Selasa, 05 Januari 2010

Sekilas Tentang Empat Periode Kehidupan Imam Khomeini r.a



Khomeini adalah nama yang selalu dirndukan oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. ‎Tatapannya yang tajam menggetarkan Barat dan Timur. Pemimpin bersahaja ini telah ‎mengubah alur sejarah, bukan hanya Iran, negerinya, tetapi juga seluruh dunia.‎

Imam Khomeini (r.a) lahir pada tanggal 20 Jumada Thaniyah tahun 1321 hijriyah. ‎Kelahirannya bertepatan dengan hari lahir Sy. Fatimah Zahra putri Nabi Muhammad SAW. ‎Imam Khomeini yang terlahir dengan nama Ruhullah Mostafavi (Musavi) berasal dari ‎keluarga yang dikenal dengan ketinggian ilmu, taqwa dan perjuangan melawan kezaliman. ‎Ayah beliau, Ayatollah Sayid Mostafa Musavi gugur Shahid di tangan berandalan lokal karena ‎pembelaannya terhadap orang-orang yang tertindas. Ketika itu, Ruhullah masih berusia lima ‎bulan. ‎

Sepeninggal ayahnya, Imam Khomeini hidup di bawah bimbingan ibunya (Banu Hajar) yang ‎penyayang, bibinya (Sahebeh Khanoum) yang dikenal bertaqwa dan pemberani, serta ‎pengasuhnya yang saleh (Nane Khavar). Sejak kanak-kanak beliau sudah mempelajari ‎kemahiran berkuda dan menembak.‎

Periode Pertama
Masa kanak-kanak dan remaja dilewati oleh Sayid Ruhullah ketika Iran sedang mengalami ‎gejolak besar politik dan sosial. Sejak masa itu, Ruhullah telah mengenal dari dekat kesulitan ‎yang dialami oleh masyarakat umum. Keterlibatan keluarganya dalam membela hak-hak ‎kaum tertindas membuatnya kelak tumbuh menjadi pejuang hakiki. Ketika masih kanak-kanak ‎ia sering melukiskan perasaannya yang memprihatinkan kondisi masyarakat sekitar dalam ‎corat-coret buku gambarnya. Di masa remaja, perasaan itu semakin dalam ia rasakan. Dalam ‎salah satu bukunya yang ia tulis di masa remaja, Ruhullah yang kala itu masih berusia antara ‎‎9 dan 10 tahun menulis demikian; ‎

Di manakah kecemburuan Islam?‎
Di manakah gerakan kebangsaan?
‎

Kepada bangsa Iran Sayid Ruhullah menulis;‎
Wahai bangsa Iran, Iran terancam petaka
Negeri Daryush dijarah bangsa Nicholas (1‎

Tulisan itu bisa disebut sebagai statemen politik pertama yang dibuat oleh Sayid Ruhullah ‎remaja yang kelak akan memimpin bangsa Iran, sekaligus menunjukkan perhatiannya yang ‎besar kepada nasib negeri dan bangsanya. ‎

Sayid Ruhullah sangat tertarik kepada tokoh-tokoh pejuang. Ketika Mirza Kucik Khan Jangali ‎bangkit berjuang dengan mengangkat senjata, Ruhullah ikut membantu menyampaikan ‎pidato dan membaca syair tentang Mirza Jangali. Ia juga terlibat mengumpulkan dana untuk ‎membantu gerakan Mirza. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan ‎kelompok Jangali dan bertemu Mirza. (2‎

Pendidikan
Sayid Ruhullah Musavi (Mustafavi) memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ia berhasil ‎menguasai berbagai cabang ilmu. Selain ilmu fiqih, ushul dan filsafat, ia juga menguasai irfan. ‎Kedalaman ilmunya diakui oleh para gurunya sendiri. Sayid Ruhullah belajar dari sejumlah ‎guru di kota Khomein, Arak dan Qom. Hanya dalam waktu enam tahun ia berhasil ‎mempelajari banyak cabang ilmu sebelum akhirnya mengukuhkan diri sebagai salah seorang ‎ulama dan pengajar di pusat ilmu Islam di kota Qom. (3‎

Pidato Resmi Pertama
Ketika masih menjadi pelajar agama di kota Arak, Sayid Ruhullah Mosavi yang kala itu ‎berusia 19 tahun untuk pertama kalinya mendapat kesempatan secara resmi berpidato di ‎depan umum. Pidato itu dalam acara memperingati tokoh penting Revolusi Konstitusi ‎Mojtahed Tabatabai. Pidato yang lebih mirip dengan statemen politik itu disampaikan oleh ‎seorang pelajar agama yang masih muda untuk mengenang jasa tokoh perjuangan Revolusi ‎Konstitusi. (4‎

Imam Khomeini mengenai hari itu menceritakan demikian;‎
‎"...Aku diminta untuk menyampaikan khotbah di atas mimbar. Tawaran itu aku terima dengan ‎baik. Malam itu aku tak banyak tidur, bukan karena takut berbicara di depan umum tetapi ‎karena meyakini bahwa aku bakal berdiri di mimbar milik Rasulullah SAW. Karena itu aku ‎memohon kepada Allah untuk memberikan pertolonganNya kepadaku, agar di antara semua ‎yang ku ucapkan sejak awal hingga akhir, jangan ada kata-kata yang tidak ku yakini. ‎Permohonan ini adalah ikrar antara aku dan Allah. Khotbahku yang pertama kali berlangsung ‎panjang, tapi tidak ada orang yang merasa lelah...Aku mendengar suara sebagian orang ‎yang memuji pidatoku. Terlintas di hatiku perasaan senang mendengar pujian itu. Karena itu ‎undangan kedua dan ketiga untuk berpidato aku tolak dan selama empat tahun setelah itu ‎aku tidak pernah naik ke mimbar dan berkhotbah." (5‎

Periode Kedua
Periode ini dimulai ketika Sayid Ruhulah Mosavi hijrah ke kota suci Qom. Saat itu, Reza Khan ‎Pahlevi, raja pertama dinasti Pahlevi melanjutkan kebijakannya yang anti agama. Di masa ini, ‎Sayid Ruhullah yang sedang sibuk dengan aktivitas belajar, mengajar dan menulis buku, ‎mulai berkenalan dengan para ulama pejuang seperti Ayatollah Haj Agha Nurullah Esfahani, ‎Ayatollah Modarres dan sejumlah nama besar lainnya. Di masa kekuasaan Reza Khan ini ‎tercipta kondisi yang sangat mencekik. Karena itu para ulama berjuang untuk ‎mempertahankan dan melindungi hauzah ilmiah yang merupakan pusat pendidikan agama ‎Islam di Qom. Bisa dikatakan bahwa perjuangan mempertahankan hauzah di zaman itu tidak ‎kalah pentingnya dari membentuk pemerintahan Islam yang kelak terjadi tahun 1979. (6‎

Periode Ketiga
Periode ini dimulai ketika Imam Khomeini (ra) menginjak usia 40 tahun. Saat itu terjadi dua ‎peristiwa besar, pertama berkecamuknya Perang Dunia II dan jatuhnya Iran ke tangan ‎pendudukan asing, dan kedua larinya Reza Khan ke luar negeri dan anaknya yang bernama ‎Mohammad Reza naik ke singgasana kekuasaan. ‎

Melihat kondisi yang ada, Sayid Ruhullah Mosavi merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk ‎melakukan gerakan kebangkitan demi memperbaiki kondisi negeri yang carut marut. Meski ‎telah melakukan banyak usaha, namun kebangkitan yang diinginkan tidak terjadi. Imam ‎Khomeini yang telah dikenal sebagai salah seorang ulama besar di Qom memiliki kecakapan ‎yang seharusnya untuk memimpin sebuah gerakan kebangkitan rakyat. Beliau sudah ‎merasakan 20 tahun kekuasaan Reza Khan dan memiliki wawasan politik yang luas. Pada ‎tanggal 11 Jumada Thani tahun 1363 hijriyah atau sekitar tahun 1944 masehi, Imam ‎Khomeini merilis sebuah statemen yang menyerukan rakyat bangkit dengan memanfaatkan ‎kondisi yang ada. "Hari ini bertiup angin ruhani yang sejuk dan hari ini adalah hari yang paling ‎baik untuk sebuah kebangkitan demi perbaikan. Jika kalian lewatkan kesempatan ini dan ‎tidak bangkit demi ridha Allah serta tidak mengambalikan syiar agama ke posisinya semula, ‎maka besok, orang-orang tak bermoral dan pengumbar Shahwat akan menguasai kalian. ‎Mereka akan mempermainkan kehormatan kalian demi kepentingannya." Demikian bunyi ‎statemen itu. (7‎

Periode Keempat
Periode keempat kehidupan Imam Khomeini berbarengan dengan dua peristiwa duka. ‎Pertama adalah wafatnya Ayatollah al-Udzma Boroujerdi pada tanggal 29 Maret 1961. ‎Dengan wafatnya marji besar Syiah ini, dunia Islam kehilangan salah satu tokoh penting yang ‎membentengi Islam, dan di sisi lain musuh-musuh Islam dan Iran bersuka cita atas kepergian ‎Ayatollah Boroujerdi (ra). Peristiwa kedua adalah wafatnya Ayatollah Kashani, pejuang besar ‎dalam melawan kekuasaan imperialisme Inggris. Nama Ayatollah Kashani cukup membuat ‎hati penguasa Britania Raya dan musuh-musuh Islam bergetar. Wafatnya dua ulama besar ‎ini terjadi seiring dengan dimulainya periode masuknya pengaruh Amerika Serikat (AS) di Iran. ‎

AS gencar menekan rezim Shah Pahlevi untuk memberlakukan perubahan di semua bidang ‎sesuai kemauan Washington. Imam Khomeini menangkap sinyal bahaya besar di balik ‎perombakan gaya AS ini. Langkah-langkah rezim Pahlevi hanya akan membuka jalan bagi ‎AS dan Israel untuk menguasai Iran. Imam Khomeini gencar mengingatkan semua pihak ‎untuk menyadari bahaya dari langkah-langkah Shah. Rezim melakukan pembalasan atas ‎gerakan Imam dengan sebuah tindakan yang brutal. Tentara dan dinas keamanan (SAVAK) ‎tanggal 22 Maret tahun 1963, bertepatan dengan peringatan Shahadah Imam Jafar Shadiq ‎‎(as), dikerahkan untuk menyerang madrasah Feiziyah di Qom, tempat Imam Khomeini ‎mengajar. Banyak pelajar agama yang gugur Shahid dalam peristiwa itu.‎

Peristiwa Feiziyah semakin mendorong Imam Khomeini untuk melanjutkan gerakannya. ‎Memperingati 40 hari gugurnya para pelajar Feiziyah, Imam Khomeini menyampaikan ‎pidatonya yang berapi-api. Beliau mengumumkan tidak akan diam sebelum menundukkan ‎rezim Shah. Malam harinya, Imam Khomeini ditangkap dan dijebloskan ke penjara Qasr. Pagi ‎hari, berita penangkapan Imam Khomeini didengar oleh masyarakat luas di Tehran dan kota-‎kota lainnya. ‎

Massa dalam jumlah besar berbondong-bondong memenuhi jalanan dan bergerak menuju ‎istana Shah. Mereka berjalan dengan meneriakkan yel-yel "Khomeini atau Mati". Dengan ‎slogan ini mereka menuntut rezim untuk membebaskan ulama pejuang ini. Rezim pun ‎melakukan tindakan brutal dengan membantai para demonstran. Korban pun berjatuhan.‎
Kepemimpinan Imam Khomeini dalam gerakan melawan Shah nampaknya reda ketika rezim ‎mengasingkan beliau ke Turki lalu Irak. Namun aktivitas perjuangan Imam Khomeini tidak ‎berhenti meski di pengasingan. Tahun 1978, putra tertua Imam Khomeini bernama Ayatollah ‎Sayid Mostafa Khomeini dalam sebuah peristiwa mencurigakan didapatkan terbujur kaku di ‎kamarnya. Banyak bukti yang mengarah kepada keterlibatan SAVAK dalam pembunuhan ‎Ayatollah Mustafa yang selalu menyertai ayahnya dalam setiap langkah. ‎

Syahidnya Ayatollah Mostafa Khomeini kembali menyulut gelora perjuangan yang selama ini ‎dilakukan di bawah tanah. Gelora itu kian membara setelah koran Ettelaat memuat tulisan ‎artikel yang menghujat Imam Khomeini dan kalangan ulama secara umum. Masyarakat ‎Muslim menggelar aksi demo dan memprotes kekurangajaran koran Ettelaat. Aksi demo itu ‎berujung pada peristiwa pembantaian yang dilakukan tentara terhadap warga kota Qom. ‎Gerakan kebangkitan rakyat silih berganti terjadi di beberapa kota penting, Qom, Tabriz, ‎Isfahan, Yazd, Shiraz dan kota-kota lainnya. Puncak politik tangan besi rezim Shah terjadi ‎pada peristiwa yang dikenal dengan nama peristiwa 17 Shahrivar 1357. ‎

Shah Mohammad Reza Pahlevi yang menyaksikan kondisi Iran sudah tidak memungkinkan ‎baginya untuk menetap lebih lama, segera angkat kaki meninggalkan Iran dan ‎singgasananya. Dengan larinya Shah, Imam Khomeini yang saat itu berada di Paris ‎memutuskan untuk kembali ke Iran. Jutaan warga menyambut kedatangan Imam Khomeini. ‎Tiba di Tehran, Imam langsung menuju Behesht-e Zahra, taman makam para pahlawan ‎perjuangan melawan rezim Shah. Di sana beliau menyampaikan pidatonya yang bersejarah. ‎Imam menyatakan bahwa kekuasaan yang ada saat ini tidak legal. ‎

Tiba tanggal 1 Februari 1979, Imam Khomeini segera memimpin langsung perjuangan rakyat ‎Iran menumbangkan kekuasaan despotik Shah Pahlevi yang sudah di ujung tanduk. Tanggal ‎‎10 Februari, PM Shapour Bakhtiar mengeluarkan undang-undang darurat militer dan jam ‎malam. Imam dalam sebuah amaran singkatnya menyebut jam malam tidak legal. Selama 24 ‎jam terjadi bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara yang masih setia kepada rezim ‎Shah. ‎

Pagi hari tanggal 11 Februari 1979, dengan kaburnya Bakhtiar ke luar negeri, kekuasaan ‎Shah Pahlevi berakhir. Sebagai gantinya berdiri pemerintahan baru dengan sistem Republik ‎Islam. ‎

Sejak kemenangan revolusi Islam hingga 2 Juni 1989 (hari wafat Imam Khomeini) terjadi ‎banyak peristiwa penting di Iran yang menunjukkan betapa Amerika Serikat (AS) memusuhi ‎pemerintahan Islam ini. Kelompok pemberontak sayap kanan atau kiri di Iran yang berusaha ‎menumbangkan pemerintahan Islam didukung secara penuh, baik secara politik maupun ‎financial, oleh Barat dan Timur. Adi daya dunia pun mendorong Saddam Hossein, dikatator ‎Irak untuk menyerang Iran. Perang pun meletus dan berlangsung selama delapan tahun.‎
Berbagai makar dan tipu daya dalam skala besar dilakukan oleh adi daya Barat dan Timur ‎untuk menggulung pemerintahan Islam di Iran. Namun berkat pertolongan Allah dan di bawah ‎kepemimpinan Imam Khomeini, semua tipu daya itu dapat digagalkan dan pemerintahan ‎Islam di Iran tetap berdiri dengan tegaknya. ‎

