Minggu, 02 Agustus 2009

Doa Ziarah Nabi saw

بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على محمد وآل محمد

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ اللهِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا خَاتَمَ النَّبِيِّينَ


Assalâmu ‘alayka yâ Rasûlallâh
Assalâmu ’alayka yâ Nabiyallâh
Assalâmu ’alayka yâ Muhammadabna ‘Abdillâh
Assalâmu ’alayka yâ Khâtaman Nabiyyîn

Salam atasmu ya Rasulallah
Salam atasmu ya Nabiyallah
Salam atasmu wahai penutup para Nabi


اَشْهَدُ اَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ، وَاَقَمْتَ الصَّلاةَ، وَآتَيْتَ الزَّكَاةَ، وَاَمَرْتَ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهَيْتَ عَنِ الْمُنَكَرِ، وَعَبَدْتَ اللهَ مُخْلِصًا اَتَاكَ الْيَقِينُ، فَصَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ وَعَلَى اَهلِ بَيْتِكَ الطَّاهِرِينَ

Asyhadu annaka qad balaghtar risâlah, wa aqamtash shalâta wa ataytaz zakâh, wa amarta bima’rûfi wa nahayta ‘anil munkar, wa ’abadtallâha mukhlishan hattâ atâkal yaqîn, fashalawâtullâhi ‘alayka wa rahmatuhu wa ’alâ ahli baytikath thâhirîn.

Aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, telah melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, telah menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Engkau beribadah dan mengabdi kepada Allah dengan tulus-ikhlas sehingga engkau dipanggil ke hadirat-Nya. Semoga shalawat dan rahmat Allah senantiasa tercurahkan kepadamu dan keluargamu yang suci.

Kemudian jika memungkinkan: berdirilah di sisi Usthuwanah Al-Muqaddasah (tiang suci) di sebelah kanan kubur Nabi saw, menghadap ke kiblat dan dalam posisi bahu kanan Anda lurus dengan mimbar. Di sinilah letak kepala Rasulullah saw. Lalu membaca:

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّكَ رَسُولُ اللهِ، وَاَنَّكَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ

Asyhadu allâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasûluh. Wa asyhadu annaka Rasulullâh, wa annaka Muhammabnu ‘Abdillâh.

Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Aku bersaksi engkau adalah Rasul Allah, dan engkau adalah Muhammad bin Abdillah.

وَاَشْهَدُ اَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ رِسَالاَتِ رَبِّكَ، وَنَصَحْتَ لاُمَّتِكَ، وَجَاهَدْتَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَعَبَدْتَ اللهَ حَتَّى اَتَاكَ الْيَقِينُ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ، وَاَدَّيْتَ الَّذي عَلَيْكَ مِنَ الْحَقِّ

Wa asyhadu annaka qad ballaghta risâlâti Rabbika, wa nashahta liummatika, wa jahadta fî sabîlillâh, wa ’abadtallâha hattâ atâkal yaqîn, bilhikmati wal maw’izhatil hasanah, wa addaytal ladzî ‘alayka minal haqq.

Aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan seluruh risalah Tuhanmu dan menasehati ummatmu dengan bijaksana dan nasehat yang baik. Engkau telah berjuang di jalan Allah dan mengabdi kepada Allah dengan tulus-ikhlas sehingga engkau dipanggil ke hadirat-Nya, dan engkau telah menyampaikan kebenaran yang ada padamu.

وَاَنَّكَ قَدْ رَؤُفْتَ بِالْمُؤْمِنِينَ، وَغَلُظْتَ عَلَى الْكَافِرِينَ، فَبَلَّغَ اللهُ بِكَ اَفْضَلَ شَرَفِ مَحَلِّ الْمُكَرَّمِينَ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذي اِسْتَنْقَذَنا بِكَ مِنَ الشِّرْكِ وَالضَّلاَلَةِ

Wa annaka qad raufta bilmu’minîna wa ghaluthta ‘alal kafirîn, faballaghallâhu bika afdhala syarafi mahallil mukarramîn. Alhamdulillâhil ladzistanqadzanâ bika minasy syirki wadh dhalâlah.

Aku bersaksi bahwa engkau menyayangi orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir. Sehingga Allah menganugrahkan padamu kedudukan yang paling mulia yang pernah dicapai oleh orang-orang yang dimuliakan. Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami denganmu dari kemusyrikan dan kesesatan.

اَللَّهُمَّ فَاجْعَلْ صَلَوَاتِكَ، وَصَلَوَاتِ مَلاَئِكَتِكَ الْمُقَرَّبيِنَ، وَاَنْبِيَآئِكَ الْمُرْسَلِينَ، وَعِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَاَهْلِ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرَضِينَ، وَمَنْ سَبَّحَ لَكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ مِنَ اْلاَوَّلِينَ وَاْلاَخِرِينَ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوِلِكَ وَنَبِيِّكَ وَاَمِينِكَ وَنَجِيِّكَ وَحَبِيبِكَ وَصَفِيِّكَ وَخَآصَّتِكَ وَصَفْوَتِكَ وَخِيَرَتِكَمِنْ خَلْقِكَ

Allâhumma faj’al shalawâtika wa shalawâti Malâikatikal muqarrabîna wa Anbiyâikal mursalîna wa ’ibâdikash shâlihîn, wa ahlis samâwâti wal aradhîn, waman sabbaha laka yâ Rabbal ‘âlamin, minal awwalîna wal-âkhirîna ‘alâ Muhammadin ‘abdika wa Rasûlika wa Nabiyyika, wa amînika wa najjîka, wa shafiyyika wa khâshshatika, wa shafwatika wa khiyaratika min khalqik(a).

Ya Allah, sampaikan (shalawat-Mu, shalawat para Malaikat muqarrabin, shalawat para para nabi dan rasul, shalawat hamba-hamba-Mu yang shaleh, shalawat seluruh penghuni langit dan bumi, shalawat seluruh makhluk-Mu yang senantiasa bertasbih kepada-Mu dari dahulu hingga belakangan ya Rabbal ‘alamin) kepada Muhammad hamba-Mu, Rasul-Mu dan Nabi-Mu, kepercayaan-Mu dan pengemban amanat-Mu, kekasih-Mu dan pilihan-Mu, keistimewaan-Mu dan pilihan-Mu dari seluruh makhluk-Mu.

