, maupun persetujuan—dari pribadi Rasulullah saww merupakan wahyu yang diturunkan Allah dan bukan berdasarkan hawa nafsunya sendiri. Untuk itu, semua yang terkeluar dari Rasulullah (sunnah) –yang memang benar terkeluar dari beliau- dapat dipastikan mustahil bertentangan dengan wahyu Allah (Al Quran). Dengan kata lain, akhlak Rasulullah sepenuhnya adalah bersumber dari Al Quran. Sebaliknya, pengejawantahan Al Quran pada wujud lahiriah terdapat pada diri Rasulullah. Begitu juga halnya dengan Ahlul Bayt Rasulullah. Hadis “ats-Tsaqolain” –yang diriwayatkan dalam kitab-kitab standar Sunni-Syiah—disebutkan bahwa antara Al Quran dan Ahlul Bayt tidak akan pernah berpisah untuk selamanya, merupakan salah satu bukti konkrit atas pernyataan tadi.
Dalam penjelasan di atas sudah penulis sebutkan dalil-dalil argumentasi bahwa Al Quran bukan saja tidak mendukung bahkan telah menentang konsep pluralisme agama. Selanjutnya, penulis akan menelaah tentang persesuaian antara Al Quran yang diam (Al Quran as-Shamith, yaitu Kitab Suci Al Quran) dan Al Quran yang berbicara (Al Quran an-Nathiq, yaitu Rasulullah dan Ahlul Baitnya) dalam kaitan penentangan terhadap pluralisme agama.
A - Rasulullah saww bersabda, “Aku adalah Rasul bagi orang yang hidup sezaman denganku ataupun yang terlahir setelahku.”[39]
Hadis ini jelas menjelaskan bahwa Rasulullah saww adalah pembawa wahyu Allah yang harus diikuti dan ditaati bagi orang yang hidup sezaman dengan beliau ataupun yang lahir pasca beliau, secara mutlak, baik orang tersebut beragama samawi (Yahudi, Nasrani atau Shabi’in) atau beragama apapun termasuk atheis sekalipun. Menaati Muhammad saww artinya harus beragama Islam.
B - Rasulullah saww bersabda, “Sesungguhnya Allah swt menjadikan kitabku (Al Quran) ini sebagai pelurus atas kitab-kitab mereka dan penghapus ajarannya (nasikh).”[40]
Jika semua agama –khususnya agama-agama samawi—adalah benar dan dapat menjamin pengikutnya untuk mendapat keselamatan abadi, lantas mengapa kitab suci dan perundang-undangan mereka, yang dijadikan standar ketaatan dan amal kebajikan, harus direvisi? Bukankah hadis ini penjelas terbaik tentang perevisian aturan syariat (syir’ah) dan metode (minhaj)[41] para nabi terdahulu yang selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman pengutusan para nabi dan Rasul? Lantas bagaimana jika mereka tidak mengikuti perevisian tersebut, apakah mungkin mereka akan selamat?
C - Selepas pengangkatan Muhammad sebagai Rasulullah dan beliau melakukan dakwah secara terang-terangan lantas beliau mengumpulkan segenap sanak familinya atas perintah ayat “wa andzir ‘asyirataka al-aqrabiin” (dan berilah peringatan terhadap keluarga terdekatmu). Beliau mengatakan kepada mereka, “…Aku diutus oleh Allah kepada kalian secara khusus dan buat segenap manusia secara umum.”[42]
D - Imam Ali as bersabda, “Allah swt setelah mengutus nabi Adam hingga seterusnya dari para nabi telah mengambil janji dari mereka semua bahwa, jika Ia telah mengutus Muhammad saw sedang mereka hidup maka mereka harus mengimani dan membantunya.”[43]
Berarti agama samawi apapun yang dibawa oleh nabi manapun –setelah pengutusan Muhammad—harus “melebur” ke dalam agama Muhammad. Dengan datangnya Muhammad saw, agama-agama samawi yaitu Yahudi yang dibawa Musa (as), Nasrani yang dibawa Isa (as) dan Shabi’in yang dibawa Yahya (as) syir’ah dan minhaj-nya tidak tidak berfungsi lagi, alias telah kadaluwarsa. Jadi ayat “likullin ja’alnaa minkum syira’atan wa minhaaja”[44] [untuk setiap umat di antara kalian (masing-masing) Kami berikan aturan dan jalan yang terang] tidak mungkin dijadikan dalil oleh kelompok agama lain untuk menolak agama Muhammad.