Tanggal 2 Juni 1989, Imam Khomeini memenuhi panggilan Tuhannya. Rakyat Iran tenggelam ‎dalam duka. Rasa duka juga dirasakan oleh jutaan pencinta Imam Khomeini di seluruh dunia. ‎Imam Khomeini, sang Pemimpin Besar Revolusi Islam telah tiada, namun rakyat Iran tetap ‎teguh memperjuangkan cita-citanya. Salam bagi Imam Khomeini (ra). (taghrib) ‎

Catatan kaki:‎
‎1) Kautsar (Kumpulan Pidato Imam Khomeini r.a), diterbitkan oleh Yayasan Penyusunan ‎dan Penerbitan karya Imam Khomeini, cetakan pertama, jilid 1 hal: 615 .‎
‎2) Sayid Ali Qaderi, Ruhullah Khomeini (Biografi Imam Khomeini r.a), Yayasan ‎Penyusunan dan Penerbitan karya Imam Khomeini, cetakan ketiga, jilid 1 hal: 232 - ‎‎236.‎
‎3) Amir Reza Sotoudeh, Pa be Paye Aftab (Kumpulan kisah hidup Imam Khomeini r.a), ‎jilid 1 halaman: 30.‎
‎4) Sayid Ali Qaderi, Ruhullah Khomeini (Biografi Imam Khomeini r.a), Yayasan ‎Penyusunan dan Penerbitan karya Imam Khomeini, cetakan ketiga, jilid 1 hal: 260, ‎juga Sar Gozashtehaye Vijeh jilid 6 halaman: 11.‎
‎5) Sayid Ali Qaderi, Ruhullah Khomeini (Biografi Imam Khomeini r.a), Yayasan ‎Penyusunan dan Penerbitan karya Imam Khomeini, cetakan ketiga, jilid 1 hal: 260‎
‎6) Buletin Khabar Nameh yang diterbitkan untiuk seminar Haj Agha Nurullah Esfahani ‎nomor 1 halaman 16 - 17 dan nomor 2 halaman 12 - 13, mengutip pernyataan ‎Ayatollah Pasandideh dan Ayatollah Mazaheri.‎
‎7) Sahifeye Nour, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan karya Imam Khomeini, cetakan ‎ketiga, jilid 1 hal: 4 - 6.‎

Jumat, 01 Januari 2010

Dalam pembahasan seputar Asyura, ada tiga topik utama:

Pertama, pembahasan tentang sebab-sebab dan motif-motif dari kebangkitan Imam Husain as; kenapa Imam Husain bangkit melawan? Yakni, analisis keagamaan, ilmiah dan politis terhadap kebangkitan ini. Dalam hal ini, saya sebelumnya telah menyampaikan uraian dan pandangan saya secara terperinci. Para ulama juga telah mengulas hal-hal ini dengan cermat. Sekarang ini kita tidak akan masuk ke dalam topik ini.

Topik kedua, pembahasan tentang pelajaran-pelajaran Asyura. Ini sebuah topik pembahasan yang hidup, abadi, dan berkesinambungan; tidak khusus pada masa tertentu. Terapkanlah pelajaran Asyura; pelajaran pengorbanan, keberanian, simpati, dan pelajaran kebangkitan demi Allah serta pelajaran cinta. Salah satu dari pelajaran Asyura ialah revolusi besar dan agung ini dimana kalian; bangsa Iran berada di barisan yang mengikuti gerak [Imam] Husain di zaman ini dan keturunan dari Abu Abdillah [Imam] Husain as. ini. [Revolusi] ini sendiri sudah cukup menjadi bagian dari Asyura. Terkait hal ini, saya juga tidak berniat untuk membahasnya sekarang.

Topik ketiga berkaitan dengan pelajaran-pelajaran Asyura yang beberapa tahun yang lalu juga telah saya kemukakan, bahwa Asyura memiliki pelajaran-pelajaran di samping pesan-pesannya. Pembahasan mengenai pelajaran-pelajaran Asyura terkait secara khusus dengan masa dimana Islam berkuasa. Yaitu setidak-tidaknya kita katakan bahwa duduk pembahasan ini khusus terkait dengan masa yang demikian ini; yakni masa kita dan negara kita dimana kita akan memetik pelajaran. Dulu saya pernah mengemukakan masalah ini, bahwa mengapa masyarakat Islam dengan Rasulullah Saw. yang Mulia sebagai porosnya; dengan kecintaan besar mereka kepada beliau; dengan iman kuat mereka kepada beliau; yaitu masyarakat yang penuh dengan semangat dan gelora agama; dengan hukum-hukum yang nanti sedikit banyaknya akan saya bahas; yaitu masyarakat yang telah matang ini; yaitu umat Islam itu sendiri; bahkan sebagian dari mereka adalah orang-orang yang mengalami masa-masa yang dekat dengan masa masa hidup Rasulullah Saw., ternyata setelah lima puluh tahun mereka sampai berbuat untuk bersatu dan membantai anak Rasulullah Saw, itupun dilakukan dengan cara yang sangat kejam?! Adakah kesesatan, keterbelakangan dan langkah balik ke belakang yang lebih parah dari ini?!

Atas dasar inilah Zainab Kubra as (putri Imam Ali as) di pasar kota Kufah telah menyampaikan pidato yang luar biasa itu, "Wahai warga Kufah! Wahai warga penipu dan pengkhianat! Mengapa kalian mesti menangis?!" Ketika warga Kufah menyaksikan kepala suci Imam Husain ditancapkan di atas tombak, melihat anak perempuan Imam Ali as menjadi tawanan dan mereka menyaksikan dari dekat dan merasakan langsung tragedi itu, mereka tersentak dan menangis. Zainab mengatakan, "Mengapa kalian mesti menangis?! Semoga tangisan kalian ini tak akan pernah habis." Lalu beliau mengatakan lagi, "Kalian ini sama dengan perempuan yang mencerai berai tali pintal setelah diikat erat karena kalian telah mencampakkan sumpah setia!" Inilah yang disebut balik ke belakang itu. Di sinilah pelajaran bisa dipetik. Setiap masyarakat Islam akan terancam dengan bahaya ini.

Imam Khomeini yang besar dan pemimpin tercinta kita punya kebanggaan yang besar, yaitu sebuah umat yang patuh pada ucapan-ucapan Rasulullah SAW. Apakah kepribadian orang-orang selain nabi dan selain manusia maksum bisa dibandingkan dengan kepribadian manusia besar ini? Beliau telah menciptakan masyarakat itu, dan mereka sendirilah yang kemudian mengikutinya. Apakah setiap masyarakat Islam punya pengalaman ini? Kalaulah kita petik pelajaran, tentu saja tidak demikian. Akan tetapi, jika kita tidak mengambil pelajaran, ya demikianlah. Di sinilah pelajaran-pelajaran Asyura.

Kita sebagai masyarakat masa ini, Alhamdulillah dengan kemurahan Allah, telah mendapatkan taufik dimana kita tempuh kembali jalan itu, kita hidupkan kembali Islam di dunia, dan kita kibarkan kembali panji Islam dan Al-Quran. Di dunia ini, kebanggaan itu telah menjadi milik kalian. Bangsa ini sampai sekarang juga - yang usianya telah lewat kira-kira dua puluh tahun sejak revolusinya - berdiri kuat dan kokoh di atas jalan ini dan bergerak menempuhnya. Akan tetapi, jika kita tidak teliti; jika kita tidak waspada; jika kita tidak menjaga diri kita tetap berada di jalan ini sebagaimana mestinya, maka bisa jadi nasib buruk itu akan menimpa kita. Di sinilah pelajaran Asyura dipetik.

Kini, saya ingin berbicara sedikit tentang sebuah masalah yang beberapa tahun yang lalu pernah saya memukakan dan, Alhamdulillah, saya telah melihat banyak ulama yang membahasnya, menelitinya, menceramahkannya dan menuliskannya secara panjang lebar. Tentu saja, pembahasan lengkap tentang masalah ini tidak bisa dibahas dalam pidato shalat Jum'at, karena begitu panjangnya. Insya-Allah, jika kita punya umur dan mendapatkan taufik, saya akan membahas masalah ini secara terperinci dengan sekian aspeknya dalam sebuah pertemuan selain forum shalat Jum'at. Pada hari ini, saya ingin memeriksa sekilas saja tentang masalah ini, dan jika Allah memberi taufik, saya akan menerangkan pembahasan yang sepanjang satu buku itu dalam bentuk pidato dan menyuguhkan kepada kalian.

Pertama, kita harus memahami peristiwa ini betapa besarnya lalu kita memeriksa sebab-sebabnya. Jangan sekali-kali orang mengatakan bahwa peristiwa Asyura hanyalah pembantaian dengan beberapa orang yang mati terbunuh. Sebagaimana kita semua membaca doa ini dalam ziarah Asyura, "Sungguh besar bencana ini, sungguh besar dan agung musibah ini!" Bencana ini adalah sebuah peristiwa yang sangat besar. Peristiwa ini luar biasa sekali. Tragedi ini sangat mengguncangkan dan tak ada bandingnya.

Untuk sedikit menerangkan betapa besarnya peristiwa ini, saya akan berbicara tentang tiga periode pendek dari sekian periode kehidupan Abu Abdillah Imam Husain as secara global. Coba kalian amati pribadi ini yang orang mengenalnya selama tiga periode ini; apakah ia bisa memprediksikan bahwa keadaan beliau sebegitu rupa sehingga pada hari Asyura, ada sekelompok orang yang mengaku dari umat datuk beliau mengepungnya, dan dengan begitu mengenaskan mereka membantai beliau, bersama seluruh kawan dan sahabat serta keluarganya lalu menyandera wanita-wanita mereka?

Tiga periode ini; yang pertama adalah periode kehidupan Rasulullah SAW.; yang kedua, periode masa muda [Imam] Husain bin Ali as., yakni periode dua puluh lima tahun sampai pemerintahan Amirul Mukminin [Ali bin Abi Thalib as.]; yang ketiga, periode kekosongan, yaitu dua puluh tahun setelah kesyahidan Amirul Mukminin sampai peristiwa Karbala.

Pada peeriode kehidupan Rasulullah SAW., Imam Husain adalah anak kecil yang bercahaya dan buah hati Rasulullah SAW. Rasulullah memiliki seorang anak perempuan yang bernama Fathimah, dan semua orang pada masa itu tahu bahwa Rasulullah bersabda,
انّ اللَّه ليغضب لغضب فاطمة
"Sesungguhnya Allah pasti murka demi kemurkaan Fathimah."

Jika ada seseorang yang membuat Fathimah marah, maka dia sesungguhnya telah membuat Allah marah kepadanya.
و يرضى لرضاها
"Dan Allah rela karena kerelaan Fathimah",

Jika ada orang yang membuat Fathimah senang, maka dia juga telah membuat Allah senang. Coba kalian perhatikan; bagaimana Rasulullah SAW dengan nada itu berbicara tentang anak perempuan yang sangat mulia ini di hadapan masyarakat dan di hadapan khalayak. Ini jelas bukan masalah yang biasa.

Dalam masyarakat Islam, Rasulullah SAW. telah menyerahkan anak perempuan ini kepada seseorang yang dari segi prestasi berada di tingkat teratas; yaitu Ali bin Abi Thalib as. Dia seorang pemuda pemberani, terhormat, paling mukmin, orang yang paling unggul dari segalanya, paling pemberani dari semuanya, dan berada di segenap medan perang. Dialah orang yang dengan pedangnya telah menegakkan Islam; di manapun semua orang tidak bisa berbuat apa-apa, anak muda ini maju ke depan, membuka kebuntuan dan memecahkan kesulitan. Menantu tercinta dan mulia ini - yang kecintaan kepadanya bukan lantaran hubungan kekeluargaan, akan tetapi karena kebesaran pribadinya - adalah suami dari anak tercinta Rasulullah SAW. Dan lahirlah seorang anak dari mereka. Dia adalah Husain bin Ali as.

Tentu saja, semua pembahasan tadi juga terkait dengan Imam Hasan as, akan tetapi sekarang ini pembahasan saya terfokus pada pribadi Imam Husain as. sebagai yang orang tercinta dari orang-orang yang dicintai Rasulullah Saw.; yaitu sosok figur yang oleh pemimpin agung dunia Islam, pemimpin masyarakat Muslim dan kinasih hati semua orang, sering dipeluk dan dibawa ke masjid. Semua orang tahu betapa anak kecil ini begitu dicintai oleh sosok manusia yang dicintai oleh semua orang. Pernah, ketika Nabi sedang berpidato di atas mimbar, anak kecil ini tersandung hingga jatuh. Melihat itu Rasulullah SAW langsung turun dari mimbar lalu mengendongnya dan menenangkannya. Perhatikanlah bagaimana masalah ini.

Tentang Imam Hasan dan Imam Husain yang berusia enam atau tujuh tahun, Rasulullah SAW bersabda, "Mereka berdua adalah penghulu kaum pemuda surga." Mereka yang masih kanak-kanak, bukanlah anak muda, akan tetapi Rasulullah SAW mengatakan bahwa mereka ini penghulu kaum pemuda surga. Yakni, pada periode enam atau tujuh tahun, ia sudah setingkat anak muda; dia memahami, mengerti, berbuat, bertindak, beradab dan seluruh wujudnya diliputi kemuliaan. Jika pada masa itu orang mengatakan bahwa anak ini akan dibunuh oleh umat Rasulullah SAW sendiri tanpa dosa dan kesalahan, jelas orang-orang tidak akan percaya akan hal ini, sebagaimana Rasulullah SAW. telah mengatakan dan menangis hingga semua orang terheran; apakah itu bisa terjadi?!

Periode kedua adalah periode dua puluh lima tahun setelah wafat Rasulullah SAW. hingga pemerintahan Amirul Mukminin [Ali bin Abi Thalib as.]. Husain tampil muda, mulia, alim dan pemberani. Ia ikut serta dalam berbagai peperangan, terlibat dalam kerja-kerja besar, semua orang mengenalnya sebagai sosok agung. Ketika para penyemat nama besar hadir, semua mata tertuju kepadanya. Dalam setiap keutamaan, di tengah kaum muslimin Mekkah dan Madinah, di setiap tempat dimana Islam menggema, ia bagaikan matahari bersinar cemerlang. Semua orang hormat kepadanya. Para khalifah masa-masa itu hormat kepadanya dan kepada saudaranya; mereka memberikan penghormatan dan pengagungan kepadanya; mereka menyebut namanya dengan begitu besarnya. Dialah figur teladan pemuda di masa itu dan terhormat bagi semua orang. Jika pada masa itu ada seseorang yang mengatakan bahwa anak muda ini akan dibunuh oleh orang-orang itu juga, maka tidak ada satu orangpun yang akan percaya.

Periode ketiga adalah periode setelah kesyahidan Amirul Mukminin [Ali bin Abi Thalib as.]. Yakni, periode keterasingan Ahlul Bait. Imam Hasan dan Imam Husain as. masih berada di Madinah. Dua puluh tahun setelah itu, Imam Husain hidup sebagai imam spiritual bagi segenap kaum Muslimin, mufti besar seluruh umat Islam, dihormati oleh semua orang Muslim, tempat lalu lalang semua penuntut ilmu, tempat pegangan dan perantara semua orang yang ingin mengungkapkan kecintaan mereka kepada Ahlul Bait. Dia pribadi yang dicintai, agung, mulia, suci, kokoh dan alim. Kepada Mu'awiyah, ia menulis surat; surat yang siapa saja menulisnya untuk penguasa manapun, ganjarannya adalah kematian.