اَللَّهُمَّ اَعْطِهِ الدَّرَجَةَ الرَّفِيعَةَ، وَآتِه الْوَسِيلَةَ مِنَ الْجَّنَةِ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوداً يَغْبِطُهُ بِهِ اْلاَوَّلُونَ وَاْلاَخِرُونَ

Allâhumma a’thihid darajatar rafî’ah, wa âtihil wasîlata minal jannati, wab’atshu maqâman mahmûdâ, yaghbithuhu bihil awwalûna wal âkhirûn.

Ya Allah, anugrahkan kepadanya derajat yang mulia, jadikan beliau wasilah menuju surga. Karuniakan kepada beliau kedudukan yang terpuji yang menjadi keinginan orang-orang terdahulu dan belakangan.

اَللَّهُمَّ اِنَّكَ قُلْتَ: وَلَوْاَنَّهُمْ اِذْ ظَلَمُوا اَنْفُسَهُمْ جَاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّاباً رَحِيْمًا

Allâhumma innaka qulta: “Walaw annahum idz zhalamû anfusahum jâuka fastaghfarullâha wastaghfara lahumur Rasûlu lawajadullâha Tawwâbar Rahîmâ.”

Ya Allah, Engkau berfirman: “Sekiranya mereka ketika menganiaya dirinya (berbuat dosa) mereka datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka dapati Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Menyayangi.” (An-Nisa’: 64).

وَاِنِّي اَتَيْتُكَ مُسْتَغْفِرًا تَائِباً مِنْ ذُنُوبِي، وَاِنِّي اَتَوَجَّهُ بِكَ اِلَى اللهِ رَبّي وَرَبِّكَ لِيَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي

Wa innî ataytuka mustaghfiran tâiban min dzunûbî, wa innî atawajjahu bika ilallâhi Rabbî wa Rabbika liyaghfiralî dzunûbî.

Duhai Nabi Allah, aku datang kepadamu sebagai orang yang mengharap pengampunan dan taubat dari dosa-dosaku. Denganmu aku menghadap kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu agar Dia mengampuni dosa-dosaku.

اَسْاَلُ اللهَ الَّذي اجْتَبَاكَ وَاخْتَارَكَ وَهَدَاكَ وَهَدَى بِكَ اَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْكَ. اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّ يَا اَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

As-alullâhal ladzijtabâka wakhtâraka wa hadâka wa hadâ bika ay yushalliya ‘alayka. Innallâha wa malâikatihi yushallûna ‘alan nabiyyi. Yâ ayyuhal ladzîna âmanû shallû ‘alayhi wa sallimû taslîmâ.

Aku memohon kepada Allah yang telah memilihmu, memberi petunjuk kepadamu dan denganmu memberi petunjuk kepada manusia, agar Dia menyampaikan shalawat kepadamu. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kepadanya dan ucapkan salam kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)

Kemudian membaca shalawat:

اَللّّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد

Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad
Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad

Wassalam
Syamsuri Rifai
http://shalatdoa.blogspot.com

Mutiara Hikmah Imam Husein As #3




Imam Suci Al Husein As berkata : " Ada empat macam saudara, yaitu : Saudara bagimu dan baginya, Saudara bagimu, Saudara atasmu dan Saudara tidak bagimu tidak baginya"

Beliau As menjabarkan lebih lanjut maknanya

"Saudara bagimu adalah saudara yang persaudaraan dengannya dia mengharapkan persaudaraan yang abadi dan tidak mengharapkan kematian saudaranya. Inilah saudara bagimu dan baginya. karena jika persaudaraan itu telah sempurna mereka berdua mengharapkan untuk hidup bersama dan jika persaudaraan ini timbul perselisihan maka berakhirlah persaudaraan

Adapun saudara bagimu adalah saudara yang telah mengeluarkan dirinya dari ketamakan menuju kecintaan. Dia tidak tamak pada dunia, jika dia mencintai persaudaraan, saudara seperti ini akan menghormatimu sepenuhnya.

Saudara atasmu adalah Saudara yang menantikan bencana yang akan menimpa dirimu. Dia menyembunyikan kebahagiaan dan mendustakanmu diantara sanak keluarga. Dia melihatmu dengan tatapan seorang pendengki, maka dari itu ia layak dapat kutukan dari Yang Maha Esa

Sedang saudara yang bukan bagimu dan bukan baginya adalah saudara yang telah dipenuhi hatinya oleh ALLAH oleh kebodohan, maka ia dijauhkan dari rahmatNya. Kamu melihat dia mendahulukan dirinya atas dirimu dan meminta apa yang kamu miliki dengan ketamakan."

{ Mukhtasar Shahifah Huseniyah }

Jumat, 17 Juli 2009

Imam Musa Kazhim as, Figur Kesabaran Ahlul Bait as

Nilai-nilai akhlak dan kemanusiaan yang tertanam pada pribadi Rasulullah Saww dan keluarga sucinya mencerminkan kepribadian agung manusia-manusia suci tersebut. Tak diragukan lagi, Rasulullah Saww dan Ahlul Baitnya adalah penunjuk manusia yang mencari kebahagiaan sejati dan jati diri sebenarnya. Pada hari ini, tepatnya tahun 127 hijriah, salah satu cucu Rasulullah Saww , Imam Musa Al-Kadzim, lahir ke dunia. Kami segenap kru Radio mengucapkan selamat atas hari kelahiran Imam Musa Al-Kadzim as.