Dalam beberapa riwayat Ahlul Bayt Nabi disebukan tentang ‘celaan’ mereka terhadap ajaran dan para pengikut agama lain. Ini semua sebagai bukti bahwa para manusia suci dan mulia pun tidak meyakini kebenaran pluralisme agama. Jika tidak demikian, lantas mengapa mereka melakukan hal tersebut? Bukankah manusia suci nan mulia tidak mungkin melakukan ‘pelecehan’ terhadap ‘agama’ lain yang juga mampu membawa umatnya menuju kebahagiaan abadi?
E- Peristiwa Mubahalah
Dalam berbagai hadis disebutkan tentang sebab-sebab turunnya ayat mubahalah (QS 3:61). Peristiwa “mubahalah” adalah kisah “perang doa” (baca: saling laknat) antara kaum muslimin dan kaum Nasrani yang akhirnya dibatalkan oleh pihak tokoh Nasrani sendiri setelah mereka melihat wajah-wajah mulia dari kelompok Islam yang diwakili oleh Nabi dan Ahlul Bayt-nya. Jika keduanya (Islam dan Nasrani) benar dan masing-masing mampu menghantarkan kepada kebahagiaan sejati dan abadi, lantas buat apa mereka ber-mubahalah?
F- Surat-Surat Rasulullah Kepada Para Penguasa Non-Muslim
Salah satu sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah saww adalah pengiriman surat kepada para penguasa dan raja yang menganut agama lain guna mengajak dan menyeru mereka kepada Islam. Jika semua agama mampu menghantarkan kepada keselamatan sejati dan abadi, maka apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah sia-sia dan tidak berarti. Jika pluralisme adalah benar dan dilegalkan oleh Allah swt melalui Rasulullah saww yang agung, maka untuk apa Rasulullah bersusah-payah menyeru para penguasa Yahudi dan Nasrani untuk masuk Islam. Bukankah mereka juga akan bisa selamat dengan agamanya selama memiliki iman dan amal saleh sebagaimana yang diyakini oleh para pendukung pluralisme agama?
Pada kesempatan ini, penulis akan mengutip beberapa surat Rasulullah yang dilayangkan kepada para penguasa dan raja tersebut. Sedikit kutipan ini saja akan mampu menjawab akan persoalan pluralisme agama menurut pandangan Rasulullah. Surat-surat itu dikumpulkan dalam kitab yang berjudul “Makaatib ar-Rasul” (surat-surat Rasulullah) oleh Ayatullah Ahmadi Miyanaji.
(1) Dalam surat Rasulullah yang ditujukan untuk Zaid bin Jahur, penguasa Nasrani, beliau menyatakan, “Hendaknya agama yang dianut setiap manusia ditinggalkan kecuali Islam. Maka ketahuilah itu!”[45]
Surat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa Rasulullah Islam saww menolak tegas konsep pluralisme agama. Rasulullah memerintahkan kepada penganut keyakinan lain –lebih umum dari sebuah keyakinan beragama- untuk menanggalkan semua keyakinannya untuk menuju agama Islam Muhammadi.
(2) Surat Rasulullah kepada Najasyi, raja Nasrani dari Habasyah (Etiopia) berbunyi, “Aku menyerumu untuk menuju Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya dan menjaga akan ketaatan kepada-Nya dan hendaknya engkau mengikutiku dan mengimaniku. Demi Dzat Yang telah mendatangkanku ketahuilah bahwa aku adalah utusan Allah.”[46]
Dalam surat ini Rasulullah saww kembali menekankan untuk mengimani Allah swt dengan cara menaati segala perintah-Nya, termasuk taat kepada segala yang diturunkan-Nya kepada beliau. Dalam surat ini, terlihat konsep bahwa ketaatan kepada Nabi Muhammad adalah manifestasi dari ketaatan kepada Allah swt. Tentu hal ini merupakan bukti bahwa utusan Allah mempunyai otoritas untuk diikuti, khususnya Nabi Muhammad sebagai pembawa syariat terakhir dan diutus untuk “segenap manusia”.