Namun, Mu'awiyah menerima surat itu dengan penuh penghormatan. Dia membacanya, menahan rasa dan tidak berkata apa-apa. Jika pada masa-masa itu saja oang mengatakan bahwa dalam waktu dekat, orang terhormat, mulia, agung dan suci ini - sebagai perwujudan Islam dan Al-Quran di hadapan pemandang - mungkin akan dibunuh oleh umat pengikut Al-Quran dan Islam ini, itupun dengan cara yang sangat kejam, maka ini tidak bisa dimengerti oleh siapa saja. Akan tetapi, peristiwa yang tak bisa dipercaya ini; peristiwa aneh dan mengherankan ini ternyata terjadi! Siapakah yang melakukannya? Mereka adalah orang-orang yang datang kepada beliau dan mengungkapkan salam dan kecintaan. Apa artinya ini? Artinya, masyarakat Islam selama lima puluh tahun telah kehilangan spiritualitas dan hakikat Islam. Lahiriyahnya Islam, tapi batinnya sudah rapuh. Di sinilah bahaya. Shalat didirikan, shalat jamaah didirikan, orang-orang juga bernama muslim dan ada sebagian orang yang juga berpihak kepada Ahlul Bait!

Tentu saja harus saya katakan kepada kalian bahwa di seluruh dunia Islam, semua orang menerima Ahlul Bait. Sekarang juga mereka demikian, dan tidak ada seorang pun yang ragu akan hal ini. Kecintaan kepada Ahlul Bait ada di seluruh dunia Islam. Sekarang pun juga masih demikian. Kemana pun kalian sekarang ini pergi, mereka cinta Ahlul Bait. Masjid yang dikaitkan dengan Imam Husain as, dan masjid lain di Kairo yang dikaitkan dengan Sayyidah Zainab; di sana kalian saksikan para peziarah dan penduduk yang berjubel. Orang-orang pergi berziarah ke makam itu; mereka menciuminya dan bertawassul.

Bahkan satu dua tahun sebelum ini, saya mendapatkan sebuah buku baru; bukan klasik, karena masalah ini sudah wajar disinggung dalam buku-buku klasik. Buku itu membahas seputar makna dari Ahlul Bait. Salah seorang penulis kontemporer dari Hijaz telah meneliti dan ia dalam buku ini membuktikan bahwa Ahlul Bait itu adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Bagi kita yang menganut faham Syi'ah, pendapat seperti itu adalah bagian dari darah daging kita, namun saudara muslim selain Syi'ah itu telah menuliskan yang demikian dan dia menyebarkannya. Jadi ada buku ini, dan saya juga memilikinya. Tentunya, buku ini dicetak dalam ribuan naskah dan telah disebarkan.

Oleh karena itu, Ahlul Bait sangat dihormati. Pada masa itu, mereka juga sangat dihormati. Akan tetapi, pada saat yang sama, ketika masyarakat telah kosong dan rapuh, terjadilah peristiwa ini. Lalu, di mana letak pelajaran [dapat dipetik]? Letak pelajaran itu ialah apa yang harus kita lakukan sehingga masyarakat tidak jadi demikian itu. Kita harus memahami apa yang tela terjadi di sana sehingga masyarakat sampai kepada kondisi yang demikian itu. Ini jelas pembahasan yang panjang dan terperinci dan saya hanya akan mengupasnya secara singkat. Pertama-tama, sebagai mukadimah saya katakan bahwa Rasulullah Saw. telah menciptakan sebuah sistem [sosial] yang garis-garis dasarnya terdari dari beberapa hal. Dari garis-garis dasar ini, saya mendapatkan empat hal; pertama, pengetahuan yang jelas dan gamblang; pengetahuan tentang agama; pengetahuan tentang Tuhan; pengetahuan tentang Rasulullah Saw.; pengetahuan tentang alam. Pengetahuan inilah yang kemudian berakhir sampai pada ilmu dan semangat ilmu pengetahuan dan telah membawa masyarakat Islam di abad keempat Hijriah sampai ke puncak peradaban ilmu pengetahuan. Rasulullah Saw. tidak pernah membiarkan ada kekaburan. Dalam hal ini, ada ayat-ayat yang sangat menarik dari Al-Quran dan bukan saatnya di sini untuk saya bahas. Di manapun terjadi ketakjelasan, ada saja satu ayat yang diturunkan untuk menghilangkan ketakjelasan itu.

Garis dasar kedua ialah keadilan mutlak dan tindakan tanpa pandang bulu; keadilan dalam peradilan; keadilan dalam pemanfataan layanan publik dan bukan pribadi, yaitu fasilitas-fasilitas milik semua rakyat dan harus dibagikan kepada mereka secara adil; keadilan dalam menerapkan hukum-hukum Allah; keadilan dalam jabatan, pelimpahan dan penerimaan tugas. Tentu saja, keadilan tidaklah sama dengan penyama-rataan. Ini jangan disalahpahami. Kadangkala, penyamarataan itu kedzaliman. Keadilan yaitu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada pemiliknya. Itulah keadilan mutlak dan tanpa pandang bulu. Pada masa Rasulullah SAW, tidak ada seorang pun dalam masyarakat Islam yang keluar dari lingkaran keadilan.

[Garis dasar] ketiga ialah penghambaan diri secara sempurna dan semata-mata di hadapan Tuhan Pengatur
, yakni penghambaan diri kepada Allah dalam kerja dan aktifitas personal, penghambaan diri dalam shalat yang harus diniati dengan ‘mendekatkan diri kepada-Nya', hingga penghambaan diri kepada-Nya dalam membangun masyarakat, dalam sistem pemerintahan, sistem kehidupan masyarakat dan hubungan-hubungan sosial rakyat dibangun di atas dasar penghambaan diri kepada Allah. Dan ini sendiri membutuhkan penjelasan dan perincian yang panjang.

[Garis dasar] keempat ialah cinta dan peluapan emosi. Ini juga salah satu ciri dasar masyarakat Islam; cinta kepada Allah; cinta Allah kepada rakyat;
يحبّهم و يحبّونه

"Dia mencintai mereka dan mereka juga mencintai-Nya";
ان اللَّه يحبّ التّوابين و يحبّ المتطهّرين

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang pentaubat dan mencintai orang-orang yang bersuci";
قل ان كنتم تحبّون اللَّه فاتّبعونى يحببكم اللَّه
"Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, pasti Allah cinta kepada kalian".

Cinta dan kasih; cinta kepada istri; cinta kepada anak -dimana Anda disunnahkan mencium anak, disunnahkan menunjukkan kecintaan kepada anak, disunnahkan mencintai istri, disunnahkan mencintai saudara-saudara yang muslim - cinta kepada Rasulullah SAW; cinta kepada Ahlul Bait, الاّ المودّة فى القربى "[Aku tidak meminta upah apa pun atas seruan ini] kecuali kecintaan kepada keluargaku."

Rasulullah SAW telah menjelaskan garis-garis ini dan atas dasar garis-garis ini pula beliau membangun masyarakat. Demikian ini pula Rasulullah SAW telah mengatur pemerintahan sepanjang sepuluh tahun. Tentu saja, pembinaan masyarakat adalah kerja bertahap; bukan kerja spontan. Selama sepuluh tahun ini, Rasulullah SAW telah berusaha agar pondasi-pondasi ini kuat dan kokoh serta mengakar dalam. Akan tetapi, supaya beliau dapat mengubah masyarakat yang dulunya berlawanan keras dengan ciri-ciri dasar itu, maka sepuluh tahun ini adalah masa yang sangat singkat.

Masyarakat Jahiliyah berlawanan dengan empat garis dasar itu dalam segala perkara; orang-orang tidak punya pengetahuan apa-apa; mereka hidup dalam kebingungan dan kebodohan; mereka juga tidak punya penghambaan diri [kepada Allah]; yang ada adalah kekuasaan dzalim dan penindasan; juga tidak ada keadilan apa pun; semuanya yang ada adalah kedzaliman; semuanya adalah diskriminasi dimana Amirul Mukminin dalam Nahjul Balaghah - dalam rangka menjelaskan kedzaliman dan diskriminasi di era Jahiliyah - menyampaikan uraian-uraian yang mencengangkan, membongkar fakta hingga nampak bagaikan sebuah lukisan seni,
فى فتن داستهم باخفافها و وطئتهم باظلافها

"Dalam situasi-situasi buruk yang menginjak-injak mereka dengan telapak-telapak kakinya dan menerjang mereka dengan tapal-tapalnya."

Di sana tidak ada cinta. Mereka mengubur anak-anak perempuan mereka sendiri hidup-hidup. Mereka membunuh orang dari kabilah lain tanpa dosa apapun. "Kamu telah membunuh satu orang dari kami, maka kami juga harus membunuh satu orang dari kabilahmu!" Ada atau tidaknya pembunuh, ataukah dia tidak berdosa apa-apa, atau tidak tahu menahu, [yang jelas] itu adalah kedzaliman mutlak, kekejaman mutlak; ketiadaan total cinta dan naluri.

Masyarakat yang tumbuh dalam suasana seperti itu bisa saja dibina dalam sepuluh tahun; diubah menjadi manusia dan dimuslimkan, akan tetapi pembinaan ini tidak bisa menembus ke kedalaman jiwa mereka, apalagi untuk segitu dalamnya merembas hingga bisa pada gilirannya mempengaruhi orang lain.

Kemudian orang-orang menjadi muslim secara berduyun-duyun. Merekalah orang-orang yang tidak pernah melihat Rasulullah SAW; orang-orang yang tidak mengalami sepuluh tahun [pembinaan] itu. Masalah ‘wasiat' yang dipercayai oleh kaum Syi'ah bermula dari sini. Wasiat atau suksesi dan pelantikan Ilahi (kekhalifahan) berawal dari sini; yaitu dalam rangka melanjutkan pembinaan itu. Jelas sekali, wasiat ini bukan seperti wasiat-wasiat biasa di dunia dimana setiap orang meninggal dunia lalu ia mewasiatkan kepada anak lelakinya. Duduk masalahnya ialah setelah ketiadaan Rasulullah SAW, agenda-agenda [pembinaan] beliau harus terus berlanjut.

Sekarang ini, saya tidak ingin mask ke pembahasan-pembahasan teologis. Saya ingin membahas sejarah dan sedikit menganalisis sejarah dan kalian juga menganalisisnya lebih lanjut. Masalah ini juga berkaitan dengan semua orang; tidak khusus hanya dengan orang Syi'ah. Masalah ini berkaitan dengan kaum Syi'ah, Ahli Sunnah dan seluruh golongan Islam. Kalian semua harus peduli dengan masalah ini, karena hal ini penting untuk semua orang.

Adapun sejarah setelah wafat Rasulullah SAW. apa yang telah terjadi sehingga dalam lima puluh tahun ini, masyarakat Islam berbalik dari keadaan ini ke keadaan semula itu? Di sinilah duduk permasalahan, dan di sini pula dokumen-dokumen sejarah harus dirujuk. Tentunya, bangunan [sosial] yang telah didirikan oleh Rasulullah SAW bukanlah sebuah bangunan yang dalam waktu singkat mudah hancur. Oleh karena itu, di awal-awal pasca wafat Rasulullah SAW seperti yang kalian sendiri amati, semuanya - kecuali masalah wasiat itu - tidak berubah; masih ada keadilan yang cukup; masih ada dzikir yang bagus; masih ada penghambaan diri yang bagus. Kalau seseorang mengamati struktur umum masyarakat Islam dalam tahun-tahun pertama (pasca ketidaan Rasulullah SAW), dia akan menemukan bahwa secara lahiriyah, tidak ada sesuatu pun yang berbalik ke belakang. Tentu saja, ada hal-hal yang mungkin berubah, akan tetapi secara dzahir, itu masih menampilkan pondasi-pondasi dan basis-basis yang telah diletakkan oleh Rasulullah SAW. Namun, keadaan ini tidak bertahan. Semakin waktu berlalu, masyarakat Islam turun semakin melemah dan rapuh secara bertahap.

Coba kalian perhatikan: ada sebuah poin penting dalam surah Al-Fatihah dimana saya telah menyampaikannya dalam berbagai pertemuan berkali-kali. Ketika seseorang mengatakan kepada Sang Pencipta alam semesta, اهدنا الصّراط المستقيم, artinya, "Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus", lalu Allah mengartikan ‘jalan yang lurus' ini demikian, صراط الّذين انعمت عليهم "Jalan orang-orang yang kenikmatan diberikan kepada mereka". Banyak kenikmatan yang Allah berikan; Dia memberikan nikmat juga kepada Bani Israil,
يا بنى‏اسرائيل اذكروا نعمتى الّتى انعمت عليكم
"Wahai Bani Israil, ingatlah nikmatku yang telah aku berikan kepadamu."

Nikmat Allah itu bukan khusus milik kaum nabi, orang-orang shaleh dan para syahid,
فاولئك مع الّذين انعم‏اللَّه عليهم من النّبيّين والصّدّيقين والشّهداء والصّالحين

"Maka, mereka itulah bersama orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan dari para nabi, orang-orang jujur tulus, para syahid dan orang-orang shaleh!" Mereka ini diberi nikmat, akan tetapi Bani Israil juga diberi nikmat.

Orang-orang yang diberi nikmat itu ada dua golongan: pertama, mereka yang ketika mendapatkan nikmat Allah tidak sesekali membuat Allah marah terhadap mereka, tidak pula mereka menjadi tersesat. Mereka itulah orang yang kita menyebut mereka dengan: "Ya tunjukkanlah jalan mereka kepada kami." "Yang tidak dimurkai" dalam istilah teknis sastranya adalah ajektif untuk "orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka", yaitu bahwa ciri-ciri orang-orang ini adalah "yang tidak dimurkai juga tidak tersesat."

Golongan lain adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, akan tetapi mereka mengubah nikmat Allah dan merusaknya. Oleh karena itulah mereka mendapatkan kemurkaan [Ilahi]; atau orang-orang yang berjalan mengikuti mereka hingga tersesat. Dalam riwayat-riwayat kita disebutkan bahwa maksud dari "yang tidak dimurkai" adalah orang-orang Yahudi, dan ini hanyalah penjelasan referensial (contoh konkret), karena orang Yahudi itu sampai pada masa Nabi Isa AS atau Nabi Musa AS dan para penerusnya melakukan penentangan secara sadar dan sengaja. Adapun "yang tersesat" adalah orang-orang Nasrani, karena mereka ini telah menjadi orang-orang sesat. Kondisi orang Nasrani ketika itu ialah mereka telah tersesat sejak awal, atau setidak-tidaknya, kebanyakan dari mereka dalam kondisi demikian. Sementara orang-orang Muslim telah mendapatkan nikmat. Kenikmatan ini juga didapat oleh ‘orang-orang yang dimurkai" dan "orang-orang tersesat." Oleh karena itu, ketika Imam Husain as gugur sebagai syahid, Imam Ja'far as. dalam sebuah riwayat yang dinukil dari beliau mengatakan,
فلما ان قتل الحسين صلوات‏اللَّه‏عليه اشتدّ غضب اللَّه تعالى على اهل الارض

"Tatkala Husain as telah dibunuh, murka Allah SWT menjadi sangat besar terhadap penduduk bumi." Ya, karena beliau adalah manusia maksum.