Pada masa Imam Musa Al-Kadzim as dipenuhi dengan berbagai peristiwa besar dan kecil. Sikap-sikap Imam Musa as dalam mereaksi berbagai peristiwa tersebut merupakan pelajaran yang berharga bagi ummat Islam. Imam Musa as saat itu hidup ditengah masyarakat yang jauh dari ajaran-ajaran murni Islam. Bahkan para pemimpin saat itu bersikap lalim dan rakus harta. Imam Musa Kadzim as semasa dengan sejumlah para pemimpin Bani Abbas, termasuk Harun. Harun menunjukkan dirinya sebagai orang yang beragama, namun perilakunya sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang yang beragama. Di masa keimamahan atau kepemimpinan Imam Musa Kadzim as selama 35 tahun, beliau menjelaskan sistem politik dan sosial Islam dengan berbagai cara, kepada masyarakat saat itu. Melalui penjelasan tersebut, masyarakat menyadari bahwa perilaku Bani Abbas bertentangan dengan prinsip dan ajaran Islam.

Karena komitmen dan kegigihan dalam menegakkan kebenaran dan melawan kezaliman, Imam Musa Al-Kadzim as bersedia menjalani kepahitan hidup di penjara Dinasti Abbasiah selama bertahun-tahun. Dalam sejarah disebutkan Imam Musa Kadzim as mendekam di penjara selama 14 tahun. Para penguasa saat itu menghendaki Imam Musa supaya menghentikan perlawanan atas kezaliman. Bahkan Dinasti Abbasiah menjanjikan akan memberikan harta yang melimpah setiap bulannya kepada Imam Musa. Namun beliau menolak usulan tersebut dengan menyebutkan ayat 33 surat Yusuf; "Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku."

Menurut Imam Musa Al-Kadzim as, kebatilan tidak akan menghantarkan seseorang ke tujuannnya. Pemerintah-pemerintah lalim tidak dapat menerapkan keadilan. Imam Musa Al-Kadzim as menekankan pentingnya kebenaran, kepada para sahabatnya yang setia, dan berkata," Jagalah dirimu dari kemarahan Allah Swt dan bertakwalah. Sampaikanlah kebenaran tanpa rasa takut, meski kebenaran itu akan melenyapkanmu secara lahiriah. Ketahuilah bahwa kebenaran itu tidak akan menghancurkanmu, tapi malah menyelamatkanmu. Namun lepaskanlah kebatilan, meski hal itu secara lahiriah menyelamatkanmu. Sebab, kebatilan tidak akan menyelamatkanmu, bahkan pada akhirnya akan membinasakanmu."

Dr Muhsen Al-Wairi, seorang dosen, menjelaskan sejarah Imam Musa Kazim as, dan mengatakan, salah satu karakter mulia Imam Musa Al-Kadzim as adalah bersikap kasih sayang dan lembut kepada masyarakat. Imam Musa berkata, "Berkasih sayang dan lembut kepada masyarakat adalah separuh akal." Beliau as juga menekankan, "Akal yang paling tepat adalah akal yang membahagiakan manusia." Dengan demikian, jika landasan perilaku kita kepada masyarakat bertumpu pada kasih sayang, maka kita telah menerapkan akhlak yang juga logis. Sebab, hal itu dapat membahagiakan kita sendiri.

Imam Musa Kadzim as memperlakukan sejumlah masyarakat, khususnya orang-orang yang tertindas dan miskin, dengan rasa kasih sayang dan perhatian yang luar biasa kepada mereka. Siapapun yang datang ke rumah Imam Musa as akan kembali dengan tangan yang tidak kosong dan hati yang berbahagia, baik secara spiritual maupun material. Perilaku Imam yang suka memaaafkan kesalahan-kesalahan seseorang membuat beliau dikenal sebagai peredam kemarahan. Imam Musa Kadzim as berkata, "Kasih sayang membahagiakan kehidupan, memperkokoh hubungan, menumbuhkan harapan dan menghangatkan lingkungan masyarakat."

Imam Musa Kadzim as dalam perlawanan politiknya terhadap para penguasa lalim, mengetahui situasi dan menggunakan kesempatan dengan baik. Sejumlah sahabatnya yang setia mempunyai jabatan di pemerintah dinasti Abbasiah. Mereka membela Imam Musa as dengan berbagai cara. Karena pengaruhnya di tengah pasukan dinasti Abbasiah, Imam Musa as dapat melanjutkan aktivitas politik dan sosialnya. Salah satu sahabat setia beliau as yang mempunyai jabatan penting di pemerintah dinasti Abbasiah adalah Ali bin Yaqtin. Pada suatu hari, Ali bin Yaqthin meminta izin kepada Imam Musa untuk melepas jabatannya di pemerintah. Akan tetapi Imam tidak mengizinkannya. Beliau berkata, "Allah Swt mempunyai wali-wali di tengah penguasa yang lalim. Melalui mereka, Allah Swt melindungi hamba-hambanya yang baik. Sangatlah mungkin bahwa Allah Swt telah menjadikan kamu sebagai perantaranya untuk meredam api fitnah yang dikobarkan para penentang."

Dalam sejarah disebutkan, Ali bin Yaqthin mempunyai hubungan yang terkoordinasi dengan Imam Musa Kadzim as. Ali bin Yaqthin juga melakukan berbagai tindakan untuk membela para pecinta Ahlul Bait as. Di antara langkah-langkah yang dilakukan Ali bin Yaqthin adalah mengirim sekelompok orang yang tertindas untuk melakukan ibadah haji. Dengan cara itu, ia dapat membantu ekonomi kalangan masyarakat yang tertindas. Selain itu, dia juga secara terselubung mengembalikan pajak pemerintah yang diambil dari orang-orang yang lemah.

Agenda yang disusun rapi untuk menghadapi pemikiran yang menyimpang adalah di antara program-program penting Imam Musa Kadzim as. Pada zaman itu, pemikiran anti-ketuhanan dan ideologi yang menyimpang menjamur di berbagai tempat. Dengan berbagai argumentasi logis, Imam Musa Kadzim as menghadapi pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan menjelaskan ajaran yang benar, kepada masyarakat. Aktivitas intelektual dan ilmiah Imam Musa as dilakukan di tengah tekanan kondisi politik saat itu. Dengan penuh kesabaran, Imam Musa as berhasil mempertahankan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Dalam sejarah disebutkan, lebih dari 200 perawi hadis dan pemikir saat itu berguru kepada Imam Musa Kadzim as. Imam Musa benar-benar berupaya meningkatkan intelektualitas masyarakat saat itu. Beliau juga menganjurkan masyarakat supaya menimba ilmu dari sumber yang terpercaya dan meningkatkan keilmuan mereka sehingga tidak terjebak dalam makar orang-orang yang berpikiran batil.