(3) Dalam surat Rasulullah yang ditujukan kepada Markus, penguasa Nasrani suku Qibthi (Mesir) dan Heraclius, Raja Romawi, dinyatakan, “Aku menyeru kalian (untuk masuk) ke dalam agama Islam. Jika kalian tidak menerimanya, maka dosa yang dilakukan oleh segenap penduduk Qibth dan Romawi akan kalian tanggung.”[47]
Mengapa dalam surat itu dinyatakan bahwa jika orang-orang Nasrani itu tidak mau menerima Islam yang dibawa oleh Muhammad saww mereka akan berdosa? Bukankah ini membuktikan bahwa ajaran Nasrani yang dibawa oleh nabi Isa (as) telah menyimpang sehingga mereka yang tetap meyakininya (baca: beriman) berarti telah menyimpang dan berbuat dosa? Mungkinkah pendosa akan dapat sampai kepada kebahagiaan abadi dan sejati (sorga) padahal ia sudah diingatkan oleh manusia sempurna seperti Muhammad saww sehingga tiada alasan lagi baginya untuk tidak mengenal Islam?
(4) Dalam surat yang dilayangkan kepada penguasa Nasrani wilayah Yamamah, Rasulullah menyatakan, “Ketahuilah bahwa agamaku (Islam) cepat atau lambat akan nampak (memenuhi dunia).”[48]
Surat ini merupakan bukti dan penjelas dari ayat yang menjelaskan bahwa Allah swt akan memenangkan agama yang lurus atas setiap agama di muka bumi.[49] Dengan kata lain, janji Allah swt untuk memenangkan ajaran Islam Muhammadi atas segala agama –termasuk agama-agama samawi yang telah menyimpang—cepat atau lambat akan diwujudkan oleh Allah swt.
Kesimpulan dan Penutup
Wacana pluralisme agama bukanlah wacana baru. Namun demikian, para pendukung wacana tersebut selalu berusaha untuk membungkusnya dengan berbagai kemasan sehingga terkesan baru. Dalam banyak tulisan telah dibahas berbagai kritikan terhadap wacana pluralisme ini dengan menggunakan argumen-argumen rasional sehingga terbukti bahwa wacana ini tidak didukung oleh argumen yang rasional. Bisa disimpulkan, hanya argumen emosional saja yang bisa memberikan dukungan kepada pluralisme, padahal argumen emosional tidak bisa dijadikan sandaran ilmiah bagi sebuah wacana.
Untuk itu, para pendukung wacana pluralisme berusaha mencari argumen teks yang dapat dijadikan dukungan keilmiahan atas wacana mereka. Mereka berusaha menafsirkan teks-teks yang bersifat ambigu (memiliki beberapa penafsiran) untuk disesuaikan dengan wacana yang ingin mereka pertahankan. Mereka lupa bahwa ada beberapa teks lain yang secara jelas dan tegas menolak pluralisme. Sebagaimana telah penulis jelaskan di atas, banyak ayat Al Quran –yang merupakan dalil primer kaum muslimin—yang menolak konsep dan wacana tersebut, begitu juga hadis dan riwayat sejarah Rasulullah. Dalam karya ringkas ini kembali dibuktikan bahwa pluralisme agama dengan kemasan baru yang dilekatkan oleh para pendukungnya (yang beragama Islam) bahkan ditentang oleh teks-teks yang terdapat di sekitar mereka sendiri.
Kesimpulan dari tulisan di atas adalah sebagai berikut.
1. Pengutusan Muhammad saww sebagai nabi untuk semesta alam telah ditentukan oleh Allah swt, serta sebelum kedatangannya pun telah dijelaskan oleh para nabi-nabi terdahulu.
2. Muhammad saww membawa ajaran Ilahi yang membenarkan ajaran para nabi terdahulu.
3. Allah swt memerintahkan segenap umat manusia dari agama manapun untuk menanggalkan ajarannya yang lalu dan mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saww.
4. Penekanan Allah swt terhadap manusia agar mengikuti ajaran Muhammad saww tidak lain karena penerimaan ajaran Muhammad adalah kunci untuk mendapat keselamatan abadi dan sejati.
5. Sikap penolakan terhadap seruan untuk mengikuti ajaran Muhammad setelah datangnya bukti dan argumen yang jelas, dapat dikategorikan sebagai kekafiran yang nyata.