Oleh sebab itu, masyarakat yang diberi nikmat oleh Allah tetapi berjalan menuju murka [Ilahi]; maka kita harus mencermati perjalanan mereka. Ini sangat penting; sangat susah; perlu ketelitian yang tinggi. Berikut ini, saya hanya akan membawakan beberapa contoh. Orang-orang awam dan kalangan khusus punya kondisi masing-masing yang khas. Kalangan khusus yang tersesat itu boleh jadi "orang-orang yang dimurkai", dan kalangan awam itu mungkin saja "orang-orang yang tersesat." Sudah barang tentu, dalam kitab-kitab sejarah ada banyak contoh. Dari sekarang sampai berikutnya, saya akan menukil dari kitab sejarah Ibnu Atsir; saya tidak akan menukil dari sumber-sumber Syi'ah, saya pun tidak akan merujuk sumber-sumber sejarah Ahli Sunnah yang riwayat mereka oleh Ahli Sunnah sendiri masih diragukan seperti Ibnu Qutaibah. Ibnu Qutaibah Daynuri dam kitab ‘Al-Imamah wa Al-Siyasah' mencatat hal-hal aneh dan semua itu tidak akan saya singgung.

Ketika seseorang merujuk kitab ‘Kamil Al-Tawarikh' karya Ibnu Atsir, ia akan menemukan betapa karyanya ini mengandung fanatisme Bani Umayyah dan dan Utsmaniyyah. Namun, menurut saya, ada kemungkinan ia bersikap toleran karena alasan-alasan tertentu. Dalam peristiwa ‘Yaum Al-Dar' dimana Khalifah Utsman dibunuh oleh orang-orang Mesir, Kufah, Bashrah, Madinah dan warga kota-kota lainnya, dan setelah membawakan berbagai riwayat, Ibnu Atsir mengatakan bahwa sebab peristiwa ini adalah faktor-faktor ‘yang tidak ingin saya uraikan'. Ketika ia membawakan kejadian sahabat mulia Abu Dzar lalu ia mengatakan bahwa Mu'awiyah menaikkan Abu Dzar ke unta tanpa perbekalan dan dalam keadaan itulah mengirimkannya hingga ke Madinah lalu dibuang ke Rabadzah, di sini ia menuliskan ‘ada hal-hal yang telah terjadi dan saya tidak ingin mencatatnya'. Yang demikian ini entah apakah Ibnu Atsir benar-benar - dalam istilah kita sekarang - punya sistem autosensor, ataukah ia melakukan hal itu karena fanatisme. Yang jelas, ia bukan orang Syi'ah, juga tidak punya hubungan dengan kesyi'ahan. Dia seorang yang bahkan mungkin juga punya hubungan dengan Bani Umayyah dan Utsmaniyyah. Apa yang dari sekarang akan saya sampaikan; semuanya dari Ibnu Atsir ini.

Ada beberapa contoh dari kalangan khusus; apa yang terjadi pada mereka ini selama lima puluh tahun itu sehingga situasinya sampai sedemikian buruknya? Ketika saya mencermati, saya melihat ada goncangan pada empat garis dasar itu; penghambaan diri [kepada Allah], pengetahuan, keadilan dan kecintaan. Saya akan membawakan contoh-contoh ini sesuai dengan redaksi sejarah. Sa'id bin ‘Ash adalah salah satu anggota Bani Ummayah dan dari sanak keluarga Utsman. Setelah Walid bin Uqbah bin Abu Mu'ith - yaitu orang yang kalian saksikan dalam film serial Imam Ali sekaitan dengan pembunuhan penyihir di hadapannya - Sa'id bin ‘Ash naik berkuasa untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh Walid. Dalam ruang pertemuannya, ada seseorang mengatakan, ‘Betapa dermawannya Thalhah itu!' Maksudnya adalah Thalhah bin Ubaidillah. Tentu, dia memberikan sekian uang kepada seseorang, atau dia memberikan kepada orang-orang yang dia kenal. Maka Sa'id membalas, ‘Sesungguhnya orang yang memiliki Nisyastej itu pantas sekali menjadi orang dermawan."

Ada sebuah ladang yang sangat besar bernama Nisyastej di sekitar kota Kufah, dan mungkin Nesyasteh yang kita kenal dalam bahasa kita juga berasal dari nama ini. Di sekitar Kufah, ada daerah yang makmur dan subur. Ladang luas ini milik Thalhah; seorang sahabat Rasulullah SAW di Madinah. Sa'id bin ‘Ash mengatakan,
واللَّه لو ان لى مثله لاعاشكم اللَّه به عيشا رغدا

"Orang yang punya kekayaan seperti ini tentu seorang dermawan. Dan demi Allah, andai saja aku punya sepertinya, aku akan memberikan kelapangan dalam hidup kalian; itu bukanlah apa-apa sehingga kalian mengatakan dia itu orang yang dermawan." Sekarang, kalian bandingkan ini dengan kezuhudan masa Rasulullah SAW dan kezuhudan di awal-awal ketiadaan Rasulullah SAW, dan kalian perhatikan tokoh-tokoh, pemimpin-pempimpin dan para sahabat dalam beberapa tahun itu; bagaimana mereka itu hidup dan dengan mata apa mereka melihat dunia? Lalu, setelah lewat sepuluh atau lima belas tahun, kondisi berakhir sampai sedemikian mengenaskan.

Contoh berikutnya adalah Abu Musa Al-Asy'ari; yaitu Abu Musa yang terkenal dalam kasus ‘Tahkim'. Orang-orang ingin pergi ke medan jihad, lalu ia segera naik mimbar dan mendorong masyarakat untuk berjihad. Ia berbicara banyak tentang keutamaan jihad dan pengorbanan. Banyak dari masyarakat yang tidak punya kuda untuk ditunggangi. Setiap orang harus pergi dengan menunggangi kudanya sendiri. Supaya para pejuang pejalan kaki mau pergi, Abu Musa membesar-besarkan keutamaan jihad berjalan kaki, ‘Berjihad dengan berjalan kaki sungguh mulia, demikian dan demikian keutamaannya!' Sedemikian rupa mulut dan nafas menghangatkan dorongan-dorongan itu hingga ada sekelompok orang dari mereka yang punya kuda mengatakan bahwa kita juga akan berjalan kaki, dan kuda-kuda ini telah membuat kami kehilangan pahala yang banyak; kami ingin pergi berperang dengan berjalan kaki supaya pendapatkan pahala-pahala besar ini!

Ada juga sekelompok orang yang sedikit mau berpikir banyak. Mereka mengatakan, ‘Tunggu dulu! Jangan tergesa-gesa! Kita lihat dulu; seorang pimimpin yang berbicara seperti itu tentang jihad berjalan kaki bagaimana dia sendiri keluar dari rumahnya? Kita perhatikan apakah perbuatannya juga seperti ucapannya ataukah tidak? Setelah itu, kita ambil keputusan berjalan kaki atau menunggang.' Ini redaksi dari Ibnu Atsir. Ia menuliskan, "Ketika Abu Musa keluar dari istananya, ia membawa barang-barang berharga dari istananya di atas empat puluh unta dan menuju ke medan jihad." Pada masa itu, tidak ada bank, dan tidak ada jaminan kelanggengan kekuasaan. Mungkin ketika perang tengah berkecamuk, tiba-tiba berita datang dari khalifah bahwa engkau telah dimakzulkan dari pemerintahan Bashrah. Orang-orang tidak akan membiarkan ia bisa datang lagi dan mengambil semua barang berharga itu dari dalam istana. Jadi, ke manapun pergi, ia terpaksa membawanya. Empat puluh unta adalah barang-barang berharga miliknya yang ia angkut lalu ia keluarkan dari dalam istana lantas dibawa ke medan perang!

Ketika Abu Musa keluar, orang-orang yang pergi jihad dengan berjalan kaki mendekatinya lalu menarik tali kekang kudanya. Mereka mengatakan, "Naikkan kami ke atas kekayaan-kekayaan yang berlebihan ini! Apa yang sedang engkau bawa ini ke medan perang? Kita ini berjalan kaki. Bawa kita naik! Berjalan kakilah sebagaimana engkau membujuk kami untuk berjalan kaki!" Akan tetapi, Abu Musa menyabet mereka dengan cambuknya dan mengatakan, "Pergilah! Tidak ada gunanya kalian berkata seperti itu!" Lalu orang-orang meninggalkannya. Akan tetapi, mereka tentu saja tidak tahan. Mereka datang ke Madinah menemui Utsman dan mengadu kepadanya, kemudian ia pun memecat Abu Musa dari jabatannya. Abu Musa ini adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW; salah satu dari kalangan khusus dan tokoh, namun demikianlah kenyataannya!

Contoh ketiga adalah Sa'ad bin Abi Waqqash. Ia pernah menjadi gubernur di Kufah. Dan ia pernah meminjam dari Baitul Mal (kas negara). Pada masa itu, Baitul Mal tidak berada di tangan penguasa, akan tetapi khalifah mempercayakannya kepada seseorang untuk mengelola urusan-urusan masyarakat. Juga ada satu orang yang diangkat oleh khalifah sebagai kepala bidang kekayaan negara dimana dia bertanggung jawab langsung kepada Khalifah sendiri. Yang menjadi gubernur di Kufah pada masa itu adalah Sa'd bin Abi Waqqash, sedangkan kepala Baitul Mal adalah Abdullah bin Mas'ud; salah seorang sahabat besar Nabi SAW dan berkedudukan tinggi. Sa'd pernah meminjam sejumlah uang dari Baitul Mal - seberapa ribu dinar, saya tidak tahu persis - namun ia tidak menunaikan hutangnya dan tidak mengembalikan penjamannya itu. Maka Abdullah bin Mas'ud menagihnya dan mengatakan, "Bayarlah uang Baitul Mal!" Sa'd bin Abi Waqosh membalas, 'Aku tidak punya uang." Terjadilah perang mulut dan pertikaian di antara mereka. Namun, seorang sahabat Amirul Mukminin [Ali bin Abu Thalib AS] dan orang yang sangat mulia bernama Hasyim bin Utbah bin Abi Waqqash maju merelai mereka dan mengatakan, "Ini tidak baik. Kalian berdua ini sahabat Rasulullah SAW. Masyarakat masih melihat kalian. Jangan bertikai, dan selesaikan perkara ini dengan cara lain! Ketika Abdullah bin Mas'ud melihat tidak bisa berbuat apa-apa, ia pergi keluar.

Bagaimanapun, ia adalah seoang lelaki yang terpercaya. Ia pergi menemui sekelompok masyarakat dan berseru, "Tariklah keluar harta itu dari dalam rumahnya!" Dan ternyata ada harta di dalam rumah Sa'd. Lalu orang-orang mengabarkan kejadian kepada Sa'd. Maka ia juga mengirim sekelompok orang dan memerintahkan, "Pergilah ke sana dan jangan biarkan mereka!" Jadi, karena Sa'd bin Abi Waqqash tidak membayar utangnya ke Baitul Mal, terjadilah pertikaian besar. Padahal, Sa'd bin Abi Waqqash ini adalah salah satu anggota dewan Syura; dia bagian dari enam anggota dewan; dia salah satu dari mereka. Namun, setelah beberapa tahun saja, keadaannya sampai sedemikian ini. Ibnu Atsir menuliskan, "Ini adalah pertikaian pertama yang terjadi di tengah penduduk Kufah", karena adalah salah seorang dari kalangan tokoh hidup demikian dalam mencintai dunia dan ia menunjukkan dirinya demikian secara tak sadar!

Kejadian lainnya, orang-orang Muslim pergi menuju Afrika; yaitu negeri Tunisia dan Maroko. Mereka menaklukannya dan membagikan harta rampasan perang kepada masyarakat dan pasukan perang. Mereka juga harus mengirimkan khumus (seperlima) dari harta rampasan perang itu. Dalam karya Ibnu Atsir itu tercatat bahwa khumus itu sudah banyak. Memang, di sini Ibnu Atsir tidak menukilkan hal ini, akan tetapi di tempat lain, ia membawakan kisah penaklukan ini dan menuliskan bahwa khumus itu banyak dan mereka mengirimkannya ke Madinah. Ketika harta khumus sampai di Madinah, Marwan bin Hakam datang dan mengatakan, "Aku beli semuanya seharga lima ratus ribu dirham." Maka khalifah pun menjualnya kepada Marwan! Lima ratus ribu dirham bukan uang sedikit. Tetapi, harta khumus itu juga masih jauh lebih berharga dari jumlah uang ini. Kejadian ini adalah salah satu kasus yang kemudian masyarakat memprotes khalifah. Ya, khalifah membawakan alasan dan mengatakan, "Ini demi silaturahmi kepada saudara; aku bersilaturahmi kepadanya, karena keadaan hidupnya tidak baik; aku ingin membantunya." Begitulah kalangan tokoh hanyut dalam kekayaan dunia.

Kasus berikutnya, Walid bin Uqbah bin Abu Mu'ith yang diangkat menjadi gubernur di Kufah. Walid bin Uqbah ini yaitu Walid yang biasa kalian kenal sebagai gubernur Kufah setelah Sa'd bin Abi Waqqash. Dia juga dari keluarga Bani Umayyah dan dari kerabat khalifah masa itu. Ketika ia tiba [di Kufah], masyarakat terheran-heran. Ada apa ini? Bagaimana orang ini bisa dijadikan gubernur?! Karena, Walid selain dikenal dengan kedunguannya, kebusukannya juga terkenal. Walid ini adalah orang yang disinggung oleh ayat yang mulia,
ان جاءكم فاسق بنبأ فتبيّنوا
"Jika datang kepada kalian seorang fasik dengan membawa suatu berita, maka periksalah."

Al-Quran menyebutnya dengan nama 'orang fasik', karena dia membawa sebuah berita sehingga sebagian orang terancam bahaya, kemudian turunlah ayat, "Jika datang kepada kalian seorang fasik dengan membawa suatu berita, maka periksalah", jika seorang fasik datang membawa sebuah berita, maka selidikilah; jangan percaya pada kata-katanya. Orang fasik itu adalah Walid ini. Dan ini terjadi pada masa Rasulullah SAW.

Coba kalian perhatikan bagaimana norma-norma, nilai-nilai dan perubahan orang-orang! Orang yng pada masa Rasulullah itu dan dalam Al-Quran disebut dengan nama 'orang fasik' dimana Al-Quran ini sendiri yang setiap hari dibaca oleh masyarakat, ternyata dia menjadi gubernur di Kufah! Baik Sa'd bin Abi Waqosh maupun Abdullah bin Mas'ud; mereka berdua sama-sama heran. Ketika melihat Walid, Abdullah bin Mas'ud mengatakan,
ماادرى اصلحت بعدنا ام فسد النّاس

"Aku tidak tahu; apakah setelah kami, kamu sudah menjadi baik atau masyarakat sudah menjadi rusak." Kamu bukan orang baik, masyarakat juga sudah rusak hingga mereka mengutus orang sepertimu ke sebuah kota sebagai gubernur. Sa'd bin Abu Waqqash dari sisi lain juga terheran-heran. Ia mengatakan, "Apakah di hadapanku kamu telah menjadi orang pandai atau kita ini bodoh di hadapanmu", kau yang dulu orang dungu, apakah lalu sekarang sudah jadi orang pintar, ataukah kami sudah sebegitu bodohnya sehingga mereka mengutamakanmu di atas kami?!