Dinasti Abbasiah juga menyadari bahwa keberadaan Imam Musa as di tengah masyarakat akan melemahkan tonggak-tonggak pemerintah yang lalim. Untuk Itu, Harun Al-Rasyid, penguasa lalim saat itu memenjarakan Imam Musa as dalam kurun waktu yang cukup lama. Namun ketabahan Imam Musa as yang dipenjara selama bertahun-tahun tak membuat pengaruhnya di tengah masyarakat berkurang.

Sebelum kami mengakhiri acara khusus ini, kami akan mengutip perkataan mutiara dari Imam Musa Kazhim as. Beliau berkata, "Selama mempunyai rasa takut atas dosa, menjalankan amanat dan menerapkan kebenaran, penghuni bumi akan mendapat rahmat Allah Swt." Imam Musa juga berkata, "Amanat dan kejujuran mendatangkan rejeki, sedangkan pengkhianatan dan kebohongan menyebabkan kemiskinan." Dalam perkataan mutiara lainnya, Imam Musa as berkata, "Barangsiapa yang menahan marah kepada masyarakat akan dilindungi Allah Swt dari siksaan di hari kiyamat."

Wasiat Imam Musa Ibn Ja'far Al Khadzim As


Wasiat Imam Musa bin Ja'far Al Khadzim as kepada Hisyam bin Hakam

- Tentang Pentingnya Akal

Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah berfirman di dalam Kitab-Nya, 'Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati.' (QS. Qaf: 37) Yaitu yang dimaksud adalah akal.

'Dan sesungguhnya Kami telah berikan hikmah kepada Lukman.' Yaitu yang dimaksud adalah akal.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Lukman telah berkata kepada anaknya, 'Tunduklah kamu kepada kebenaran, niscaya kamu menjadi manusia yang paling berakal. Sesungguhnya kecerdasan amat mudah bagi orang yang memiliki kebenaran. Wahai anakku, sesungguhnya dunia adalah lautan yang dalam. Sungguh telah banyak sesuatu yang karam di dalamnya. Maka jadikanlah ketakwaan kepada Allah sebagai perahumu, bahan bakarnya adalah iman, layarnya adalah tawakkal, nahkodanya adalah akal, kompasnya adalah ilmu, dan para penumpangnya adalah sabar.'

Wahai Hisyam, sesungguhnya segala sesuatu mempunyai tanda. Adapun tandanya akal adalah berpikir, dan tandanya berpikir adalah diam. Dan, sesungguhnya segala sesuatu mempunyai tunggangan, adapun tunggangan akal adalah tawadu. Cukup merupakan kebodohan bagimu, kamu menunggangi sesuatu yang kamu dilarang menungganginya.

Wahai Hisyam, tidaklah Allah mengutus para nabi dan rasul-Nya kepada hamba-hamba-Nya melainkan supaya mereka mengenal Allah. Sesungguhnya orang yang paling baik penerimaannya di antara mereka adalah orang yang paling baik makrifahnya, dan orang yang paling mengetahui perintah Allah di antara mereka adalah orang yang paling baik akalnya, serta orang yang paling sempurna akalnya di antara mereka adalah orang yang paling tinggi derajatnya didunia dan di akhirat.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah mempunyai dua hujjah atas manusia. Yaitu hujjah yang tampak dan hujjah yang tidak tampak. Adapun hujjah yang tampak ialah para rasul, para nabi dan para imam, sedangkan hujjah yang tidak tampak adalah akal.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal adalah orang yang rasa syukurnya tidak disibukkan oleh sesuatu yang halal, dan kesabarannya tidak dibelenggu oleh yang haram.

Wahai Hisyam, barangsiapa yang memenangkan sesuatu yang tiga atas sesuatu yang tiga yang lain, maka berarti dia telah membantu hawa nafsunya untuk menghancurkan akalnya:

  • Barangsiapa yang menggelapkan cahaya pikirnya dengan panjang angan-angannya,
  • Barangsiapa yang menghapus kata-kata hikmahnya dengan kata-kata sia-sianya
  • Barangsiapa yang memadamkan cahaya pelajarannya dengan syahwat dirinya,
maka :
  • Berarti dia telah membantu hawa nafsunya untuk menghancurkan akalnya.
  • Barangsiapa yang menghancurkan akalnya maka berarti dia telah merusak agama dan dunianya.

Wahai Hisyam, bagaimana mungkin amal perbuatanmu bisa berkembang di sisi Allah, sementara hatimu lalai dari perintah-Nya, dan engkau mentaati hawa nafsumu yang hendak menguasai akalmu.

Wahai Hisyam, sabar dalam kesendirian merupakan tanda kekuatan akal. Barangsiapa yang mengenal Allah maka dia akan menyingkir dari ahli dunia dan orang orang yang mengharapkannya, serta hanya mengharapkan apa-apa yang ada di sisi Allah; sementara Allah akan menjadi temannya di dalam ketakutan, menjadi sahabatnya di dalam kesendirian, akan mencukupkannya di dalam kemiskinan, dan akan melindunginya dengan tanpa bantuan keluarga besar.