6. Kekafiran terhadap ajaran Muhammad tidak akan memberikan keselamatan apapun di akherat kelak.
7. Kemungkinan untuk mendapat keselamatan abadi bagi non muslim adalah bagi orang-orang yang memang benar-benar masuk dalam kategori pribadi yang tertindas (mustadh’afiin) di muka bumi.
Kami akhiri tulisan tentang pluralisme keselamatan agama ini dengan mengutip firman-firman Allah swt sbb:
“Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya Rasul-Rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.”[50] “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulullah-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.”[51] “…barangsiapa menentang Allah dan Rasulullah-Nya, maka sesungguhnya neraka jahannam baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan besar.”[52]
Catatan
Namun dalam tulisan ringkas ini ada satu hal yang perlu dicatat dan ditegaskan. Tentu tidak bisa disamakan antara orang yang mengingkari (kafir) Islam atas dasar kesadaran dengan orang yang mengingkari Islam atas dasar ketidaktahuan (belum mendapat argumen sempurna). Orang yang mengingkari Islam padahal ia telah memiliki kesadaran penuh dan telah mendapat argumen sempurna (mu’anid), dapat dipastikan mustahil untuk mendapat keselamatan abadi. Sementara, “orang yang tidak mengetahui” sudah pasti akan tetap mendapatkan kasih sayang Allah swt. Argumen yang membuktikan hal ini adalah ayat Al Quran yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di (suatu) negeri.’ Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat berhijrah ke (belahan) bumi tersebut?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”[53]
Ampunan Allah terhadap orang-orang non muslim yang benar-benar tidak berdaya dan tidak tahu –sebagaimana yang disinggung di atas- juga sesuai dengan kaidah akal “qubhul iqob bilaa bayan” (jeleknya perbuatan menyiksa tanpa didahului penjelasan). Karena hal itu merupakan kejelekan, maka harus dijauhkan dari Dzat Yang Maha Baik dan Adil. Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari dalam karyanya yang berjudul “Keadilan Ilahi” telah memberikan berbagai argumentasi yang logis tentang kemungkinan orang kafir yang tidak mengetahui (belum mendapat argumen sempurna) untuk mendapat ampunan dari Allah swt sehingga mereka pun akhirnya diberi anugerah untuk mendapat keselamatan abadi di akherat kelak. Pembahasan mengenai hal ini lebih lanjut bisa dipelajari dalam teologi (kalam) Syiah pada bab “keadilan Ilahi”, sebagai cabang dari pembahasan rasionalitas baik-buruk. Tanpa ada keyakinan tentang rasionalitas baik-buruk niscaya akan sulit mencerna dan menganalisa dengan baik keyakinan mengenai hal ini.[]
----------------------------------------------------------
Penulis: Ketua umum Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Republik Islam Iran periode 2006-2007, Sekjen Badan Kerjasama Perhimpunan Pelajar Indonesia (BKPPI) se-Timur Tengah dan Sekitarnya.
________________________________________
Catatan Kaki:
[1] Dalam riwayat ini, Rasul menggunakan kata “lan” dalam kalimatnya yang berbunyi “lan yahduukum”. Sedang dalam tatanan bahasa Arab, kata “lan” menunjukkan arti “untuk selama-lamanya” (ta’bid), tanpa batas waktu.
[2] Fathul Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari jil:13 hal:525. Hadis semacam ini juga dapat dilihat dalam beberapa kitab Ahlusunah yang lain seperti: Shahih Bukhari, jil: 3 hal: 281-282, Musnad Ahmad bin Hanbal jil: 3 hal: 387 hadis ke-14859, Kanzul Ummal karya Muttaqi al-Hindi al-Hanafi jil: 1 hal: 370 hadis ke- 1625, ad-Durul Mantsur karya as-Suyuthi jil: 6 hal: 470 dalam menafsirkan ayat 51 dari surat al-Ankabut. Tentu dari beberapa kitab yang ada terdapat perbedaan redaksi, namun menunjukkan makna yang sama. As-Suyuthi menukilkan hadis Rasul seperti ini; “Sesungguhnya aku hanya diutus sebagai pembuka dan penutup. Aku telah dianugerahi “segenap kalimat” (jawami’ al-kalim) dan segala pembukanya. Dan telah diringkaskannya untuk-ku sebuah ajaran (hadits) secara singkat (baca ringkas). Maka, jangan sampai kaum yang kebingungan (mutahawwiquun) akan menghancurkan kalian”. Hadis semacam ini pun dapat dijumpai dalam beberapa kitab Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah (Jakfari). Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari dalam memberikan komentar hadis ini menyatakan: “Hadis ini dengan jelas memplokamirkan dan meneriakkan bahwa Rasulullah telah bersabda bahwa dengan datangnya al-Quran sebagai syariat terakhir maka Taurat dan Injil telah terhapus (mansukh)” (Lihat kitab karya beliau: Khadamaat-e mutaqobel Islam wa Iran).