Walid berbalik dan menjawabnya, "Jangan merasa kesal, wahai Sa'd! Semua itu tidak ada yang benar; aku tidak pintar, dan kau pun bukan orang bodoh. Akan tetapi, masalahnya hanyalah kerajaan...!" Lihatlah perubahan dari pemerintahan Ilahi ini. Kekhalifahan dan wilayah ilahi diubah menjadi kerajaan dan ini adalah peristiwa yang sangat mengejutkan. [Ia melanjutkan], "... yang hari ini dipegang oleh sekelompok orang, dan pada hari esoknya dipegang oleh kelompok lain." Bagaimanapun, Sa'd bin Abu Waqqash adalah salah seorang sahabat Nabi SAW. Baginya, jawaban ini sangat menusuk telinga; bahwa masalahnya ternyata kerajaan. [Ibnu Atsir menulis], "Maka Sa'd berkata, 'Aku melihat kalian telah mengubah kekhalifahan menjadi kerajaan!'"

Pada suatu saat, khalifah Umar pernah berkata kepada Salman, "Menurutmu, apakah aku ini raja ataukah khalifah?" Salman adalah orang besar dan sangat terpandang. Ia seorang sahabat yang sangat mulia. Pandangan dan penilaiannya sangat penting. Oleh karena itu, Umar pada masa kekhalifahannya melontarkan pertanyaan ini kepadanya. "Maka Salman berkata kepadanya,
ان انت جبيت من ارض المسلمين درهماً او اقلّ او اكثر و وضعته فى غير حقّه فانت ملك لا خليفة
"Jika dari kekayaan masyarakat Islam, engkau mengambil [pajak] kurang dari satu dirham atau lebih dari itu, lalu engkau menyalurkannya bukan pada tempat yang semestinya, maka engkau adalah raja; bukan seorang khalifah."

[Dengan demikian], Salman telah menjelaskan kriterianya.

Dalam riwayat Ibnu Atsir terdapat redaksi, "Maka, Umar pun menangis." Benar-benar sebuah nasihat yang luar biasa. Masalahnya adalah kekhalifahan. Kekhalifahan yang sebuah pemerintahan yang sejalan dengan kecintaan, sejalan dengan keseutuhan dengan rakyat, sejalan dengan kasih sayang terhadap tiap-tiap anggota masyarakat; bukan semata-mata pemerintahan dan kekuasaan. Adapun kerajaan tidaklah demikian. Kerajaan tidak punya urusan dengan rakyat. Raja adalah seorang penguasa dan pemerintah; dia akan melakukan apa saja yang dia inginkan.

Ini semua berkaitan dengan kalangan tokoh. Selama beberapa tahun itu, mereka telah berbuat sampai sedemikian rupa. Tentu, semua ini terjadi pada masa-masa empat khalifah rasyidin dimana mereka sendiri berwaspada, menjaga hukum, mencurahkan perhatian dan sekian tahun lamanya hidup bersama Rasulullah SAW. Seruan Rasulullah sampai saat itu masih menggema di Madinah, dan orang seperti Ali bin Abu Thalib as juga masih hidup di tengah masyarakat. Namun, ketika pemerintahan berpindah ke Syam, hal-hal ini sudah tidak ada lagi bekasnya. Semua ini adalah contoh-contoh kecil dari kalangan tokoh. Tentu saja, jika seseorang meneliti [permasalahan ini] dalam sejarah Ibnu Atsir atau dalam sumber-sumber lain yang diakui oleh semua saudara-saudara Ahli Sunnah kita, maka bukan hanya ratusan contoh, kita bahkan akan mendapatkan ribuan kasus semacam tadi.

Jelas sekali, ketika keadilan sudah tidak ada; ketika penghambaan diri [kepada Allah] sudah tidak ada, dan masyarakat menjadi rapuh, ketika itulah pikiran-pikiran pun menjadi rusak, yaitu dalam masyarakat dimana persoalan meraup kekayaan dan kecenderungan kepada harta duniawi serta keterikatan hati kepada keuntungan-keuntungan dunia sampai pada kondisi-kondisi seperti itu; dalam masyarakat dimana ada yang menjadi penyampai ilmu agama kepada masyarakat adalah orang seperti Ka'ab Al-Ahbar maka demikianlah keadaannya. Ka'ab Al-Ahbar adalah seorang Yahudi yang baru masuk Islam dan tak pernah berjumpa dengan Rasulullah. Pada masa Rasulullah, dia belum masuk Islam, pada masa Abu Bakar juga dia tidak masuk Islam. Baru pada masa Umar, ia menjadi muslim, dan meninggal dunia pada masa Utsman. Sebagian orang menyebutnya dengan nama Ka'ab Al-Akhbar. Ini salah. Yang benar adalah Ka'ab Al-Ahbar. Ahbar bentuk jamak dari hibr yang berarti rabbi Yahudi.

Ka'ab ini adalah rabbi terkemuka di tengah para rabbi Yahudi yang kemudian masuk Islam, lalu ia berbicara tentang ajaran-ajaran Islam. Ketika ia hadir di majelis pertemuan Utsman, Abu Dzarr datang. Dan ketika ia berkata sesuatu, Abu Dzarr marah dan mengatakan, "Rupanya engkau sudah mulai mengajari kita tentang Islam dan hukum-hukumnya! Kita sudah mendengar hukum-hukum ini langsung dari Rasulullah." Ketika kriteria-kriteria hilang; ketika nilai-nilai itu melemah; ketika hal-hal yang tampak itu rapuh; ketika nafsu rakus duniawi dan pemujaan harta berkuasa atas orang-orang - yang telah menghabiskan umur dengan mulianya, melewatkan sekian tahun lamanya tanpa peduli terhadap kenikmatan-kenikmatan duniawi, dan mereka telah mampu menegakkan panji kebesaran - ketika itulah dalam dunia budaya dan pengetahuan, ada seseorang yang menjadi sumber ilmu-ilmu Ilahi dan Islam; orang yang baru saja masuk Islam dan mengatakan apa saja yang dia pahami, bukan apa yang diajarkan Islam, sementara ada sebagian orang yang lebih mengutamakan ucapannya di atas ucapan orang-orang Muslim yang berprestasi.

Ini semua tentang kalangan tokoh. Lalu orang awam, yang ikut dengan kalangan tokoh, bergerak di belakang mereka kapan pun mereka berjalan ke suatu arah. Dosa terbesar para tokoh dan orang-orang terkemuka ialah jika ada penyimpangan yang dilakukan oleh mereka, maka penyimpangan ini mengakibatkan penyelewengan kebanyakan orang. Ketika kalian melihat bendungan-bendungan itu jebol; ketika kalian melihat tindakan-tindakan mereka - yang bertentangan dengan apa yang mereka katakan itu dan bertentangan dengan sabda-sabda yang dinukil dari Rasulullah - itu terus dilakukan, maka masyarakat juga akan berjalan ke arah yang sama. Di samping itu, ada juga kasus yang dilakukan oleh kalangan awam, yaitu seorang gubernur Bashrah pernah menulis surat kepada khalifah, "Kami membagikan pajak-pajak yang kami ambil dari negeri-negeri yang ditaklukkan kepada masyarakat. Akan tetapi, pajak itu sedikit, sedangkan masyarakat di sana banyak. Jadi, beri kami harta seukuran harta yang diberikan kepada dua kota."

Ketika warga Kufah mendengar Gubernur Bashrah - bahwa dia telah mengambil pajak dua kota untuk rakyatnya sendiri - mereka segera pergi menemui gubernur mereka. Siapa gubernur warga Kufah itu? Ammar bin Yasir; manusia yang komit dengan nilai-nilai agama dan teguh bagaikan gunung dan berdiri kokoh. Tentu, ada orang-orang sepertinya; mereka yang tak pernah goyah; tetapi mereka ini tidak banyak. Warga [Kufah] datang kepada Ammar bin Yasir dan mengatakan, "Kamu juga hendaknya menuntut seperti [gubernur Bashrah] itu untuk kami, dan ambillah [pajak] dua negeri untuk kami." Ammar menjawab, "Aku tidak akan berbuat demikian." Mereka lantas bermaksud untuk menyerang Ammar dan menghujatnya. Lalu mereka menulis surat [kepada khalifah]. Akhirnya, khalifah memecat Ammar. Kejadian seperti [Ammar] ini juga dialami oleh Abu Dzarr dan beberapa orang yang lain. Abdullah bin Mas'ud mungkin juga termasuk salah satu dari orang-orang ini. Ketika pemimpin-pemimpin ini tidak dipatuhi, maka masyarakat dari segi nilai dan kriteria menjadi rapuh. Di sinilah letak pentingnya memetik pelajaran.

Saudara-saudaraku! Orang akan lambat memahami perubahan masyarakat ini; [karena itu] ia harus waspada. Inilah takwa, yaitu orang-orang yang wilayah kekuasaan mereka adalah diri mereka sendiri, maka mereka ini harus waspada pada lingkup itu. Orang-orang yang wilayah kekuasaannya lebih luas dari diri mereka sendiri harus mewaspadai diri mereka sendiri juga mewaspadai orang lain. Mereka yang berada di pucuk kekuasaan harus mewaspadai diri mereka juga mewaspadai segenap masyarakat agar tidak bergerak ke arah kerakusan dunia, ke arah kenikmatan duniawi dan ke arah kepentingan diri sendiri. Ini bukan artinya tidak menyejahterakan masyarakat. Justru mereka itu harus memakmurkan masyarakat dan menghasilkan kekayaan yang banyak, akan tetapi hendaknya tidak rakus menguasainya untuk diri sendiri, karena ini adalah tindakan yang buruk sekali. Setiap orang yang bisa membuat masyarakat Islam menjadi kaya dan melakukan kerja-kerja besar, pasti dia mendapatkan pahala yang besar.

Dan orang-orang ini yang Alhamdulillah bisa membangun negara dalam beberapa tahun ini; yang menegakkan panji pembangunan di dalam negeri ini; melakukan kerja-kerja besar, mereka ini terus melakukan kerja-kerja yang sangat bagus; mereka bukan orang-orang yang rakus dunia. Rakus dunia ialah seseorang yang menginginkan segala sesuatu untuk diri sendiri, bekerja demi diri sendiri, menumpuk kekayaan dari Baitul Mal atau dari sumber lainnya untuk diri sendiri. Ini jelek sekali. Kita harus waspada. Semua harus waspada supaya tidak terjadi demikian. Kalau tidak ada kewaspadaan, pada saat itulah masyarakat akan mengalami kekosongan nilai-nilai mulia secara bertahap hingga sampai pada satu kondisi dimana yang tersisa hanya kulit luarnya saja, lalu tiba-tiba ada sebuah ujian besar - berupa kebangkitan Abu Abdillah (Imam Husain as), ketika itulah masyarakat tersebut akan gagal dalam menghadapi ujian ini!

Penguasa masa itu mengatakan, 'Aku akan berikan kekuasaan negeri Rey kepadamu.' Pada masa itu, Rey adalah sebuah kota yang sangat besar dan banyak penghasilannya. Kekuasaannya juga bukan seperti kekuasaan atas sebuah provinsi di zaman ini. Sekarang, para gubernur atau pimpinan provinsi kita adalah seorang pejabat pemerintahan; mereka mendapatkan gaji dan bekerja keras. Tapi, pada zaman itu, keadaannya tidak seperti ini. Seseorang yang memerintah di suatu kota, yakni semua sumber-sumber penghasilan kota itu berada di dalam kewenangannya; lalu sebagian dari hasilnya dikirimkan ke pusat dan sisanya berada di bawah wewenangnya. Dia bisa melakukan pekerjaan apa saja yang dia inginkan. Oleh karena itu, [pemerintahan di suatu kota saja] sangat penting baginya. Lalu penguasa [masa itu] mengatakan, jika kamu tidak memerangi [Imam] Husain bin Ali, maka pemerintahan di Rey tidak akan jatuh ke tanganmu. Di sinilah seorang yang teguh dengan prinsip tidak akan berpikir sepintas pun dan dengan tegas akan mengatakan, "Enyahlah dan ambillah Rey! Apa arti Rey?"

Kalaupun semua dunia ini engkau berikan kepadaku, aku tidak akan pernah bermuka masam kepada Husain bin Ali. Aku tidak akan menunjukkan wajah garang kepada putra tercinta [Fathimah] Zahra as. Akankah aku pergi membunuh [Imam] Husain bin Ali dan anak-anaknya hanya supaya kalian memberikan kekuasaan Rey kepadaku?! Beginilah orang yang teguh dengan prinsip. Akan tetapi, ketika orang yang mendapat tawaran kehilangan jiwanya; ketika masyarakat jauh dari nilai-nilai mulia; ketika garis-garis besar dalam masyarakat itu sudah lemah, maka tangan dan kakinya akan tergelincir. Ya, maksimalnya, dia akan berpikir dulu untuk satu malam, yaitu ketika mereka mendesak keras dan memberi waktu satu malam sampai subuh untuk menimbang-nimbang! Kalaupun dia berpikir satu tahun, tetap saja dia akan mengambil keputusan yang sama. Cara berpikir ini tidak ada artinya. Satu malam dia berpikir, pada akhirnya dia mengatakan, 'Baiklah, saya menginginkan kekuasaan Rey.' Namun ternyata, Allah SWT pun tidak memberikan negeri itu kepadanya. Ketika itulah, saudara-saudaraku! tragedi Karbala itu terjadi.

Pada kesempatan ini, saya harus berbicara sedikit tentang analisa tragedi Asyura walaupun hanya sekilas. Orang seperti [Imam] Husain bin Ali as. - yang dirinya adalah perwujudan dari nilai-nilai kemuliaan - melakukan kebangkitan untuk memerangi kemerosotan ini, karena kemerosotan itu telah berlangsung hingga sampai pada kondisi dimana tidak ada lagi [nilai] yang tersisa semikian rupa sehingga kalau suatu saat, masyarakat dan kaum Muslimin ingin hidup dengan baik, maka tidak ada sesuatu apa pun yang dapat mereka pegang. Imam Husain bangkit, berjuang, bergerak dan melawan seorang diri terhadap laju keruntuhan yang begitu cepat menukik itu. Tentu, dalam misi ini, beliau mengorbankan jiwanya, jiwa orang-orang tercintanya, jiwa Ali Ashghar-nya; jiwa Ali Akbar-nya; jiwa Abbas-nya, dan beliau memetik hasilnya.

[Dalam Sabda Nabi SAW], "Dan aku dari Husain", yakni agama Nabi SAW adalah hidupnya Imam Husain bin Ali. Ini satu sisi dari lembaran itu. Satu sisi lembaran itu ialah peristiwa besar, semangat juang yang begitu mendidih dan pengalaman cinta di Asyura sehingga kejadian-kejadian di Karbala benar-benar tidak bisa dipahami kecuali dengan logika cinta dan dengan mata cinta. Kita harus melihat dengan mata cinta hingga dapat memahami apa yang telah dilakukan [Imam] Husain bin Ali dalam - kurang lebih - satu malam dan setengah hari atau kira-kira sehari semalam - dari waktu ashar hari Tasu'a (hari kesembilan Muharram) sampai waktu ashar 'Asyura (hari kesepuluh Muharram) - dan betapa beliau telah menciptakannya sedemikian agungnya. Oleh karena itu, beliau tetap hidup di dunia dan akan tetap hidup selama-lamanya. Banyak pihak yang berusaha mengubur tragedi Asyura hingga dilupakan orang, namun mereka tidak mampu.