Wahai Hisyam, kebenaran ditegakkan untuk mentaati Allah, dan tidak ada keselamatan kecuali dengan ketaatan. Ketaatan itu ditegakkan dengan ilmu, ilmu itu dengan belajar, dan belajar itu dengan akal. Selanjutnya, tidak ada ilmu kecuali dari 'alim rabbani, dan mengetahui ilmu itu dengan akal

Wahai Hisyam, amal yang sedikit dari orang yang berilmu diterima dengan berlipat ganda, sementara amal yang banyak dari orang yang memperturuti hawa nafsu dan orang yang bodoh ditolak.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal rida bersama hikmah dengan tanpa dunia, namun tidak rida bersama dunia dengan tanpa hikmah, maka oleh karena itu perniagaan mereka beruntung.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal meninggalkan dunia yang berlebihan, apalagi dengan dosa. Mereka meninggalkan dunia sebagai sesuatu yang utama, dan meninggalkan dosa sebagai sesuatu yang wajib.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal melihat kepada dunia dan kepada ahlinya, lantas mereka mengetahui bahwa dunia tidak dapat digapai kecuali dengan kesulitan, kemudian mereka pun melihat kepada akhirat, lalu mereka mengetahui bahwa akhirat pun tidak dapat digapai kecuali dengan kesulitan, maka mereka pun mencari salah satu yang paling kekal di antara keduanya.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang-orang yang berakal, mereka meninggalkan kesenangan dunia dan mengharapkan kesenangan akhkat. Karena mereka tahu bahwa dunia adalah sesuatu yang mencari dan sesuatu yang dicari, dan demikian juga akhirat adalah sesuatu yang mencari dan sesuatu yang dicari. Barangsiapa yang mencari akhirat, maka dunia akan mencarinya, sehingga terpenuhi rejekinya; dan barangsiapa yang mencari dunia, maka akhirat akan mencarinya, sehingga ajal menjemputnya, sehingga dengan begitu rusaklah dunia dan akhiratnya.

Wahai Hisyam, barangsiapa yang menginginkan kekayaan tanpa harta, kenyamanan hati dari hasud, dan keselamatan di dalam agama, maka hendaklah dia merendahkan diri kepada Allah SWT di dalam menghadapi masalahnya dengan menyempurnakan akalnya. Barangsiapa yang berakal maka dia akan merasa puas dengan sesuatu yang mencukupkannya, dan barangsiapa yang merasa puas dengan sesuatu yang mencukupkannya maka dia telah kaya. Barangsiapa yang tidak merasa puas dengan apa yang mencukupkannya maka dia tidak akan menggapai kekayaan selamanya.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah menceritakan bahwa kaum yang saleh berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakan lah kepada kami rahmat dari sisi Engkau' (QS. Ali Imran: 8), manakala mereka mengetahui hati mereka menyimpang dan kembali kepada kebutaannya.
Sesungguhnya tidak takut kepada Allah orang yang tidak mengetahui tentang Allah. Dan orang yang tidak mengetahui tentang Allah, hatinya tidak akan berdiri di atas makrifah yang kokoh, dan juga tidak akan menemukan hakikat makrifah di dalam hatinya. Tidaklah seseorang demikian kecuali orang yang ucapannya sejalan dengan perbuatannya dan batinnya sesuai dengan zahirnya.

Wahai Hisyam, Amirul Mukminin as telah berkata, Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama dari akal. Dan, tidaklah sempurna akal seseorang sehingga pada dirinya terdapat beberapa sifat berikut: Kekufuran dan kemusyrikan terjaga darinya, petunjuk dan kebaikan diharapkan darinya, kelebihan hartanya dikorbankan, ke-utamaan pembicaraannya terjamin, dan bagiannya dari dunia hanyalah makanan pokok. Dia tidak pernah merasa kenyang dengan ilmu selamanya. Kehinaan bersama Allah lebih dia cintai dibandingkan kemuliaan bersama selain-Nya. Ketawaduan lebih dia cintai dibandingkan kebesaran. Dia menganggap banyak sedikit kebajikan yang berasal dari orang lain, dan menganggap sedikit banyak kebajikan yang berasal dari dirinya. Dia melihat seluruh manusia lebih baik dari dirinya, sementara dia melihat dirinya sebagai manusia yang paling jelek di antara manusia yang ada.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal tidak akan berdusta, meski pun di dalam dusta itu terdapat kepentingannya.

Wahai Hisyam, tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki kekesatriaan, dan tidak ada kekesatriaan bagi orang yang tidak memiliki akal. Sesungguhnya manusia yang paling besar nilainya adalah orang yang tidak melihat dunia sebagai kehormatan dirinya. Ingatlah, sesungguhnya dirimu tidak mempunyai harga yang sesuai kecuali surga, maka oleh karena itu janganlah engkau menjualnya dengan selainnya.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Amirul Mukminin as berkata, 'Sesungguhnya tanda orang yang berakal adalah tiga sifat berikut: Menjawab manakala ditanya, berbicara manakala orang lain sudah tidak mampu lagi bicara, dan memberikan pandangan yang menggambarkan kesalehan orang yang memiliki pandangan tersebut. Barangsiapa yang pada dirinya tidak ada satu pun salah satu dari ketiga sifat tersebut maka dia itu orang pandir.'

Sesungguhnya Amirul Mukminin as berkata, Tidaklah duduk di bagian depan majlis kecuali seorang laki-laki yang memiliki ketiga sifat di atas, atau salah satu darinya. Barangsiapa yang pada dirinya tidak ada satu pun dari ketiga sifat di atas, lalu dia duduk di majlis, maka dia itu orang pandir.'

Hasan bin Ali telah berkata, 'Jika engkau meminta kebutuhan maka mintalah dari pemiliknya.' Kemudian orang-orang bertanya, 'Wahai putra Rasulallah saw, siapakah pemilik kebutuhan tersebut?'

Hasan bin Ali menjawab, 'Yaitu orang-orang yang telah Allah SWT ceritakan di dalam Kitab-Nya. Allah SWT berfirman, 'Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.' (QS. az-Zumar: 39).

Hasan bin Ali berkata lebih lanjut, 'Mereka itu adalah orang-orang yang berakal.'

Ali bin Husain telah berkata, 'Duduk bersama orang-orang yang saleh akan mendorong kepada kebajikan. Bersopan santun kepada para ulama akan menambah akal. Taat kepada pemimpin yang adil merupakan puncak kemuliaan. Mengambil manfaat harta merupakan sesempurna-sempurnanya kekesatriaan. Memberi petunjuk kepada orang yang meminta nasihat merupakan pelaksanaan kewajiban nikmat. Dan menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain merupakan kesempurnaan akal, yang di dalamnya terkandung kenyamanan badan, baik segera maupun lambat.'