[3] Ilmu Ushul Fikih adalah ilmu logika dalam mencari dasar hukum syariat (berijtihad).
[4] Larangan adalah lawan dari perintahah. Dalam ilmu ushul fikih, sebagaimana asal pelarangan adalah menghasilkan hukum pengharaman, maka perintah pun menghasilkan hukum wajib. Walaupun sebagian obyek hukum yang dikarenakan beberapa hal maka pelarangan akan menghasilkan hukum makruh dan perintah menghasilkan hukum sunah (mustahab).
[5] QS Aali Imran: 93
[6] QS al-Maidah: 15
[7] QS al-A’raf: 159
[8] QS as-Saba’: 28
[9] QS al-Furqon: 1
[10] QS at-Takwir: 27. Atau lihat QS Yusuf: 104
[11] QS as-Shaf: 6
[12] QS Aali Imran: 81-82
[13] Thaba’thaba’i, Allamah Muhammad Husein, al-Mizan fi Tafsir al-Quran, jil:3 hal:384
[14] QS al-Maidah: 19
[15] QS al-Maidah: 15
[16] QS al-Baqarah: 40-41
[17] QS Aali Imran: 70-71
[18] QS an-Nisa’: 168
[19] QS al-Baqarah: 177
[20] QS al-Maidah: 73
[21] QS al-Maidah: 17
[22] QS an-Nisa’: 171
[23] QS al-Maidah: 18
[24] QS at-Taubah: 30
[25] QS al-Maidah: 64
[26] QS al-Maidah: 51
[27] QS al-Baqarah: 119-120
[28] QS Aali Imran: 85
[29] QS al-An’am: 125
[30] Muthahhari, Ayatullah Syahid Murtadha, ‘Adl-e Ilahi, intisyarat-e Shadra, Iran, cet ke-14, hal; 251
[31] QS al-Baqarah: 89-91
[32] QS al-A’raf: 156-158
[33] QS al-Baqarah: 135
[34] QS al-Baqarah: 140
[35] QS Aali Imran: 19-20
[36] Sebagaimana yang dapat disinyalir dalam ayat: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al-Quran yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada al-Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang al-Quran itu adalah (kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman” (QS al-Baqarah: 91). Dan lihat ayat-ayat lain yang menyatakan bahwa kaum Yahudi telah melakukan pembunuhan terhadap beberapa nabi misal; QS al-Baqarah: 61 , Aali Imran: 21 / 112 / 181, an-Nisa’: 155.
[37] QS as-Shaf: 9
[38] “Dan tiada yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS an-Najm: 3-4)
[39] at-Thabaqoot al-Kubra jil:1 hal:191
[40] Biharul Anwar jil:4 hal: 104
[41] Lihat QS al-maidah: 48
[42] al-Kamil fi at-Tarikh karya Ibnu Katsir jil: 2 hal: 61
[43] Tafsir al-Kabir karya Fakhrur Razi jil: 2 hal: 507
[44] QS al-Maidah: 48
[45] Makatiib ar-Rasul jil: 1 hal: 165
[46] Ibid, jil:1 hal:121
[47] Ibid, jil:1 hal:97 & 105
[48] Ibid, jil:1 hal:136
[49] Lihat kembali ayat-ayat dalam; QS at-Taubah: 33, as-Shaf: 9 dan atau al-Fath: 28 yang berbunyi: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenagkan-Nya atas semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi”.
[50] QS Aali Imran: 184
[51] QS an-Nisa’: 14
[52] QS at-Taubah: 63
[53] QS an-Nisa’: 97-99
Langganan:
Postingan (Atom)