(Pidato shalat Jumat di Tehran, 8 Mei 1998)

Nasrani Dalam Perspektif Rahbar

Bab Pertama: Isa al-Masih as

Utusan Allah
Isa Utusan Allah
Hazrat Maryam, Teladan Bagi Umat Manusia
Hazrat Maryam, Cermin Kesucian
Keistimewaan Kisah Isa Putera Maryam as
Pengibar Panji Hidayah
Penyelamat Manusia dari Kezaliman
Seruan Menuju Kesejahteraan
Kelahiran Isa al-Masih as

Bab Kedua: Islam dan Nasrani
Penghormatan Nabi Muhammad Saw Kepada Penguasa Nasrani
Ibadah Dalam Islam dan Nasrani
Pernyataan Bijak Hazrat al-Masih as
Mencari Titik Temu Antara Islam dan Nasrani
Kebebasan di Mata Islam dan Nasrani
Membela Keadilan dan Kaum Tertindas
Urgensi Hubungan Dengan Tuhan Bagi Kehidupan Manusia
Spiritualitas, Titik Temu Semua Agama
Benturan Antara Nasrani dan Islam
Agama Rahmat dan Kasih Sayang

Bab Ketiga: Nasrani di Era Modern
Ajaran Nasrani di Tengah Kita
Inflitrasi Kaum Imperialis
Berakhirnya Era Keagamaan dan Dimulainya Era Sains
Ketidak Berimanan Kepada Al-Masih
Anti Spiritualitas
Ketidakpedulian Gereja Terhadap Isu Keadilan
Dampak Keterjauhan Dari Ajaran al-Masih as
Klaim Bohong

Bab Keempat: Republik Islam Iran dan Warga Minoritas Nasrani
Pengaruh Revolusi Islam di Dunia Nasrani
Kerukunan Hidup di Iran
Warga Minoritas Nasrani Iran
Kecintaan dan Kedekatan


Bab Pertama: Isa al-Masih as

Utusan Allah

Kedudukan Nabi Isa al-Masih as di mata umat Islam tak kalah agungnya dengan kedudukan beliau di mata umat Nasrani. Utusan besar Ilahi ini telah menghabiskan usianya di tengah masyarakat dengan perjuangan dan menyalakan resistensi umat di depan praktik penindasan, agresi, korupsi, dan ambisi sekelompok manusia gila kekuasaan yang membelenggu masyarakat dan menyeret kehidupan dunia dan akhirat mereka ke arah neraka jahannam. Demi tujuan ini, beliau yang sejak kecil telah menerima anugerah nubuwwah rela menanggung segala beban penderitaan perjuangan maha berat ini.



Isa Utusan Allah

Umat Islam mengakui kebesaran Nabi Isa as sebagai utusan Allah Swt -sebagaimana umat Nasrani mengakui kebesaran beliau-. Sungguh tak dapat diterima klaim kaum Yahudi yang menyebut Nabi Musa as hanya milik mereka, bukan umat yang lain. Umat Nasrani juga mengakui Nabi Musa as, sebagaimana halnya umat Islam. Demikian pula hanya dengan Nabi Isa as. Umat Islam memandang beliau bukan hanya milik umat Nasrani, melainkan juga milik umat Islam. Umat Islam di Iran sangat menyintai dan menghormati beliau. Umat Nasrani di Iran, baik kelompok Ashyrian maupun umat Nasrani di kawasan utara Iran dan Orumiyeh, meyakini bahwa agama Nasrani yang otentik ada di sini, bermarkas di sini, dan dari sini pula ajarannya merebak ke seluruh penjuru dunia. Secara historis, bisa jadi mereka benar.



Hazrat Maryam, Teladan Bagi Umat Manusia

Kitab suci al-Quran tidak menampilkan figur lelaki dalam menyebutkan sosok teladan keimanan umat manusia, melainkan menampilkan figur perempuan. Allah Swt menampilkan dua figur perempuan sebagai teladan untuk seluruh manusia, bukan hanya kaum hawa. Di bidang kemanusiaan dan perfeksi spiritualitas insaniah, Allah Swt tidak memilih para nabi ataupun tokoh-tokoh keilmuan dan agama dari kalangan pria, melainkan memilih dua tokoh wanita terkemuka, yaitu [Hazrat Asiyah] isteri Fir’aun dan Haszrat Maryam binti Imran, ibunda Nabi Isa al-Masih. Maryam adalah sosok perempuan yang selalu tegar laksana gunung ketika di masa mudanya diterjang badai fitnah dan prasangka buruk dari masyarakat luas. Di masa kegadisannya nan suci, beliau menerima anugerah putera yang menjadi perwujudan dari kalimatullah dan ruhullah yang menerangi kegelapan dunia saat itu.



Hazrat Maryam, Cermin Kesucian

Pada kisah Hazrat Maryam dalam al-Quran terdapat satu poin yang sangat menarik perhatian saya. Umat Islam memandang beliau sebagai cermin dan kristalisasi kesucian, yaitu sosok yang benar-benar suci. Dalam beberapa ayatnya, al-Quran menyebutkan nama Maryam antara lain sebagai berikut;

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا

dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami;. (QS. 66.12)

Ketika menyebut nama Maryam, al-Quran selalu menekankan masalah pemeliharaan kehormatan dan kesucian wanita. Apa gerangan yang terjadi pada Hazrat Maryam? Menurut saya, ini sangat penting. Maryam adalah gadis yang sejak kecil hidup di rumah ibadah sampai dewasa. Faktor apa yang mendorong beliau memelihara kesucian dengan mengerahkan kemampuannya yang luar biasa – seandainya tidak luar biasa al-Quran tentu tidak akan memberikan penekanan sedemikian rupa- dalam menghadapi godaan sehingga al-Quran menyebutkan “yang memelihara kehormatannya”. Ini sangat penting dan merupakan satu pelajaran bagi semua orang. Di saat yang sangat genting, kesucian dan resistensi beliau di depan segala godaan telah sedemikian berpengaruh dan bahkan dapat mengubah perjalanan sejarah. Hal serupa juga disebutkan oleh al-Quran ketika mengisahkan lelaki muda Nabi Yusuf as.



Keistimewaan Kisah Isa Putera Maryam as

Sejak masa remaja sampai sekarang saya sangat terkesan setiap kali membaca atau mendengar surah Maryam, sebab kejadiannya sangat luar biasa. Kejadian lahirnya Isa al-Masih pada situasi zaman dan tempat di mana fenomena ini muncul ke permukaan sejarah dan kehidupan masyarakat saat itu adalah peristiwa yang terlampau agung untuk dapat dijelaskan dengan kata-kata, kecuali dengan bahasa seni! Ini adalah peristiwa ajaib yang sukar dicarikan tandingannya. Di situ ada peranan Hazrat Maryam dan Nabi Zakaria as; ada karakteristik kondisi sosial saat itu; ada gambaran tentang terbitnya ajaran Nabi Isa as sebagai matahari yang berpijar di langit kemanusiaan dan ufuk pemikiran insani, dan perhatian pada hakikat bahwa ajaran Isa al-Masih as adalah lanjutan dari ajaran Nabi Musa as. Hal-hal demikian ini selalu ditekankan. Saat itu, para pengikut ajaran Nabi Musa as sudah jauh menyimpang dari ajaran suci ini sehingga apa yang dibawa oleh Nabi Isa as mereka pandang sebagai penyelewengan, bid’ah, dan kekafiran. Padahal ajaran Nabi Isa al-Masih juga bersumber pada wahyu Ilahi yang merupakan hulu dari ajaran Nabi Musa as. Dalam kisah ini tergambar jelas bagaimana dampak distorsi dan pengaruh kekuasaan, kekuatan, kesalahpahaman dan kesombongan.



Pengibar Panji Hidayah

Ketika manusia sedang tenggelam dalam kesesatan, kejahilan, penindasan, dan pengabaian terhadap norma-norma insani, Kalimatulllah Isa al-Masih as datang mengibarkan panji hidayah dan keselamatan bagi umat manusia. Dalam rangka ini pula, beliau bangkit melakukan perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan penindas dan berjuang membumikan keadilan, rahmat, dan Tauhid. Karena itu, sebagai umat yang beriman kepada al-Masih as, Nasrani maupun Muslim harus selalu mengingat ajaran dan jejak para nabi serta norma-norma insani yang terkandung di dalamnya demi tegaknya tatanan global yang layak.



Penyelamat Manusia dari Kezaliman

Isa al-Masih as adalah manusia yang diutus Allah Swt dengan dibekali mukjizat dan seruan Ilahi untuk membebaskan manusia dari syirik, kufur, kobodohan, dan tirani untuk kemudian membawa mereka menuju cahaya makrifat, keadilan, dan penghambaan kepada Sang Pencipta. Selama berada di tengah umat manusia beliau tidak pernah kendur dalam berjuang melawan angkara murka dan menyeru manusia kepada kebajikan. Ini merupakan pelajaran yang harus dihayati sepenuhnya oleh umat Nasrani dan umat Muslim yang meyakini kenabian beliau.

Manusia di zaman sekarang sangat membutuhkan ajaran Nabi Isa al-Masih, dan Islam yang menyempurnakan ajaran al-Masih menjadikan masalah kebaikan, kebajikan, dan kesempurnaan sebagai pedoman utama ajarannya. Manusia-manusia sesat telah menggunakan kekuatan alam tak terhingga -yang diperolehnya berkat ilmu pengetahuan– sebagai sarana untuk menggapai tujuan yang sebaliknya sehingga tugas umat beragama menjadi semakin berat. Kekuatan-kekuatan besar dunia telah membuat ruang kehidupan bangsa-bangsa tertindas menjadi semakin sempit. Mereka pun tak pernah segan berbuat lalim. Parahnya, para kekuatan besar itu justru menampakkan diri sebagai penganut ajaran al-Masih, padahal mereka buta akan perangai dan ajaran beliau.



Seruan Menuju Kesejahteraan

Hazrat Isa al-Masih as mengajak manusia ke jalan Allah Swt yang tak lain adalah jalan menuju kesejahteraan sejati. Beliau selalu mengingatkan manusia agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu yang selalu mendorong untuk berbuat angkara, aniaya, dan keji. Tapi di lain pihak, kekuatan-kekuatan durjana dan para anteknya menghadang beliau dengan represi, tuduhan buruk, dan upaya pembunuhan. Ketika beliau diangkat dan dilindungi Allah Swt, mereka lantas memburu dan menganiaya kaum Hawariyyun dan seluruh pengikut setia ajaran beliau dengan berbagai bentuk aksi penyiksaan yang paling mengerikan. Tujuan mereka tak lain adalah menumpas ajaran al-Masih yang menolak angkara murka, tirani, syirik, pemujaan hawa nafsu, konfrontasionalisme, dan manipulasi publik. Manusia yang bermoral bejat, zalim, ambisius, pemuja kekerasan, dan gemar menipu masyarakat memang tidak akan tahan menyaksikan adanya agama Allah, utusan Allah, dan para peniti jalan Allah.



Kelahiran Isa al-Masih as

Sudah ratusan tahun kelahiran Isa al-Masih as dirayakan. Mengapa kelahiran ini sedemikian penting? Ini tak lain karena kelahiran beliau merupakan satu titik masa yang sangat krusial dan determinan dalam sejarah manusia. Artinya, ketika sejarah sedang berjalan di suatu garis tiba-tiba ia berubah haluan dan beralih ke garis lain. Setiap tahun kita ikut merayakan hari kelahiran Hazrat al-Masih as dan menyampaikan ucapan selamat kepada umat Nasrani di tanah air dan di dunia secara umum. Namun, karena menurut mayoritas umat Nasrani di Iran –termasuk umat Armenia- tanggal kelahiran al-Masih bukan 25 Desember melainkan pada 10 hari pertama Januari, maka kita tidak mengikuti tradisi yang umum; kita menunggu sampai tiba bulan Januari untuk menyampaikan ucapan selamat Natal supaya lebih sesuai dengan pendapat saudara-saudara setanah air kita yang memeluk ajaran Nasrani. Semoga hari kelahiran al-Masih membawa berkah bagi umat Kristiani dan umat Islam di seluruh dunia.

Ala kulli hal, 10 hari ini kita memperingati kelahiran Hazrat al-Masih as. Kita berharap semoga umat Islam dan umat Nasrani selalu meneladani perilaku al-Masih, mengenali keagungannya dengan benar, dan mengikuti ajarannya.



Bab Kedua: Islam dan Nasrani

Penghormatan Nabi Muhammad Saw Kepada Penguasa Nasrani

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa delegasi raja Habasyah, Najasyi, datang ke Madinah membawa pesan untuk Rasulullah Saw, sebagaimana yang biasa terjadi dalam pergaulan antarnegara. Sebagaimana para raja dan penguasa di tempat-tempat lain, Najasyi yang bertahta di Habsyah juga beragama non-Muslim atau tepatnya Nasrani. Namun, ketika delegasi Habasyah datang, Rasulullah Saw menyambut mereka sambil berdiri sebagai tanda penghormatan. Para sahabat lantas berkata; “Wahai Rasul, biarkan kami yang melayani mereka.” Tapi beliau menjawab; “Tidak, sebab ketika umat Islam hijrah ke Habasyah, mereka sangat dihormati oleh raja Habasyah. Saya ingin membalasnya.” Inilah apresiasi Rasulullah Saw terhadap kebaikan orang lain.


Ibadah Dalam Islam dan Nasrani

Dalam al-Quran Allah Swt berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (QS.2.183)

Seperti kita ketahui, solat dan zakat bukan dikhususkan untuk umat Islam. Syariat para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw juga mewajibkan solat dan zakat. Dalam Al-Quran disebutkan kata-kata Nabi Isa as;

‎وَأَوْصَانِي بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

“dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS.19.31)

Dalam al-Quran juga terdapat beberapa ayat lain yang senada dengan ini. Allah Swt berfirman bahwa puasa juga seperti ibadah solat dan zakat yang bukan hanya dikhususkan untuk umat Islam, melainkan juga diwajibkan bagi umat-umat dan para nabi terdahulu.



Pernyataan Bijak Hazrat al-Masih as

Dalam beberapa riwayat yang bersanad kepada Ahlul Bait as terdapat hadist yang mengutip sabda Nabi Isa al-Masih as. Riwayat-riwayat itu tertera dalam kitab-kitab hadist dan tergolong sebagai riwayat yang paling cemerlang dan bijak. Umat Nasrani sendiri tidak mengklaim bahwa sabda-sabda Nabi Isa as hanya tertera pada Injil. Selain injil-injil yang umum, masih ada injil-injil lain dan sangat mungkin apa yang ada dalam riwayat-riwayat Islam merupakan bagian yang terangkum dalam injil-injil yang kini telah tiada. Sabda-sabda yang diriwayatkan oleh para Imam Ahlul Bait patut diperhatikan dan dimanfaatkan oleh umat Nasrani, dan siapa tahu ini bisa menjadi media pendekatan antarumat beragama. Umat Islam dapat menjadikan pesan-pesan al-Masih sebagai persembahan untuk umat manusia. Sabda-sabda Nabi Isa as yang tertera dalam berbagai riwayat Islam sarat dengan hikmah dan kandungan yang sangat bernas.