Rabu, 10 Juni 2009

Perbedaan Fatwa Imam Khomeini qs dan Ayatullah Ali Khamenei hf



BAB TAQLID

1. Imam Khumaini (qs): Wajib bertaqlid kepada seorang Mujtahid lelaki, baligh, berakal, syiah 12 imam (dari kalangan para maksum Ahlul-Bait Nabi besar Muhammad saw), dan dari keturunan pernikahan yang halal (bukan anak penzina), masih hidup dan adil serta Ihtiat wajib hendaklah bertaqlid kepada seorang mujtahid yang tidak tamak kepada duniawi dan lebih berilmu (A’lam) dari para mujtahid yang ada sezaman dengannya.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Sekiranya terdapat beberapa orang faqih yang memiliki semua persyaratan (wajidu-syara’it), dan mereka berbeda dalam fatwa, maka berdasarkan Ihtiat wajib, mukallaf harus mengikuti fatwa faqih yang A’lam, kecuali jika didapati kejelasan bahwa fatwanya bertentangan dengan ihtiat, sedang fatwa yang tidak a’lam justru sesuai dengan ihtiat, di keadaan demikian tidak wajib bertaklid kepada A’lam.

2. Imam Khumaini (qs): Mujtahid yang lebih berilmu dari para mujtahid yang lain adalah seorang yang lebih mengetahui kaidah-kaidah dan dalil-dalil permasalahan syar’i dan mempunyai pengetahuan yang luas terhadap segala pendapat mengenai peristiwa dan berita masalah itu, kesimpulannya beliau lebih mahir dan pakar dalam beristinbat (penyimpulan/mengeluarkan hukum syar’i suatu perkara dari sumber-sumbernya).
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Sekiranya terdapat beberapa orang faqih yang memiliki semua persyaratan (wajidu-syara’it), dan mereka berbeda dalam fatwa, maka berdasarkan Ihtiat wajib, mukallaf harus mengikuti fatwa faqih yang A’lam, kecuali jika didapati kejelasan bahwa fatwanya bertentangan dengan ihtiat, sedang fatwa yang tidak a’lam justru sesuai dengan ihtiat, di keadaan demikian tidak wajib bertaklid kepada A’lam.

3. Imam Khumaini (qs): Tidak dibenarkan memulai taqlid kepada seorang mujtahid yang telah meninggal dunia.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Pada taqlid permulaan, Ihtiatnya bertaqlid kepada mujtahid yang hidup dan A’lam hendaknya tidak boleh ditinggalkan .

BAB TAHARAH/ PENYUCIAN

1. Imam Khumaini (qs): Ukuran air kur berdasarkan satuan kilo-gram yang dikenal paling dekat seukuran 377/419 kilogram.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf) : Ukuran air kur paling dekat seukuran 384 liter.

2. Soal: Bagaimana cara berhubungan dengan ahli kitab dari segi taharat?.
Imam Khumaini (qs Jawab: Orang bukan Islam dari kalangan agama dan aliran apapun, dihukumi najis.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf) : Najis secara zatinya ahli kitab tidak pasti adanya dari itu menurut pandangan kami, mereka dihukumi suci secara zati. Yang dimaksud Ahli kitab yaitu penganut Agama yahudi, kristen, Zoroaster dan shaabi’in.

3. Imam Khumaini (qs): Tai burung yang dagingnya haram dimakan adalah najis.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf) : Tai burung yang dagingnya haram dimakan adalah tidak najis.

4. Imam Khumaini (qs Darah yang terlihat di dalam telur adalah tidak najis, tetapi berdasarkan ihtiat wajib hendaklah menghindari dari memakannya, dan jika darah itu dikocok dengan kuning telur sehingga menghilang dalam campurannya, maka tiada halangan memakan kuning telur itu.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf) : Darah yang terlihat di dalam telur dihukumi suci namun haram dimakan.
5. -Soal: Apakah suci atau najiskah kulit-kulit binatang yang diimport dari luar Negri dan digunakan untuk membuat sepatu dan sebagainya?
Imam Khumaini (qs Jawab: Kulit yang dibawa masuk dari negara-negara Islam dianggap suci kecuali terbukti bahwa penyembelihannya tidak dilakukan berdasarkan hukum syar’i, dan kulit-kulit yang di datangkan dari Negara-negara non muslim maka dihukumi najis kecuali telah didapat kejelasannya bahwa binatang itu disembelih secara syar’i.

- Soal: Kulit haiwan ataupun bahagian badan haiwan yang dihasilkan dan disediakan daripada negara bukan Islam pada pendapat anda, apakah hukumnya?
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Jawab: Jika kalian memberi kemungkinan haiwan tersebut disembelih secara syariat Islam, hukumnya suci tetapi jika kalian yakin penyembelihan tidak secara syariah Islam maka hukumnya najis.

6. Imam Khumaini (qs : Arak dan apa saja yang memabukan manusia, jika mencair adalah najis.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Semua minuman yang memabukan, berdasarkan hukum ihtiat dihitung najis .

7. Imam Khumaini (qs : Sesuatu terkena benda najis sehingga ia menjadi najis, jika sesuatu yang terkena najis itu mengenai sesuatu benda suci yang lain, maka benda itupun menjadi najis, hingga tiga benda menengarai sentuh-menyentuh ini menyebabkan benda-benda itu menjadi najis, tetapi lebih dari itu tidak menyebakan najis lagi.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf):: Benda yang terkena ainun-najis sehingga ia menjadi najis (mutanajis pertama), jika terkena pada benda suci lain yang salah satu dari keduanya lembab maka benda suci itu juga menjadi najis, dan benda kedua ini (mutanajis kedua) juga jika terkena benda suci ketiga, maka berdasarkan ihtiat wajib juga dihitung menjadi najis, tetapi mutanajis yang ketiga jika bersentuh dengan benda suci berikut, maka tidak menajiskannya.

8. Imam Khumaini (qs : Perabot dapur/ alat-alat seperti priuk, pinggan, ember dll yang terkena jilatan Anjing atau Anjing meminum benda cair dari dalamnya, maka pertama disucikan dengan menggosokan tanah keatasnya, kemudian berdasarkan ihtiat wajib dua kali dicuci dalam air kur atau air yang sedang mengalir atau dengan air kurang dari satu kur( air qalil/sedikit), demikian juga tempat-tempat yang terkena tetesan air liur Anjing, berdasarkan ihtiat wajib sebelum di cuci dengan air hendaknya digosok dahulu dengan tanah.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Perabot dapur/ alat-alat seperti priuk, pinggan, ember dll yang Anjing meminum air atau benda cair dari dalamnya, atau Anjing menjilatinya, hendaknya pertama; dicuci dengan menggosokan tanah keatasnya, kemudian disiram dengan air, jika menggunakan air qalil maka disiram dua kali setelah menggosokannya dengan tanah.

9. Imam Khumaini (qs : Perabot dapur/ alat-alat seperti priuk, pinggan, ember dll yang Babi meminum benda cair dari dalamnya, maka hendaknya dicuci dengan air qalil sebanyak tujuh kali, berdasarkan ihtiat wajib dengan air kur tujuh kali, atau dengan air mengalir sebanyak tujuh kali, dan tidak perlu digosok dengan tanah, sekalipun ihtiat mustahab menggosokannya terlebih dahulu dengan tanah, demikian berdasarkan ihtiat wajib jilatan babi terkategori juga sebagai bekas ia meminum air darinya.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Perabot dapur/ alat-alat seperti priuk, pinggan, ember dll yang Babi memakan makanan berbentuk cairan atau meminum air dari dalamnya, maka hendaknya dicuci sebanyak tujuh kali, dan tidak perlu digosok dengan tanah.

10. Imam Khumaini (qs : Untuk menyucikan tapak kaki atau tapak sepatu lebih baik berjalan di atas tanah sebanyak 15 tapak atau melangkah lebih dari itu, walaupun kurang dari 15 langkah atau dengan menggosokannya ke atas tanah sudah bisa menghilangkan najis.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Seseorang yang disebabkan berjalan di atas tanah, tapak kaki atau tapak sepatu terkena benda najis, sehingga menjadi najis, maka ketika ia melangkah kira-kira 10 langkah keatas tanah yang kering dan suci maka tapak kaki atau sepatunya yang terkena najis tadi menjadi suci, namun dengan syarat ainun najisnya sudah hilang terlebih dahulu.

11. Imam Khumaini (qs : Sinar matahari dapat menyucikan lantai tanah, bangunan dan segala sesuatu yang digunakan dalam pembangunan seperti: pintu, jendela, demikian juga paku yang tertancap di dinding dan dihitung sebagai bagian dari bangunan, dengan memiliki enam syarat yaitu:
- pertama, Benda yang terkena najis harus berada dalam keadaan lembab/berair yang sekiranya benda lain menyentuhinya maka benda lain itu pun akan menjadi lembab, jika benda najis itu kering maka terlebih dahulu dilembabkan supaya sinar matahari dapat mengeringkannya. Kedua, jika ain/benda najis berada di atas perangkat bangunan, maka sebelum sinar matahari menembusinya hendaknya mesti dihilangkan terlebih dahulu ainun-najisnya. Ketiga, Hendaknya diatas benda-benda bangunan yang terkena najis tidak ada penghalang tertembusnya sinar Matahari ke atasnya, jika sinar Matahari dibalik tirai mengeringkan benda-benda najis tsb, maka itu belum dapat menyucikannya, namun jika awan seukuran tipis tidak menghalangi tembusan sinar matahari maka tidak apa-apa. Keempat, hendaknya sinar Matahari saja yang menyebabkan keringnya benda mutanajis tesebut, jadi jika sesuatu yang terkena najis dengan perantaraan angin bersama sinar Matahari, maka itu tidak dianggap telah menyucikannya, tetapi jika angin seukuran kecil yang tidak dikatakan membantu dalam pengeringan benda mutanajis, maka tidak apa-apa. Kelima, Sinar Matahari hendaknya dalam satu kali telah dapat mengeringkan benda mutanajis tsb, jika pancaran sinar Matahari satu kali telah dapat mengeringkan bagian atas benda mutanajis itu, sedang pada kali kedua bagian bawah yang dikeringkannya maka, hanya bagian atas saja yang sudah tersucikan sedangkan bagian bawah tetap dalam keadaan najis. Ke-enam, bagian tengah antara atas tanah atau atas bangunan yang dikenai oleh pancaran sinar Matahari dengan bagian dalamnya hendaknya tidak ada benda suci yang menengahinya.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Sinar matahari dapat menyucikan lantai tanah dan bangunan, demikian juga segala sesuatu yang dihitung menjadi bagian suatu bangunan seperti: pintu, jendela, tembok, tiang-tiang, dan yang serupa dengannya, demikian juga pohon dan tetumbuhan. Syarat tersucikannya oleh sinar matahari benda-benda yang disebutkan adalah hendaknya ainun-najis yang ada pada benda-benda tersebut dihilangkan terlebih dahulu, benda yang terkena najis harus berada dalam keadaan lembab/berair, sinar matahari memancar kepadanya, dan dengan perantaraan sinar mataharilah benda itu menjadi kering.

12. Imam Khumaini (qs : Jika badan hewan berlumuran ainun-najis seperti darah, atau benda yang menyebakan ia bernajis seperti air najis, sekiranya najis tersebut dihilangkan maka badan hewan menjadi suci, demikian juga bagian dalam badan manusia seperti dalam mulut dan hidung, misalnya darah keluar dari sela-sela gigi lalu darah menghilang di dalam mulut, maka menyiramkan air kedalam mulut tidak perlu tetapi jika gigi palsu terkena najis dalam mulut, maka berdasarkan ihtiat wajib hendaknya disiramkan air kepadanya.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Jika badan hewan berlumuran ainun-najis, dengan terhilangnya ainun-najis, maka badan hewan menjadi suci tidak perlu menyiramnya dengan air, demikian juga bagian dalam badan manusia seperti dalam mulut dan hidung dengan syarat sesuatu najis dari luar tidak mengenainya, maka darah yang keluar dari gigi, jika darah itu bercampur dengan air liur menyebabkan terhilangnya maka mulut menjadi suci.