Saya sendiri dulu sering sekali membaca Injil. Banyak ungkapan-ungkapan bijak yang terkandung dalam empat Injil yang dimiliki umat Nasrani saat ini. Dari segi akidah, Umat Islam memang tidak sepaham dengan keyakinan yang terangkai dalam kitab Injil. Namun dari segi hikmah, setiap manusia pasti dapat menerima kata-kata bijak.


Mencari Titik Temu Antara Islam dan Nasrani

Menghubungkan agama dengan para pemuda dan memperluas pengaruh agama di tengah masyarakat adalah gagasan cemerlang. Agama adalah anugerah Ilahi yang mengalirkan sejuta kebaikan bagi setiap masyarakat yang mendapatkan anugerah ini. Tentunya, berinteraksi dengan kalangan pemuda adalah pekerjaan yang penuh tantangan namun hasilnya sangat baik.

Ada banyak titik persamaan antara Islam dan Nasrani atau bahkan antara Islam dan berbagai agama lainnya. Berbagai titik persamaan dapat dikaji dalam dialog dwipartit Islam dan Nasrani atau dialog multipartit Islam dengan agama-agama lain. Kalaupun pandangan Islam dan Nasrani tidak dapat didekatkan, tapi setidaknya akan dapat dikenali berbagai titik temu antara keduanya. Dialog bukan dalam rangka membuktikan kebenaran satu agama dan kebatilan agama yang lain, tetapi dalam rangka mencari titik persamaan, khususnya yang bersangkutan dengan berbagai persoalan dalam kehidupan manusia.



Kebebasan di Mata Islam dan Nasrani

Kebebasan adalah bagian dari isu kemanusiaan yang selalu ada sepanjang zaman. Apakah yang dimaksud kebebasan dan seberapa luas ruang lingkupnya? Agama berbicara banyak hal tentang ini, dan ini merupakan salah satu tema yang dapat disorot bersama oleh Islam dan Nasrani. Dalam hal ini kita menyaksikan adanya ifrath dan tafrith (dua sisi sikap ekstrim, pent). Di satu sisi, kehidupan umat manusia terusik oleh keberadaan para diktator dan unsur-unsur terbuka maupun terselubung yang merampas kebebasan masyarakat dalam berbagai bidang. Di sisi lain, ada pula kecenderungan yang mendorong manusia untuk hidup bebas tanpa batas. Di mata semua agama, dua fenomena ekstrim ini sama-sama menyimpang. Islam dan Nasrani sama-sama menolak dua fenomena tersebut. Salah satu tugas utama setiap orang yang peduli kepada nasib umat manusia dan generasi muda ialah memerangi dekadensi moral dan perilaku tanpa batas yang kian hari kian merajalela di dunia. Dalam hal ini, tentu berat tugas yang harus diemban oleh institusi keagamaan Nasrani di Eropa. Ada tangan-tangan kuat yang terus bergerilya memarakkan perilaku asusila. Karena itu, sudah selayaknya lembaga-lembaga gereja berpengaruh, khususnya Katolik, melawan fenomena yang notabene laten ini dengan serius dan rasional. Jika ini mereka lakukan, maka masyarakat di banyak negara non-Eropa akan sangat berterima kasih kepada mereka, sebab sebagian fenonema kebejatan moral menyebar dari satu tempat ke tempat lain.



Membela Keadilan dan Kaum Tertindas

Jika agama terlibat dalam perjuangan membela keadilan dan kaum tertindas, akan banyak daya tarik agama yang teraktivasi. Di manapun, para pemuda sangat antusias terhadap gerakan pro-keadilan. Agama mengajarkan keadilan. Para kampiun keadilan di dunia tak lain adalah figur-figur agamawan. Nabi Isa al-Masih sepanjang hayatnya berjuang demi keadilan. Begitu pula Nabi Besar Muhammad Saw. Para pemuka Nasrani di awal-awal masanya juga banyak berkorban demi tegaknya keadilan. Teks-teks suci agama, baik Taurat, Injil maupun AlQuran, sangat menekankan upaya penegakan keadilan. Jika isu pro-keadilan sekarang juga dikumandangkan oleh para agamawan Nasrani maupun Muslim, maka ini menjadi daya tarik yang luar biasa. Kaum Yahudi yang beriman kepada Taurat –bukan Zionis, sebab Zionis tidak memiliki keimanan apapun- juga merupakan umat yang mendambakan keadilan.



Urgensi Hubungan Dengan Tuhan Bagi Kehidupan Manusia

Manusia tidak akan bisa hidup normal tanpa ada hubungan dengan Tuhan-nya. Contohnya adalah masyarakat komunis. Semua gereja tiba-tiba disesaki umat ketika sistem Marxisme yang ateis kehilangan kekuatannya di Uni Soviet. Padahal, kaum Marxis mengira rakyat sudah tidak mungkin lagi mendatangi gereja karena Marxisme sudah 70 mengkampanyekan ateisme. Inilah kesalahan fatal mereka. Masyarakat tetap berduyun-duyun menuju gereja walaupun sudah 70 tahun mereka diasingkan dari agama. Jika sekarang Anda ke Rusia atau negara-negara Eropa Timur, Anda akan menyaksikan betapa gereja kini sudah padat jemaat. Gerakan rakyat Polandia melawan Marxisme pada prinsipnya adalah gerakan agamis Nasrani.



Spiritualitas, Titik Temu Semua Agama


Meskipun dalam banyak hal berbeda, semua agama ketuhanan tetap memiliki berbagai titik temu. Salah satu titiknya yang terpenting adalah besarnya perhatian semua agama itu kepada spiritualitas. Agama membangkitkan kesadaran manusia bahwa realitas tidak terbatas pada fenomena yang tersadap dengan perangkat inderawi. Agama menyadarkan mereka bahwa di balik semua fenomena terdapat hakikat yang jauh lebih besar dan nyata.

Sekarang spiritualitas di dunia sudah dirasakan sebagai sesuatu yang memang eksis. Sayangnya, arus yang lebih kuat justru bergerak ke arah yang berlawanan. Karena itu, sudah cukup untuk disebut sebagai satu pengabdian besar jika umat beragama berusaha melawan arus tersebut semampunya. Di sinilah Islam dan Nasrani bisa bertemu. Dialog antarpemuka agama sudah seharusnya difokuskan pada masalah ini. Agama-agama sejati tentu tidak menganjurkan masyarakat menjauh dari usaha-usaha duniawi. Agama hanya memberikan pengertian kepada umat manusia bahwa semua kegiatan duniawi bisa diarahkan sebagai bagian dari proses pendakian spiritual. Karena itu, agama menuntun jiwa mereka kepada hakikat nan cemerlang. Mengabaikan hakikat ini sama dengan menjerumuskan diri sendiri kepada kebinasaan total. Manusia masa kini sudah terlampau mengabaikan hakikat ini. Kolosalitas gerakan materialisme di seluruh belahan dunia telah menyebabkan manusia terbius dan hilang kesadaran.



Benturan Antara Nasrani dan Islam

Benturan antara Nasrani dan Islam sesungguhnya tidak ada dan tidak akan pernah ada. Jika yang dimaksud dengan benturan antara Islam dan Nasrani ialah konflik antara negara yang bangsanya memeluk Islam di satu pihak dan negara yang bangsanya memeluk agama Nasrani di pihak lain, maka harus diingat bahwa konflik seperti ini tidak lebih besar dari konflik antarnegara yang penduduknya sama-sama beragama Nasrani. Dengan rasa prihatin harus diakui bahwa ambisi perang memang ada di tengah pergaulan antarbangsa. Dan patut diakui pula bahwa dalam 70 tahun terakhir ini dunia Nasrani telah dilanda dua peperangan yang dampaknya juga menerjang umat Islam.

Persatuan yang diserukan oleh pemerintahan Republik Islam kepada umat Islam dimaksudkan bukan untuk berkonfrontasi dengan umat Nasrani atau agama dan bangsa-bangsa lain, melainkan untuk melawan kaum agresor dan ambisius perang, menegakkan norma-norma etika, menghidupkan rasionalitas dan keadilan Islami, menggalang kemajuan di bidang sains dan ekonomi, dan membangkitkan lagi kehormatan Islam. Pemerintahan Republik Islam mengingatkan kepada khalayak dunia bahwa ketika Baitul Maqdis berada di tangan umat Islam di era Khulafa’ Rasyidin, umat Nasrani dan Yahudi bisa hidup dengan aman dan tentram. Namun, ketika Baitul Maqdis diduduki oleh kaum Zionis atau Kristen-Zionis, darah umat Islam tiba-tiba dipandang halal untuk ditumpahkan!!



Agama Rahmat dan Kasih Sayang

Islam tidak memerangi agama-agama lain. Islam adalah agama yang ketika berkuasa di wilayah non-Muslim, para pemeluk agama-agama lain di sana justru mengapresiasi Islam sebagai agama yang membawa rahmat. Mereka menilai penguasa Muslim lebih santun dan ramah daripada penguasa-penguasa sebelumnya. Ketika prajurit Islam membebaskan kawasan Syam, umat Yahudi maupun Nasrani di sana mengakui keramahan umat Islam kepada masyarakat. Islam memang agama rahmat dan kasih sayang; rahmatan lil’alamin (pembawa rahmat bagi semesta alam). Kepada umat Nasrani Islam berkata;

تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

“… marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian.” (QS.3.64)

Islam mengindahkan berbagai persamaan dan titik temunya dengan Nasrani. Islam tidak memelihara kebencian terhadap bangsa dan agama lain. Islam hanya menekankan perlawanan terhadap penindasan, kezaliman, antagonisme, dan ambisi-ambisi kotor. Namun, realitas ini diputar balik oleh kaum ambisius, tiran, dan arogan. Mereka mendistorsinya di depan masyarakat dunia dengan mengerahkan segenap fasilitas propagandanya, termasuk lembaga Hollywood dan lembaga-lembaga pemberitaan, serta senjata dan kekuatan militer.



Bab Ketiga: Nasrani di Era Modern

Ajaran Nasrani di Tengah Kita


Seandainya Nabi Isa al-Masih as sekarang ada di tengah kita, sudah pasti beliau tidak pernah kendur berjuang melawan para penindas dan kekuatan-kekuatan arogan dunia. Beliau pasti tidak akan tahan menyaksikan milyaran manusia kelaparan dan terlantar akibat ulah kekuatan-kekuatan raksasa yang membawa mereka ke arah perang, korupsi, dan kebuasan.



Inflitrasi Kaum Imperialis

Salah satu misi imperialisme di dunia ialah membasmi ideologi pengharapan dan spirit perjuangan di hati masyarakat. Mereka sudah berkali-kali berusaha memadamkan pelita ini tapi selalu gagal. Usaha mereka gencar bukan hanya di Iran, tapi juga di seluruh bagian Dunia Islam. Sudah cukup lama terbetik laporan serius bahwa kelompok-kelompok misionaris berdatangan dari Eropa ke wilayah utara Afrika dengan tujuan melicinkan misi para imperialis. Para pendeta berdatangan ke berbagai kawasan terpencil Afrika dan menetap di sana selama bertahun-tahun. Untuk apa? Mengapa Kristenisasi suku-suku di Afrika sedemikian mereka perlukan? Semua sudah mengetahui bahwa mereka sebenarnya adalah corong kaum imperialis. Tugasnya adalah mengkristenkan penduduk pribumi agar para imperialis bisa menggarap rencana-rencananya di sana dengan mulus. Para pendeta itu bukannya tidak mengetahui apa yang mereka lakukan di sana. Tapi coba perhatikan; demi tujuan ini mereka sudi hidup bersusah payah; hal yang sama sekali tidak dapat ditukar dengan harta. Di situ bahkan ada orang yang bersedia tinggal tujuh tahun, misalnya, di tempat yang dihuni oleh manusia-manusia kanibal! Ini terungkap dan tergambarkan di berbagai literatur, laporan, film, dan karya-karya roman. Saya mengetahui apa yang dilakukan oleh para imperialis selama ini.

Salah satu masalah yang paling dikeluhkan umat beragama di dunia ialah tindakan para penguasa di negara-negara Nasrani menjadikan agama sebagai kemasan untuk mengusung imperialismenya. Kelompok-kelompok misionaris menjadikan ajaran yang secara lahiriah Nasrani sebagai kedok untuk melicinkan ambisi para imperialis Eropa. Mereka mendatangi negara-negara Islam dan berbagai negara dunia lainnya kemudian mencengkeram kekuatan politik di sana. Naifnya, usaha mereka ini berhasil di banyak negara.



Berakhirnya Era Keagamaan dan Dimulainya Era Sains

Di Eropa, bermulanya kebangkitan sains identik dengan berakhirnya era keagamaan. Konon demikian dan bisa jadi memang demikian. Sebab, ajaran keagamaan di lingkungan Nasrani sarat dengan khurafat, fanatisme, dan bertolak belakang dengan ilmu pengetahuan. Kondisi ketika di Eropa seorang ilmuwan dihukum penjara, cambuk atau bahkan dibakar karena menghasilkan temuan ilmiah jauh berbeda dengan kondisi kita sekarang. Sebagaimana tergambar jelas dalam literatur dan sejarah perkembangan sains di Barat, selama sekian abad ilmuwan dipandang sebagai penyihir yang layak dihukum bakar. Akibatnya, agama dipandang nista dan diperangi habis-habisan ketika sains berhasil menemukan pengaruh dan kekuatannya di tengah masyarakat. Dan era keagamaanpun berakhir. Ini wajar terjadi.

Agama yang diberontak oleh para intelektual Eropa memang tidak sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat. Agama demikian, yaitu ajaran yang telah menghukum mati ilmuwan Galileo dan para ilmuwan yang lain, jelas berbau khurafat. Dosa mereka adalah menghasilkan temuan ilmiah! Ajaran ini jelas bukan ajaran Nasrani yang sesungguhnya. Jadi yang patut dipersoalkan memang bukan pemberontakan sains terhadap agama, melainkan perlawanan terhadap tindakan yang memisahkan sisi spiritualitas dan etika dari sains, politik, tatanan hidup dan pergaulan individual dan sosial.



Ketidak Berimanan Kepada Al-Masih

Sekarang tak perlu disangsikan lagi bahwa doktrin keagamaan yang terkemas dalam demokrasi dan HAM bukanlah faktor yang mendorong ambisi mayoritas –kalau bukan semuanya- penguasa Barat. Polos sekali jika kita menduga bahwa semangat kekerasan yang menghasilkan pembantaian umat Muslim Bosnia oleh milisi Serbia dan pembantaian umat Islam di kawasan-kawasan lain bersumber pada keimanan al-Masih. Orang-orang yang gigih memusuhi Islam dan alergi terhadap segala bentuk gerakan kaum Muslim sama sekali tidak beriman kepada ajaran al-Masih yang sesungguhnya. Mereka hanya beriman kepada doktrin monopoli kekuasaan dan kepentingan, hawa nafsu, dan kebenciannya yang meluap-luap kepada siapapun yang berani mengusik ambisi mereka! Celakanya, tangan mereka yang sudah berlumur darah itu berhasil menjalankan skenario Nasrani versus Islam. Padahal semangat permusuhan terhadap Islam muncul hanya dari luapan ambisi mereka sendiri.