13. Imam Khumaini (qs : Menghilangnya seseorang dapat menyebabkan dianggap sucinya sesuatu yang terkena najis yang digunakan olehnya, seperti kesucian badan dirinya atau orang lain, pakain, permadani, tempat yang digunakanya untuk bermuamalah, kecuali kita tau pasti masih bernajisnya benda-benda itu setelah kepergiannya, namun ada kemungkinan tidak ada syarat yang dapat menguatkan hal itu, dari itu hukum kesuciannya tetap bisa diterapkan, baik ia seorang yang tidak menyadari adanya najis atau tidak, berkepercayaan terkenanya benda itu dengan najis atau tidak, ia sebagai orang tidak peduli terhadap agama atau berpeduli. Namun walau demikian dalam segala bentuk apapun berihtiat adalah sikap terpuji.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Setiap kali ada rasa yakin terhadap badan, pakaian atau salah satu dari benda-benda milik pribadi seorang muslim terkena najis, dan orang muslim itu dalam beberapa masa tidak kelihatan lagi, lalu kemudian ia dilihat kembali dengan memberlakukan benda-benda yang terkena najis itu sebagaimana benda suci adanya, maka benda-benda yang diyakini terkena najis itu dihukumi suci, namun dengan syarat pemilik benda itu mengetahui benda-benda itu sebelumnya telah bernajis dan juga ia mengetahui ahkam bersuci dan kenajisan.

14. Imam Khumaini (qs : Jika benda yang terkena najis setelah dihilangkan ainun-najisnya, dicelupkan kedalam air yang berukuran kur atau air mengalir dengan satu celupan telah dapat menyampaikan air keseluruh bagian benda terkena najis itu maka benda itu menjadi suci. Dan ihtiat wajib ketika mencelupkan permadani, pakain dan yang serupa dengan itu hendaknya memeras atau menggerakannya sehingga air yang diserapnya dapat terkeluar
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Benda yang terkena najis, jika setelah dihilangkan ainun-najisnya, dicelupkan satu kali kedalam air yang berukuran kur atau air mengalir atau meletakannya dibawah kran air yang bersambung dengan air yang berukuran kur dalam bentuk dimana air mengenai keseluruh bagian yang terkena najis maka benda itu menjadi suci. Dan untuk permadani, pakain dan yang serupa dengan itu berdasarkan ihtiat hendaknya setelah dicelupkan kedalam air diperas atau digoncang-goncangkan.

15. Imam Khumaini (qs : Tempat keluarnya kencing/Qubul selain air tidak dapat mensucikannya, bagi laki-laki dengan menyiramkan air satu kali sudah cukup, tetapi bagi perempuan dan bagi mereka yang terkeluar kencingnya bukan dari tempat kebiasaan alamiahnya, ihtiat wajib untuk menyiramnya dua kali.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Untuk membersihkan tempat keluar air kecil/ Qubul berdasarkan ihtiat perlu dua kali dicuci dengan air qalil, dan untuk mebersihkan tempat keluarnya air besar/tai mesti dibasuh sehingga ainun-najis dan bekas-bekasnya menghilang.

16. Imam Khumaini (qs : Di setiap waktu menggunakan satu batu atau gumpalan tanah keras, telah dapat menghilangkan air besar dari tempat keluarnya/dubur, sekalipun kesuciannya masih diragukan, namun tetap tidak menghalangi untuk dapat melakukan salat, bahkan sekiranya disentuhi oleh sesuatu yang lainpun tidak akan menajiskannya, walaupun tempat itu masih bercak-bercak dan sangat lekat-plikat, jadi tidak perlu dengan tiga batu atau dengan tiga kain pengusap untuk mensucikannya, tetapi jika dengan satu kali saja telah dapat menghilangkannya maka mencukupinya.
Rahbar Ayatullah Ali Khamenei (hf): Tempat keluar air besar/dubur dapat disucikan dengan dua cara:
Pertama: Mencucinya dengan air mutlaq sehingga najis menghilang, dan setelah hilangnya ainun-najis maka tidak perlu meyiramnya dengan air untuk kedua kalinya.
Kedua: Menghilangkan ain-nun-najisnya dengan menggunakan tiga butir batu atau tiga helai kain suci atau yang serupa dengannya, dan jika dengan tiga batu tidak dapat menghilangkan ainun-najisnya maka disucikan secara sempurna dengan beberapa butir yang lain dan dapat menggantikan tiga butir batu dengan menggunakan tiga sudut dari satu batu atau tiga bagian dari satu helai kain.

Kamis, 02 April 2009

Blog Islam yang mana????

Ini adalah blog-blog yang biasa memuat perdebatan, kritikan dan kadang ada yang senang ada yang pro ada yang kontra, poko e..selamat menikmati, dan terserah pengunjung blog untuk menilai...semoga Islam selalu jaya ..dan keberadaan blog-blog ini menambah wacana kita untuk menambah ilmu agama Islam kita..InsyaAllah... :

http://jakfari.wordpress.com/2007/08/ >>>> Blog Islam Syi'ah
http://haulasyiah.wordpress.com/category/ibnu-taimiyyah/<<<< Blog Islam Wahabi
http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/05/ >>>> Blog Islam Sunni

Rabu, 01 April 2009

Ayatullah Sistani meminta penjelasan Raja Abdullah




Ayatullah Sistani seorang marja' besar di Iraq dalam kontak telefon dengan Raja Abdullah menuntut dibebaskanya beberapa orang Syiah yang ditahan sehubungan peristiwa berdarah di Baqi', Madinah. Belaiu juga meminta pertanggung-jawaban dari Raja Abdullah. Wartawan Fars menukil dari portal Al Hiwar bahwa Sayyid Jawad Shahristani, menantu dan wakil mutlak Ayatullah Sayyid Ali Sistani mengatakan bahwa hubungan telefon ini merupakan langkah yang langka yang pernah diambil oleh seorang tokoh agama di Iraq sehingga dapat berhubungan dengan tokoh puncak kerajaan Saudi. Sebagai reaksi dari perbincangan itu, Raja Abdullah meminta petugas untuk segera membebaskan puluhan tahanan yang bersangkutan.

Para tertahan adalah sejumlah orang Syiah yang diserang kelompok Wahabi ketika sedang berziarah di Baqi, Madinah. Mereka sempat dimaki dan dipukul serta dilukai.