Anti Spiritualitas

Di tengah kehidupan dunia yang sudah bercorak materialisme ini, pemerintahan Republik Islam Iran berdiri justru dengan basis spiritualitas. Inilah yang patut diperhatikan terlebih dahulu sebelum menyorot soal apakah pemerintahan itu Islami atau Nasrani. Yang penting adalah terkikisnya arus yang menggiring masyarakat dunia, tak terkecuali kalangan agamawan ke arah kontra-spiritualitas! Agamawan memang tak luput dari arus despiritualisasi. Sebuah geraja, misalnya, bisa terpaksa disiasati sedemikian rupa agar memiliki daya tarik di mata kaum remaja dengan cara membuat event-event hiburan seperti disko. Umat Nasrani mestinya sulit membayangkan betapa keadaan sudah sedemikian runyam sehingga event-event seperti itu bisa diadakan oleh seorang pastur!

Seorang penulis kesohor Arab dalam sebuah karya tulisnya mengatakan, “Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri seorang pastur ada di sebuah acara disko di tengah pasangan muda mudi laiknya seorang event organizer. Dia memperhatikan apakah penerangan, misalnya, sudah cukup sesuai atau tidak dengan suasana acara. Dia sendiri yang menata lampu dan mengatur pencahayaan agar tidak terlalu terang. Kemudian dia menyuruh pelayan gereja supaya semua pintu ditutup setelah para pengunjung bubar. Setelah itu dia baru bisa beristiarahat.”

Penulis Arab tadi menambahkan, “Esok atau lusanya saya mendatangi gereja dan bertanya; ‘Tuan Pastur, kondisi sepertinya sudah sedemikian berubah?’ Pastur menjawab, ‘Bukan begitu, ini adalah cara kami menyiasati para pemuda supaya tertarik datang ke gereja. Bukankah Anda sudah melihat bagaimana muda-mudi berdatangan ke gereja?!’”

Kisah ini menggambarkan adanya arus penjauhan dari spiritualitas yang bahkan menerpa kalangan agamawan. Bukankah pendeta tadi adalah rohaniwan Nasrani?! Contoh-contoh serupa juga ada pada kalangan agamawan Islam, baik Syiah maupun Sunni. Di tengah momen historis sedemikian rupa, peristiwa spektakuler tiba-tiba terjadi; sebuah negara berbasiskan spiritualitas berdiri. Pemerintahan ini mengkampanyekan norma-norma spiritual dan menjadikannya sebagai asas dalam menjalankan pemerintahan, menentukan perang atau damai, menyusun anggaran, dan membuat kebijakan politik. Mungkin bisa dikatakan bahwa sistem pemerintahan seperti ini hanya pernah ada pada penggalan-penggalan kecil sejarah. Rezim-rezim teokratis dengan konsepsi masing-masing tentang pemerintahan teokratis tentu selalu ada di berbagai belahan dunia, terutama di dunia Nasrani. Namun, sistem dan pemerintahan Islam Iran berbeda dengan semua itu. Sebab yang ditampilkan oleh rezim-rezim tersebut bukanlah kedaulatan nilai-nilai agama dan spiritual, melainkan kekuasan sosok agamawan.


Ketidakpedulian Gereja Terhadap Isu Keadilan

Institusi-institusi kegamaan Nasrani sekarang boleh dikata tidak peduli kepada persoalan yang paling krusial bagi umat manusia. Ketidak-adilan kini sedang melanda dunia, tapi apa yang diperbuat oleh kalangan Nasrani untuk menghadapi fenomena ini? Mereka meneriakkan slogan perdamaian! Slogan perdamaian tentu saja sangat menarik bagi umat manusia, tapi ini saja masih belum cukup. Slogan perdamaian harus dibarengi dengan slogan keadilan. Manusia sekarang terbelenggu oleh ketidak-adilan. Ada kekuatan-kekuatan besar sedang menindas berbagai bangsa dan umat manusia. Orang-orang Eropa mengumandangkan slogan perdamaian, padahal mereka sendirilah yang mengobarkan berbagai peperangan besar.

Sekarang sudah puluhan tahun tidak ada perang seperti itu, tapi isu perdamaian mereka jadikan pretensi. Padahal, yang dibutuhkan oleh umat manusia sekarang adalah keadilan. Tragisnya, slogan keadilan tidak pernah meluncur dari gereja dan dari lisan Paus. Kalangan gereja hanya menonton dan membiarkan apa yang terjadi! Pemerintahan Islam di Iran sama sekali tidak bisa menerima sikap gereja tersebut terhadap arogansi Barat. Tanggungjawab gereja jauh lebih besar dari sekedar mengkampanyekan perdamaian. Saya sudah melayangkan pesan kepada Paus supaya mengedepankan isu keadilan. Semua agama sekarang harus mengedepankan pesan penegakan keadilan, yaitu pesan utama Nabi Musa as, Nabi Isa as, dan Nabi Besar Muhammad Saw.



Dampak Keterjauhan Dari Ajaran al-Masih as

Orang-orang Eropa dan terlebih lagi orang-orang AS berminat pada agama, label-label agama, dan cover-cover keagamaan. Namun, perilaku mereka memperlihatkan kedangkalan dalam mempersepsikan agama. Mereka tidak melihat adanya kontradiksi antara pengharapan mereka kepada al-Masih atau Bunda Maria, misalnya, dengan berbagai perilaku amoral dan maksiat yang biasa mereka lakukan. Kemudian, doktrin permohonan mereka juga tidak berlandaskan argumentasi-argumentasi logis. Doktrin Nasrani –sesuai yang umum- didasarkan pada kecintaan dan perdamaian. Tapi Barat sendiri ternyata paling banyak dilanda perang, kekerasan, pengkhianatan, dan kriminalitas. Padahal di saat yang sama di sana terdapat keyakinan kepada doktrin Nasrani. Ini lantas menandakan bahwa sekularisme memang sudah menjadi fondasi peradaban di sana.

Sesuai data mereka sendiri, usia rata-rata pecandu narkoba di sana terus menurun; dari yang semula 17 tahun turun menjadi 15 tahun dan kini anjlok ke usia 13 tahun! Rasio yang sama terjadi pada kasus-kasus kriminal dan apatisme terhadap keluarga, ayah, ibu dan tradisi. Ini adalah akibat dari sekularisme. Sebenarnya tidak mustahil manusia menemukan energi atom, misalnya, tapi tidak menggunakannya untuk membuat senjata pemusnah massal. Ini tidak mustahil seandainya orang-orang yang menguasai sains di bidang ini patuh kepada norma-norma etika, menjaga keimanannya kepada agama. Tapi mereka tidak demikian sehingga naiflah apa yang mereka suguhkan kepada bangsa-bangsa dunia. Sudah sekitar setengah abad silam bom atom diciptakan kemudian diledakkan, tapi sampai sekarang keberadaan bom ini masih sangat dan semakin meresahkan. Tidak ada kemungkinan keresahan ini akan menurun.

Beberapa waktu lalu sebuah lembaga Nasrani dunia mengumumkan data bahwa pada abad terakhir ini, jumlah warga Nasrani yang menjadi korban pembunuhan telah mencetak rekor. Saya lantas ingin bertanya kepada pihak yang mengajukan data ini; siapa yang membunuhi warga Nasrani itu? Apa orang Islam yang membunuh mereka? Apakah umat Budha? Atau pembunuhnya adalah orang-orang Nasrani sendiri?! Siapa yang membunuh penduduk Eropa dalam Perang Dunia I dan Perdang Dunia II? Mereka dibantai oleh orang-orang Nasrani sendiri, orang-orang Eropa dan Barat sendiri. Dan banyak pula warga non-Nasrani dan non-Barat yang tewas di tangan mereka!

Kondisi minus spiritualitas menimbulkan akibat yang sangat fatal dan tak berkesudahan untuk umat manusia. Pemerintah Republik Islam bercita-cita menampilkan sebuah generasi teladan yang dapat membuktikan kepada dunia bahwa generasi ini mampu menguasai sains dan teknologi serta memanfaatkan anugerah Ilahi di alam semesta dan dalam diri manusia sendiri ini secara maksimal meskipun mereka adalah generasi masyarakat yang salih dan berkomitmen kepada norma-norma etika dan spiritual.



Klaim Bohong

Banyak orang mengaku sebagai pengikut al-Masih as, tapi dalam praktiknya mereka tidak demikian. Isa al-Masih as menggiring manusia kepada penghambaan kepada Allah Swt serta mengajarkan kepada mereka perlawanan terhadap para Fir’aunis. Namun, sekarang tak sedikit orang yang mengaku sebagai pengikut beliau justru berada di posisi para Fir’aunis yang diperangi oleh beliau. Kekuatan-kekuatan besar sering mengesankan diri mereka sebagai kaum yang beriman kepada ajaran al-Masih as. Namun, makna ajaran al-Masih as sebagai sebuah agama ketuhanan dan etika tidak pernah dimengerti oleh para gembong kekuatan politik yang dominan di kalangan yang selama ini gemar menebar kezaliman, arogansi, agresi dan kejahatan. Semua itu dilakukan dengan mengerahkan kehebatan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sekarang ada di tangan pihak-pihak yang buta akan nilai-nilai kemanusiaan. Sains dan teknologi mereka gunakan untuk tujuan-tujuan yang sepenuhnya merugikan masyarakat manusia dan hanya menguntungkan para pemodal, para penimbun kekayaan, dan para imperium.



Bab Keempat: Republik Islam Iran dan Warga Minoritas Nasrani

Pengaruh Revolusi Islam di Dunia Nasrani

Revolusi kita bukan hanya mengalirkan spirit umat Islam untuk kembali kepada Islam, tetapi juga membuahkan pengaruh positif untuk kalangan Nasrani. Terimbas oleh pengaruh revolusi Islam, masyarakat berbagai negara yang sekian lama terasing dari agamanya, Nasrani, akhirnya ikut bersemangat untuk kembali kepada spiritualitas dan agama. Kondisi ini menjadi satu pendahuluan bagi kehancuran imperium Timur dan konstruksi doktrin marxisme di dunia. Ini adalah peristiwa yang amat menakjubkan dan sangat fenomenal. Kemudian, posisi Republik Islam Iran juga terangkat oleh kedahsyatan resistensinya terhadap kekuatan-kekuatan raksasa yang lahir dari rahim doktrin materialisme, yaitu doktrin yang sama sekali tidak apresiatif terhadap etika, spiritualitas, dan agama.



Kerukunan Hidup di Iran

Pemerintahan Republik Islam Iran ada di sebuah negara yang memang terhiasi oleh kerukunan hidup antarumat beragama. Umat Yahudi, Nasrani, Zoroaster, dan Islam bisa hidup berdampingan di bawah pemerintahan Islam. Mereka kooperatif dan ikut berkiprah dalam pemerintahan. Karena itu, tentu ada kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh pemerintahan Islam terhadap mereka. Pemerintahan Islam tidak pernah mengeluhkan perilaku warga minoritasnya. Bahkan, ketika musuh-musuh Republik Islam mencoba mengusik Iran dengan isu penindasan warga Yahudi, ternyata warga Yahudi sendiri angkat bicara membela pemerintahan Islam Iran. Ketika hal serupa terjadi berkenaan dengan warga Nasrani, pembelaan terhadap Republik Islam juga dilakukan warga Kristen Armenian dan beberapa sekte Nasrani lainnya. Semua ini jelas merupakan kebanggaan bagi Republik Islam.


Warga Minoritas Nasrani Iran

Berikut ini adalah Pesan Rahbar Dalam Pertemuan Dengan Uskup Agung Kristen Armenian dan Para Wakil Rakyat Armenian di Majelis Shura Islam;

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kami merasa bahagia atas kesejahteraan, ketentraman, dan kebahagiaan saudara-saudara kami setanah air dari kalangan Nasrani, begitu pula atas adanya sebagian dari mereka yang ikut mengabdi kepada negara. Ini sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Kita sama-sama menghendaki warga penganut agama minoritas di negeri kita ini, baik Nasrani, Yahudi, maupun Zoroaster, ikut menikmati keamanan, ketenteraman, dan semua haknya sebagai warga negara. Dan –alhamdulillah- harapan ini terpenuhi.

Kami juga perlu menyampaikan apresiasi kami atas simpati dan duka cita saudara-saudara yang mulia atas bencana gempa bumi Bam, walaupun simpati Anda ini memang sudah sewajarnya. Di era Perang Pertahanan Suci selama delapan tahun pun warga Kristen Armenian Iran juga ikut berkiprah besar di bidang logistik dan teknis, sebab warga Armenian di Tehran maupun di tempat-tempat lain banyak yang mahir di bidang teknik. Bahkan sejak sebelum kemenangan revolusi Islam, saya sendiri tahu persis kemahiran warga Armenian di bidang teknik semisal teknik otomobil. Saat kita dilanda perang, mereka datang kepada kami dan menyatakan siap memainkan peranan.

Sekitar tahun 1359 – 1360 (1980-1981) mereka bergegas ke Ahvaz dan mendirikan kamp-kamp di sana. Saya sempat meninjau kamp-kamp mereka. Di kesempatan lain ketika saya berada di Tehran saya didatangi sekitar 100 orang warga Armenian yang menyatakan keinginannya untuk ikut berperang. Mereka minta dikirim ke medan laga. Saya lantas menginstruksikan supaya mereka diberangkatkan dengan pesawat terbang. Karena itu, bukanlah sesuatu yang mengejutkan ketika Anda turut berbelasungkawa atas tragedi Bam.

Saya tentu menjalin hubungan silaturahim sebaik dan sedekat mungkin dengan keluarga-keluarga Armenian dan Ashuri di Tehran yang telah ikut mempersembahkan anggota keluarganya sebagai martir di medan pertempuran. Saya memahami kebaikan hati dan jiwa mereka. Semoga Allah memberi kita kemampuan bergerak di jalan yang benar. Semoga Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang dan petunjuk-Nya kepada kita semua. Salam sejahtera saya untuk segenap warga Armenian atas tibanya tahun baru dan hari raya kelahiran Al-Masih as.



Kecintaan dan Kedekatan

Saya bersimpati dan merasa dekat dengan warga Armenian Iran. Kami bersimpati kepada umat Nasrani. Sepanjang era revolusi dan perang, mereka telah banyak membantu kami. Anda tentu mendengar kiprah mereka, tapi saya mengetahuinya dari dekat. Di berbagai medan pertempuran saya sering berjumpa dengan prajurit Armenian Iran yang ikut berjuang membantu kami di tengah kecamuk serangan bom dan peluru musuh. Tentunya yang saya maksud adalah mereka yang datang ke medan perang secara sukarela bukan karena kewajiban militer.

Kami memperlakukan warga penganut agama minoritas di Iran seperti saudara-saudara kami yang lain. Karena itu kami juga bersilaturahim ke rumah-rumah mereka tanpa terbersit pikiran bahwa mereka berbeda agama dengan kami atau bahwa mereka tidak menerima ajaran Islam. Saya sendiri biasanya setiap tahun selalu bertamu ke rumah-rumah keluarga para martir kita dari kalangan Nasrani, baik dari aliran Ashuri maupun aliran Armenian. Saya duduk beramah tamah dengan putera-puteri dan isteri para martir dan menikmati jamuan mereka.